To Kill A Mockingbird – Harper Lee

26840292

Judul: To Kill A Mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Qanita
Tahun terbit: 2015 (Pertama terbit tahun 2006)
Halaman: 398
ISBN13: 9786021637876
Format: E-book

Sinopsis:

Scout Finch hanyalah gadis kecil yang biasa menghabiskan waktu bersama kakaknya, Jem Finch, entah itu di rumah atau di luar, dengan atau tanpa kehadiran Atticus Finch, ayah mereka yang berprofesi sebagai pengacara. Kadang-kadang mereka membawa Dill, teman baru mereka, turut serta dalam petualangan mereka. Kadang-kadang, Calpurnia melaksanakan tugasnya dengan baik untuk mengawasi mereka. Biarpun Calpurnia sering memarahi Scout, baginya itu sama sekali bukan masalah besar.

Scout dan Jem kadang-kadang diomeli tetangga, tetapi secara umum orang-orang menghormati ayah mereka dan keluarga besar mereka, Scout dan Jem mereka tahu itu, tetapi semuanya berubah saat Atticus ditugaskan untuk membela Tom Robinson, seorang pekerja kulit hitam atas tuduhan penganiayaan dan pemerkosaan terhadap seorang wanita kulit putih. Semua orang membicarakannya,  menyesalkan ‘niat baiknya’, bahkan mengejeknya. Atticus menghadapi semuanya dengan tenang dan meminta anak-anaknya untuk melakukan hal serupa. Namun, hal-hal seringkali terjadi di luar dugaan dan itulah yang mau tak mau harus dihadapi oleh keluarga Finch.

***

Saya ingat telah memasukkan buku ini ke dalam daftar tunggu bacaan saya sejak lama. Namun, entah mengapa baru sekarang saya membacanya. Entah persoalan harga, kemauan, atau kesempatan, yang jelas, saya ingat bahwa dulu ketertarikan saya terhadap To Kill A Mockingbird tidak sebesar sekarang. Ketertarikan itu baru muncul kembali setelah merampungkan Tru & Nelle, sebuah novel biografi yang didasarkan pada kisah nyata persahabatan Truman Capote dan Nelle Harper Lee. Mungkin karena itu saya menemukan kemiripan antara hal-hal yang ada di dalam buku ini dengan versi nyatanya. Mungkin itu pula yang menyebabkan saya merasa bahwa buku ini menarik sejak awal, tidak seperti yang dirasakan oleh sebagian pembaca.

Jika kita tilik, karakter-karakter dalam buku ini menarik dan berwarna. Lingkungan Maycomb County memang tidak hanya dihuni oleh orang-orang yang senang bergaul, tetapi saya tidak banyak menemukan kemuraman di sini. Tokoh utama To Kill A Mockingbird, Scout Finch, alias Jean Louise Finch adalah gadis kecil yang tidak seperti seorang gadis kecil. Alih-alih mengenakan rok, dia lebih senang mengenakan overall yang membuatnya tampak tomboy. Dibandingkan anak-anak seusianya, Scout lebih banyak tahu dan lebih banyak ingin tahu, meskipun kadang rasa penasarannya bisa mengalahkan norma sopan santun yang ada. Jem Finch yang lebih tua empat tahun darinya, adalah seorang anak laki-laki penggemar football yang ternyata sangat baik dan melindungi adiknya. Meski belakangan ia menjadi bijak seiring pertambahan usia, yang membuat Scout sebal kepadanya, Jem adalah tipe kakak lelaki yang baik. Atticus Finch, ayah kedua anak-anak Finch, adalah orang tua tunggal bagi mereka, yang berprofesi sebagai pengacara di Maycomb County. Atticus mungkin bukan tipe ayah biasa, meski ia melakukan hal-hal yang biasa seorang ayah lakukan seperti membacakan buku dan menasihati anak-anaknya ketika mereka berbuat salah. Ia membiarkan mereka berdua memanggilnya dengan sebutan nama, membiarkan Scout menggunakan celana alih-alih rok, dan memercayakan pengasuhan Scout dan Jem pada Calpurnia jika ia tidak di rumah. Seperti pengacara yang baik, Atticus adalah orang yang idealis, tetapi juga banyak melakukan kompromi selagi situasinya memungkinkan. Kadang-kadang ia bersitegang dengan saudarinya, Alexandra, tetapi di hadapan adiknya itu, ia selalu meminta Scout dan Jem menghormati sang bibi. Dill alias Charles Baker Harris merupakan keponakan Ms. Rachel, tetangga mereka, dan menjadi orang ketiga dalam petualangan-petualangan Scout dan Jem. Dill berasal dari Meridian dan menghabiskan musim panasnya di Maycomb. Karakternya didasarkan pada Truman Capote, demikian yang saya temukan di Tru & Nelle. Dill tipe anak lelaki yang berpenampilan rapi dan senang melakukan ide-ide eksentrik. Tokoh-tokoh lainnya ada Walter Cunningham yang tidak ingin menerima apapun jika tak bisa mengembalikannya, seperti keluarga Cunningham. Ada Bob Ewells dan keluarga Ewells yang mewakili tipe keluarga yang tidak terurus dengan baik, dengan ayah yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan anak-anak yang dibiarkan tidak bersekolah kecuali dua anak pertama. Ada Miss Maudie Atkinson yang senang membuat kue, ada Ms. Stephanie Crawford yang senang bergosip, ada Mrs. Duboise yang mengerikan, ada pula keluarga Radley yang misterius, dengan anak keduanya bernama Arthur (atau Boo) yang tak pernah keluar rumah sejak bertahun-tahun lamanya. Ada Zeebo yang mengangkut sampah, Calpurnia, pengasuh keluarga Finch, ada Tom Robinson, terdakwa kasus pemerkosaan dan penganiayaan terhadap seorang wanita kulit putih. Di kalangan penegak hukum, ada Mr. Heck Tate, seorang sheriff dan Hakim Taylor yang mengadili kasus Tom Robinson. Dan masih banyak lagi tokoh yang berseliweran di buku ini, hidup di Maycomb, Finch’s Landing, Meridian, dan Mobile, tetapi setiap kehadiran mereka selalu dimanfaatkan oleh penulis untuk menjelaskan situasi dan latar belakang ceritanya. Misalnya, ada sekat yang tak nyata antara keluarga Finch dan Cunningham, antara Cunningham dan Ewells, bahkan antara penduduk kulit hitam dan kulit putih.

“… Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya – kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya.” (Atticus kepada Scout, hlm. 51)

Penulis memaparkan cerita ini dalam sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Scout Finch. Sebagai anak perempuan, Scout bisa dikatakan aktif, meledak-ledak, dan penuh rasa ingin tahu. Hal ini yang saya kira membentuk sudut pandang Scout dalam memandang fenomena di sekelilingnya. Seperti kakaknya, Jem, Scout acap mempertanyakan sikap tetangga-tetangganya, juga aturan-aturan sosial yang diharapkan oleh masyarakat untuk dipatuhinya (berpenampilan bersih, anggun, menjaga pergaulan, tidak keluar malam, tidak bermain dengan anak-anak dari keluarga tertentu, menjaga batas-batas pergaulan dengan warga kulit hitam). Sekilas, Scout tampak keras kepala dan lebih dewasa daripada usianya, tetapi masih dalam kewajaran (tidak seperti karakter Salva dalam Di Tanah Lada, misalnya), yang membuat kisahnya nyaman diikuti dan reliabel. Dengan bimbingan dari ayahnya juga tokoh-tokoh dewasa lain, Scout perlahan memahami lingkungan tempatnya berada, meskipun idealismenya tidak menghilang begitu saja.

“Tetapi, ada satu hal di negara ini yang menunjukkan bahwa semua manusia diciptakan sederajat–ada satu lembaga kemanusiaan yang membuat seorang pengemis sederajat dengan seorang Rockefeller, seorang bebal sederajat dengan seorang Einstein, dan seorang tak berpendidikan sederajat dengan rektor universitas mana pun. Lembaga itu, Tuan-Tuan, adalah pengadilan. Baik itu Mahkamah Agung Amerika Serikat atau pengadilan negeri paling rendah di tanah ini, atau pengadilan terhormat tempat Anda mengabdi ini. Pengadilan kita memiliki kecacatan, sebagaimana lembaga manusia mana pun, tetapi di negara ini, pengadilan kita merupakan penyetara besar, dan dalam pengadilan kita, semua manusia diciptakan sederajat.”

Tak lengkap bila membahas To Kill A Mockingbird tanpa membahas Atticus Finch. Atticus, menurut saya adalah pengacara teladan yang berhasil mengubah persepsi saya tentang pengacara. Atticus bukan hanya memikirkan keuntungan pribadi yang diperolehnya dari membela klien, melainkan juga membela nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini yang diperjuangkannya dalam kasus Tom Robinson. Saat semua orang mempertanyakannya, mengejeknya, bahkan mengusik keluarganya, Atticus tetap kukuh dengan prinsipnya. Saya merinding membayangkan betapa besar harga yang harus dipertaruhkan seseorang untuk membela kebenaran. Dan lebih salut lagi dengan bagaimana Atticus mendidik anak-anaknya sehingga mereka bisa merasakan hati nurani yang paling murni tanpa terkotori pendapat umum.

“Ayahmu benar,” katanya. “Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa.” (Miss Maudie kepada Scout, hlm. 135)

Sampai akhir, saya menebak-nebak maksud judul To Kill A Mockingbird. Mockingbird adalah burung penyanyi yang tidak mengganggu, sehingga berdosa jika membunuhnya, menurut buku ini. Apakah membunuh mockingbird ini adalah metafora untuk menghukum orang yang tak bersalah atau menghukum orang yang ingin mencegah kejahatan, sementara ia tak pernah mengganggu orang selama bertahun-tahun terakhir, saya masih penasaran.

Saya berterima kasih kepada penerjemah buku ini, yang telah menerjemahkan dengan baik sehingga buku yang bagus ini mudah dimengerti. Hanya ada beberapa kesalahan ketik dan kalimat-kalimat rancu, tetapi tidak banyak. Semoga hal ini jadi bahan pertimbangan untuk edisi berikutnya.

Bagi saya, buku ini lebih dari sekadar novel. Tak hanya menghibur dengan lelucon yang terselip dari keseharian penduduk Maycomb County, tetapi juga mencerahkan dan menginspirasi. Sampai kapanpun ketidakadilan akan selalu ada, tetapi diamnya orang-orang baik tidak akan mengubah apa-apa. Sosok seperti Atticus Finch dan lainnya akan selalu diperlukan, tetapi alangkah baiknya jika kita tidak hanya menumbalkan mereka, tetapi juga ikut berjuang bersama mereka.


Rating: 5/5

Cara saya mendapatkan buku ini: Meminjam dari iJak

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats