Tuhan Tidak Makan Ikan dan cerita lainnya by Gunawan Tri Atmodjo

Justaveragereader.blogspot.com


Paperback 244 pages
Published by DivaPress, May 1, 2016
Rating 3/4

Cukup lama untuk menyelesaikan baca kumcer yang ini, berbeda dari kumcer Gunawan Tri Atmodjo sebelumnya, Dongeng dari Sebelah Telinga. Maklum saja, buku sebelumnya saya diminta mereview sekaligus menjadi blog host giveaway hehehe... Tapi memang sih, yang ketika membaca buku satu ini, saya sedang sibuk ini dan itu. Jadi, yah butuh berminggu-minggu untuk menyelesaikan kumcer ini. Ahzeeekkk...

 Buku ini dibuka dengan kata pengantar dari sastrawan Triyanto Triwikromo, tapi karena saya sudah punya stigma kurang suka dengan nama itu, jadi, ya skip saja bagian pengantarnya. Takutnya, saya sudah siap ngikik dengan kisah-kisah di dalam kumcer ini, tapi baca tulisan dari Triyanto malah bikin saya pusing :D Ada 23 cerpen dalam buku ini. Dibuka dengan Cara Mati yang Tidak Baik bagi Revolusi sudah membuat saya merinding kesenangan dengan ending yang bikin ngakak. Umbel oh umbel... 😁😁😁😁 Istri Pengarang juga sangat menghibur dengan latar belakang seorang penulis dengan tulisan menyerempet eue. Saya jadi berpikir beberapa kali jika nanti saya jadi membuka semacam mini library di rumah, untuk memasang buku ini di rak atau tidak. Dan topik 17+ tidak hanya di satu cerita itu saja. Legenda Sepasang Pria dan Riwayat Sempak bikin saya geleng-geleng akan ide liar penulis. Sayangnya membuat saya kurang nyaman. Dua yang lainnya mungkin sedikit berhubungan, atau paling tidak diambil dari ide yang sama, Tentang Prawiro Oetomo dan Palonthen dan Cabe-cabean Berkalung Tasbih. 

 Cerpen yang menjadi judul buku ini justru menurut saya kurang menggigit, sama seperti kumcer Dongeng dari Sebelah Telinga. Judulnya memang sangat menjual, sayangnya saya kurang menikmati kisahnya. Dari sekian puluh cerpennya, saya justru menikmati Sliciminguk, Imam Ketiga, dan Kalender, Undangan Nikah dan Puisi. Dari ketiga cerpen itu, saya yakin itu bisa jadi pengalaman pribadi si penulis karena Sliciminguk dan Kalender blablabla itu berlatar belakang tentang kepenulisan. Seorang penulis pasti sedikit banyak menulis tentang dirinya sendiri.

Secara keseluruhan, saya masih sangat menikmati cerpen-cerpen karya Gunawan Tri Atmodjo, dan masih mau untuk menikmati karyanya yang lain.   Saya masih penasaran dengan kumcernya yang berjudul Pelisaurus, yang lebih saru dan gila dari yang ini. Katanya sih 😁😁😁

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats