Truly Madly Guilty — by Liane Moriarty

Judul: Truly Madly Guilty
Pengarang: Liane Moriarty
Penerbit: Macmillan Australia
ISBN: 9781925479928
Format: ebook
Jumlah halaman: 300

Rating: 4 of 5 stars

Six responsible adults.
Three cute kids.
One small dog.

It's just a normal weekend. What could possibly go wrong?

Seharusnya nggak ada. Tapi ternyata banyak. BANYAK, sodara-sodara! Dan itulah yang menjadi daya tarik novel ini. Liane Moriarty mengupas tuntas kehidupan tiga pasangan suami-istri yang dari luar tampak bahagia, namun seperti yang kita semua tahu (well, kita di sini maksudnya yang sudah / pernah menikah), tidak ada pernikahan yang tidak mengalami gonjang-ganjing di dalamnya.

My tweet about the book
Sam dan Clementine, pasangan suami istri dengan 2 anak perempuan yang lucu dan pintar. Mereka saling melengkapi dalam menjalani tugas sebagai orang tua. Selama ini jika Clementine, yang seorang pemain cello, akan menghadapi audisi, Sam akan dengan senang hati membantunya dengan mengajak anak-anak pergi keluar rumah agar ibu mereka bisa latihan dengan tenang. Atau jika saatnya anak-anak menerima suntikan imunisasi, Sam akan membawa mereka ke dokter, karena Clementine tidak tega melihat anaknya disuntik. Mereka pun sangat santai satu dengan yang lainnya. Saling melempar lelucon, saling menggoda, seperti pasangan baru saja. Namun setelah pesta barbeque di akhir pekan di rumah kenalan baru mereka, kehidupan rumah tangga mereka tidak lagi sama.
"You could jump so much higher when you had somewhere safe to fall."
Clementine dan Erika adalah sahabat masa kecil. Persahabatan mereka lumayan cukup rumit untuk digambarkan. Namun saling lempar kata-kata hinaan dalam bahasa Jerman adalah bukti kalau mereka sedekat itu. Maka Clementine pun langsung meng-iya-kan saat Erika mengundang ke pesta barbeque di rumah tetangganya.

Erika dan Oliver adalah pasangan suami istri yang selalu melakukan semua hal dengan benar. Terkadang, teguran Erika mengenai anak-anak Clementine dianggap mengganggu. Terlebih karena mereka berdua adalah pasangan yang belum memiliki anak. Padahal maksud dan tujuan Erika adalah ingin memberi yang terbaik untuk anak-anak Clementine. Sebab dalam dirinya, Erika menyayangi anak-anak Clementine: Ruby dan Holly.

Pic credit: IG @sylnamira
Satu lagi pasangan Tiffany dan Vid. Mereka memiliki seorang anak perempuan berusia 10 tahun, bernama Dakota. Dakota adalah gadis pendiam (cenderung pemurung) dan selalu menghabiskan waktunya dengan buku. Rumah mereka adalah rumah idaman saya, dengan window seat di mana-mana. Setiap jendela bahkan punya tempat duduknya sendiri. Itu kan heboh! Untuk seorang kutu buku macam saya, window seat itu adalah surga!

Anyway, balik ke pasangan Vid dan Tiffany. Pondasi pernikahan mereka adalah kepercayaan, dan Vid yang sangat mencintai istrinya ini, juga sangat bangga padanya. Karena Tiffany adalah seorang agen perumahan yang handal. Namun kehidupan mereka bertiga terasa berbeda sejak suatu akhir pekan di rumah mereka. Saat Clementine, Sam, Erika dan Oliver datang untuk berpesta barbeque di halaman belakang rumah Tiffany dan Vid.
"It was interesting that fury and fear could look so much the same."
Pic credit: IG @bookdragonmomma
Sebenarnya apa sih yang terjadi di pesta barbeque itu? Sehingga semua orang jadi berbeda dan merasa tidak nyaman satu dengan yang lainnya? Di sinilah Liane Moriarty memainkan perasaan saya. Kisah yang terjadi di pesta barbeque dan kejadian dua bulan setelahnya diceritakan dalam bab-bab yang terpisah, secara bergantian. Dan kalau berharap jawaban apa yang terjadi di pesta itu bisa didapat dengan cepat, itu salah! Pembaca akan dibuat penasaran habis, sambil menikmati kisah mereka setelah pesta itu.

Kerumitan kehidupan rumah tangga, mulai dari pengasuhan anak, kepercayaan, kerja sama, hingga kehidupan sex (tapi bukan adegan sex ya! jadi aman) dikupas habis dan membuat pembaca kembali berpikir bahwa jangan pernah 'take for granted' apa yang sudah kita miliki. Dan bahwa pernikahan itu adalah usaha. Usaha untuk membuat semua baik-baik saja.
"No one warned you that having children reduced you right down to some smaller, rudimentary, primitive version of yourself, where your talents and your education and your achievements meant nothing."
Konflik yang disuguhkan penulis dalam novel ini sungguh rumit dan membuat pembaca ingin terus membacanya agar terpampang nyata sebenarnya misteri apa yang ada di balik kisah mereka. Karakter-karakter di dalamnya sangat manusiawi. Seperti Sam yang sangat yakin dengan dirinya sendiri, akhirnya kehilangan kontrol juga. Lalu Clementine yang justru di awal terasa sangat rapuh dan tidak percaya diri, di akhir cerita justru menemukan kekuatannya. Oliver yang sabar dan menganggap Erika sempurna, sesekali pun pernah merasa bahwa istrinya memiliki kekurangan. Erika dengan masa lalunya yang beda dengan anak lainnya, dan merasa sudah bisa menerima keadaan ternyata pun tidak demikian. Tiffany yang sangat berusaha menjadi ibu yang baik bagi Dakota, serta Vid dengan karakternya yang easy going, semua sangat terasa manusiawi dan bisa diterima nalar pembaca. Tidak berlebihan, semua punya kelebihan dan kekurangan.

Pic credit: IG @bookdragonmomma
"It was interesting how a marriage instantly became public property as soon as it looked shaky."
Semua karakter di novel ini memiliki porsi yang sama. Semua sama penting, dengan konflik yang berbeda dan sama menariknya. Tidak heran novel ini terpilih menjadi pemenang di Best Books of 2016, kategori Fiction di Goodreads Choice Awards 2016.

Bagi yang belum mencoba tulisan Liane Moriarty, monggo dicoba. Sangat, sangat menarik dan endingnya sangat, sangat memuaskan pembaca.

Happy reading!

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats