Tentang Aku dan Buku + Giveaway

Foto: Dokumen Pribadi

Setiap kali pulang ke kampung halaman, sebisa mungkin aku sempatkan melakukan ini—sesuatu yang kemudian aku sebut ritual: mengeluarkan semua koleksi buku-bukuku dari tempat penyimpanan, menilik satu per satu, lalu menekuk-nekuk ringan mereka. Bisa dibilang, merekalah hartaku yang berharga. Aku menganggap mereka seperti hewan peliharaan—yang untungnya tidak menimbulkan suara, tidak rewel, dan tidak membuang kotoran. Mereka hanya butuh "bernapas" sesekali dan peregangan agar otot-otot kertas mereka tidak kaku. Sayangnya, aku terlalu malas untuk menyimpan mereka di tempat layak dan hal inilah yang membuatku harus melakukan ritual. Mereka ditempatkan di bagian bawah lemari pakaian milik almarhum kakek. Aku berniat untuk membeli boks kontainer untuk mereka tetapi waktu selalu tidak mengabulkan. Terlepas dari itu, ada keasyikan tersendiri kala membongkar kembali tas-tas keresek berisi mereka. Dengan ritual ini, aku bisa bernostalgia tentang isi buku dan tentang bagaimana dan kapan aku mendapatkan mereka.

Setiap koki selalu punya cerita makanan yang pertama kali dimasaknya. Setiap pilot selalu punya cerita kota yang pertama kali disinggahinya. Begitu pun pembaca yang selalu punya cerita buku yang pertama kali dilahapnya. "Totto-Chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela" karya Tetsuko Kuroyanagi menjadi buku yang selalu aku sebut-sebut untuk konteks itu. Buku pertama yang kubaca ini kudapatkan ketika masih TK. Saat itu, pihak yayasan memberikan buku ini dengan harapan dapat dibaca oleh wali murid. Dengan kekaguman berlebihan karena baru kali itu memegang sebuah buku, aku coba membacanya walau aku yakin saat itu aku membaca sekadarnya dan mengamati ilustrasinya. Tetap saja buku itu menjadi buku pertama yang kubaca. Setelah membacanya ulang beberapa tahun lalu, aku mengira-ngira alasan pihak sekolah memberikan buku itu kepada para wali murid. Kisah Totto-Chan yang bersekolah dengan fasilitas apa adanya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para wali murid dan orang tua.

Judul : Aku dan Buku
Pengarang : Busyra, dkk.
Penerbit: bukuKatta
Tahun : 2018
Dibaca : 12 Juni 2018
Rating : ★★★★

"Seperti burung yang selalu kembali ke sarangnya yang nyaman, seperti itulah saya roman bagi saya. Kembali mengeja dan merapali alur kisah cinta bagai mantra. Tersesat di sana sama menyenangkannya dengan jatuh cinta di dunia nyata. Itu sebabnya saya tak pernah berhenti. Tak pernah mau berhenti." (hlm. 64)

Aku tidak luput menyebut Totto-Chan dalam deskripsi diri di akhir tulisanku yang disatukan dalam buku "Aku dan Buku"—buku pertamaku yang diterbitkan! Walaupun antologi, aku merasa senang karena kisahku bisa bersanding dengan para pencinta buku lain. Sebagai seorang anak yang dulu sulit mendapat akses pada bacaan, aku merasa aneh sekaligus bersyukur karena tumbuh sebagai pencinta buku. Aneh karena aku mungkin baru gemar membaca sejak kuliah dan sekarang mengaku sebagai pencinta buku? Bagaimana dengan mereka yang sedari kecil sudah diberikan akses seluas-luasnya pada buku? Adakah istilah lain bagi mereka yang cinta lebih-lebih-lebih pada buku? Buku-bukuku tentu saja banyak tapi kalah banyak dari para pencinta buku yang lain. Pengalamanku bersama buku-buku sudah pasti kalah mengesankan dari para pencinta buku yang lain. Dan maksudku para pencinta buku yang lain adalah mereka yang menulis dalam "Aku dan Buku".

Beberapa penulis antologi ini sudah aku kenal berkat komunitas yang kami bergabung di dalamnya. Sebagian besar sudah pernah tatap muka. Sebagian kecil berada dalam satu grup WhatsApp sehingga kami sering berbagi tentang berbagai macam bahasan. Membaca "Aku dan Buku", aku dibikin tertohok. Bagai keran air yang bocor, mereka membeberkan sisi personalnya masing-masing. Ada Mbak Alvina yang menikah di tengah-tengah masa studinya dan berkarib dengan buku. Ada Mbak Truly yang menilai buku sebagai barang mewah berharga yang butuh proteksi. Ada Mbak Nurina yang begitu getol dengan genre romansa. Dari kisah-kisah mereka yang begitu intim dan intens, aku diajak untuk lebih-lebih-lebih lagi mencintai buku sebagaimana mereka mencintai buku. Cerita Mbak Nurina bahkan membuatku menitikkan air mata. Mengesampingkan jenis kelamin buah hatinya, ia memiliki harapan bahwa kedua anak laki-lakinya bakal suka dengan genre romansa seperti dirinya sehingga ia bisa melungsurkan koleksi buku-bukunya kepada mereka. Di situ aku merasa terenyuh.

Dalam ulasan ringkasku di Goodreads, aku mengatakan bahwa cerita yang kusampaikan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan cerita lain. Aku hanya bercerita tentang bagaimana diriku yang diistilahkan sebagai generasi milenial menyukai buku. Begitu remeh. Begitu biasa. Namun, di antara buih-buih kerendahdirian itu, ada secercah rasa bangga karena pada akhirnya aku bisa memiliki buku sendiri—walaupun lagi-lagi itu karya kelompok. Aku sungguh berharap bahwa sesiapa yang menyukai buku dan yang sedang dalam proses menuju hal itu membaca buku ini. Aku yakin kecintaan mereka pada buku akan meningkat berkali-kali lipat. Aku sungguh berterima kasih kepada Bang Steven Sitongan yang mau menyempilkan ceritaku di dalam proyek antologi yang digagasnya ini. Bang Steven menitipkan dua kopi "Aku dan Buku" bersegel untuk dibagikan pada giveaway kali ini. Dan untuk memeriahkannya, aku pun akan membagikan satu kopi bersegel "Totto-Chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela" karya Tetsuko Kuroyanagi. Namun sebelumnya, mari kita lihat penampakan buku Totto-Chan yang sudah dekil dan berusia lebih dari 15 tahun berikut.

Halaman Katalog Dalam Terbitan

Halaman Kata Pengantar

Salah Satu Ilustrasi dalam Buku

Halaman Sampul Belakang

Giveaway!

Sesuai pernyataanku di atas. Aku mengadakan giveaway dengan berhadiah dua paket buku. Paket pertama berisi "Aku dan Buku" dan "Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela" karya Tetsuko Kuroyanagi versi terbaru. Paket kedua berisi "Aku dan Buku". Kamu akan mendapatkan kesempatan memenangkan kedua paket tersebut dengan menjawab pertanyaan berikut.


Aku benar-benar ingin tahu, buku apa yang pertama kali kamu baca?

Jawab pada kolom komentar di bawah ini bersama nama, alamat e-mail, dan kota tempat tinggal kamu. Jangan lupa untuk membagikan informasi giveaway ini melalui media sosial kamu. Aku tunggu sampai 1 Juli 2018. Dua pemenang akan dipilih secara acak. Semoga beruntung


***

Update!

Jawab pada giveaway kali ini lumayan personal dan sedikit bikin menyentuh. Hanya dengan satu pertanyaan singkat yang kuajukan, peserta menjawab panjang lebar yang mungkin membuat mereka harus menggali lebih dalam memori masa lalunya. Dan memang, memori manis akan mudah diungkapkan. Lebih dari 30 pencinta buku menceritakan memori bacaan yang pertama kali mereka baca kala masih kecil. Setelah dipilih secara acak, pemenang giveaway Aku dan Buku adalah sebagai berikut.

Paket Pertama
Muhammad Imam Farouq (@Faruq_AlBanna)

dan

Paket Kedua
Luckty Giyan Sukarno (@lucktygs)

Silakan kirimkan data diri (nama, alamat lengkap, kode pos, dan nomor telepon) via oughmybooks (at) gmail (dot) com. Terima kasih atas partisipasi teman-teman dan terima kasih pula kepada penerbit. Sampai jumpa pada blog tour atau giveaway selanjutnya!

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats