Ulasan Buku: Rumah Tanpa Jendela + Giveaway

Edited by Me

Aku bertanya-tanya adakah rak novel islami di toko buku pada 20 tahun lalu? Pertanyaan yang tercetus usai membaca artikel hasil diskusi "Posisi Sastra Populer dalam Wacana Kesusastraan Indonesia". Pada artikel tersebut diterangkan bahwa fiksi populer islami baru hadir pada era 2000-an. Jauh sebelumnya, sastra populer era 60'-an banyak mengangkat tema seks dan pada kurun 70'-an sampai 90'-an tema percintaan remaja kota yang memarak. Beberapa hari lalu, ketika mengunjungi Toko Buku Togamas Affandi, aku melihat tidak hanya satu rak buku berlabel novel islami. Semakin mendekat, aku melihat satu deretan buku dengan sampul poster film yang mana menjelaskan secara gamblang bahwa buku-buku tersebut telah diangkat ke layar lebar. Semakin mendekat lagi, kesemuanya adalah buah karya Asma Nadia. Dari "Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea" sampai "Surga yang Tak Dirindukan".

Desember lalu, aku meminta Cantini Cucum, panelis diskusi yang kusebutkan di atas, menulis ulasan "Ayat-Ayat Cinta 2" karya Habiburrahman El Shirazy untuk Jurnal Ruang. Ide awalnya adalah rilisnya adaptasi film dari novel tersebut pada bulan itu sembari mengetes pembaca tentang ketertarikan mereka seputar fiksi populer islami yang belum pernah diangkat sebelumnya. Ternyata, sambutannya lumayan besar. Pada ulasan yang diberi judul "Pos-Islamisme dalam Ayat-Ayat Cinta 2", Cantini tidak hanya menjabarkan secara detail tentang novel tersebut, tetapi juga menjabarkan asal-usul fiksi nuansa islami pada satu paragraf. Ia berpendapat bahwa mencuatnya fiksi pop islami merupakan dampak lahirnya Forum Lingkar Pena. Usut punya usut, komunitas penulis dan pencinta dunia literasi terbesar di Indonesia itu didirikan oleh kakak-beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia.

Nama Asma Nadia sudah harum dengan karya-karya fiksi pop islaminya. Nyatanya, ia telah menulis lebih dari 50 buku dan sebagian besar bernuansa islami. Harumnya semakin semerbak ketika satu per satu karyanya diangkat menjadi film. Aktor dan aktris papan atas telah membintangi beberapa film adaptasi buku-bukunya dan, nyatanya, laris manis. Sebut saja "Surga yang Tak Dirindukan" dan sekuelnya yang masing-masing sudah menyita lebih dari 1.500.000 pasang mata. Sayangnya, aku sama sekali belum membaca karyanya pun menonton film adaptasi karyanya. Hingga pada satu hari aku melihat ada tawaran mengulas "Rumah tanpa Jendela" di akun Twitter @bukurepublika. Setelah menilik beberapa ulasan buku itu dan mendapati rating-nya tinggi, aku memberanikan diri untuk mengajukan diri.

Judul : Rumah tanpa Jendela
Pengarang : Asma Nadia
Penerbit: Republika
Tahun : 2017

Pertimbangan pertama dan paling utama saat mengajukan untuk mengulas sebuah buku adalah jumlah halaman. Maka ketika dihubungi oleh editor Penerbit Republika, aku langsung merespons dengan bertanya hal itu. "Rumah tanpa Jendela" hanya setebal 200 halaman lebih sedikit. Sampulnya yang memiliki warna dasar hijau campur biru memberikan penyegaran dan memberikan kesan bahwa buku ini adalah buku yang baru pertama kali terbit. Padahal, buku ini sudah pernah diterbitkan sebelumnya bahkan juga sempat difilmkan pada 2011 sebagai film drama/musikal anak-anak yang dibintangi oleh Raffi Ahmad, Yuni Shara, hingga Maudy Ayunda. Ujar beberapa ulasan, buku ini adalah buah hasil pengembangan cerpen karya Asma Nadia dengan judul yang sama. Jadi, sebenarnya alur medium karya "Rumah tanpa Jendela" seperti ini: cerpen, lalu diadaptasi menjadi film, lalu dibuatkan novelnya.

Rara, gadis 8 tahun, cuma ingin satu keinginan, yaitu jendela di rumahnya. Sayangnya, ia bersama orang tuanya hidup di perkampungan kumuh yang mana setiap rumahnya tidak memiliki jendela. Boro-boro jendela, punya tempat berteduh saja sudah bagus. Apakah keinginan Rara akan terkabul?

Ide cerita sebenarnya sederhana. Dengan pengembangan di sana-sini, ketika membandingkan dengan cerpen yang juga dimaktubkan pada bagian akhir buku ini, banyak tokoh-tokoh baru yang juga krusial. Sayangnya, aku tidak begitu suka dengan gaya ceritanya yang tidak runtut waktu. Ketika membaca per bab, aku melihat konten isinya benar-benar adalah penjabaran dari judul bab tersebut. Seperti misalnya pada bab "Doa yang Tak Diminta", Rara menjelaskan kehadiran teman laki-lakinya bernama Aldo dan bagaimana Rara dan teman-temannya bisa bermain di rumah Aldo yang besar dan memiliki banyak jendela. Bentuk cerita semacam ini akan lebih pas untuk kisah-kisah yang diselipkan pada buku-buku nonfiksi. Kenikmatan membaca karya fiksi tanpa runut waktu akan mengurangi mendalami konteks cerita yang dibuat. Aku jadi bertanya-tanya apakah seperti ini gaya cerita Asma Nadia dalam karya-karyanya yang lain.


Giveaway!

Terlepas komentar soal gaya cerita sebuah buku yang amat relatif dan tergantung selera, "Rumah tanpa Jendela" menjadi karya Asma Nadia bisa jadi ragam bahan bacaanmu. Dengan pengemasan yang segar, buku ini seperti memanggil-manggil untuk segera dipunyai dan dibaca. Beruntunglah kamu yang membuka tautan ini karena kamu memiliki kesempatan untuk mendapatkan satu kopi "Rumah tanpa Jendela" edisi terbaru. Bagaimana caranya?


  1. Ikuti akun Twitter @bukurepublika (wajib) dan @raafian (opsional).
  2. Bagikan tautan giveaway ini via akun media sosialmu dengan mention akun di atas.
  3. Adakah karya Asma Nadia yang sudah kamu baca? Berikan jawaban serta penjelasanmu pada kolom komentar di bawah dengan menyertakan Akun Twitter, kota domisili, dan tautan share tweet kamu.
  4. Giveaway ini berakhir pada 11 Januari 2018. Pengumuman pemenang sehari setelahnya.

Semoga beruntung!

***

Update!

Untuk giveaway dengan waktu hanya empat hari, pesertanya cukup banyak. Berikut adalah yang beruntung mendapatkan satu kopi "Rumah tanpa Jendela" karya Asma Nadia. Pemenang dipilih secara acak ya.

Nabilah Afro Nida (@nabilah_afro)

Silakan kirimkan data diri (nama, alamat lengkap, kode pos, dan nomor telepon) via oughmybooks (at) gmail (dot) com. Terima kasih atas partisipasi teman-teman dan terima kasih pula kepada penerbit. Sampai jumpa pada blog tour dan giveaway Bibli selanjutnya!

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats