Sebiru Safir Madagaskar Karya Haya Nufus

cover sebiru safir madagaskar

Perjuangan Gadis Malagasy Meraih Mimpi

Judul                            : Sebiru Safir Madagaskar

Penulis                          : Haya Nufus

Editor                           : Mastris Radyamas

Penerbit                       : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2016

Jumlah Halaman          : 288 halaman

ISBN                           :  978-602-1614-53-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Semua orang pasti memiliki impian. Ingin memiliki banyak toko, ingin menjadi dosen, ingin sekolah di luar negeri, dan sebagainya.  Pun begitu, semua orang berhak bermimpi. Hanya saja, mimpi hanya menjadi mimpi jika tidak aksi. Impian akan jadi khalayan belaka jika tanpa usaha.

Adalah Mirindra, seorang anak yang berasal dari Madagaskar. Ya, sebuah negeri yang jarang orang tahu. Meski sebagian lain tahu, itu pun sebatas dari film kartun yang berjudul sama. Madagaskar adalah negara pulau yang berada di Samudera Hindia, tepatnya di timur pantai Pulau Afrika. Pulau Madagaskar adalah pulau keempat terbesar di dunia. Madagaskar juga disebut Pulau Merah karena warna tanahnya merah.

Mirindra adalah anak berkulit hitam dan berambut keriting. Dada atau berarti ayah-nya bekerja di pertambangan mencari batu, yang akan dibuat batu akik. Sedangkan Neny atau berarti ibu-nya bekerja di kebun, menjual sayuran di pasar. Ketika akan melahirkan adiknya, Neny Rindra meninggal (halaman 10). Dia hidup berdua, bersama ayahnya.

Ketika umur Rindra telah cukup untuk sekolah, ayahnya membawanya ke sekolah berasrama di perbukitan Sahasoa yang bernama Akany Tafita (halaman 18). Di sana dia senang sekali, dia bisa belajar, tetapi kesedihannya karena akan jarang bertemu ayahnya. Di Akany Tafita Rindra berkenalan dengan Lanto, anak yang tidak suka belajar dan senangnya keliaran dan mengganggu Thiery. Thiery anak yang tampan, tetapi memiliki tubuh yang kurus karena penyakit asmanya sering kambuh, sudah begitu ditambah dengan gangguan Lanto. Tambah tersiksa dia, untungnya dia kerasan di Akany Tafita.

Akany Tafita adalah tanah warisan dari orangtua Tinah. Tinah pun membesarkan Akany Tafita hingga terus eksis dan dipercaya. Untuk tanggung jawab di asrama dia dibantu oleh Irene, yang berusia awal 40 tahun dan lebih muda dari Tinah. Ditambah untuk urusan kebersihan dan perkebunan dibantu oleh lelaki tua yang bernama Dadabe Hiel (halaman 35).

Rindra adalah anak yang cerdas, dia menguasai 4 bahasa. Karena itu Rindra sangat disayang oleh Tinah. Ada harapan dari Tinah, agar nantinya Rindra mampu melanjutkan sekolahnya hingga perguruan tinggi, kalau perlu sampai ke luar negeri seperti adiknya, Josse. Josse mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Perancis.

Akany Tafita memiliki banyak kegiatan ekstra, ada menyulam juga menonton tontonan inspiratif. Suatu ketika Tinah memutar tentang kisah inspiratif dari seorang perempuan bernama Maryam. Maryam berasal dari Afganistan. Maryam bercerita tentang kisah peperangan di negaranya yang terjadi antara tahun 1989 sampai tahun 1992.

Setelah tentara Soviet telah meninggalkan Afganistan, peperangan terus berlanjut. Kali ini pemerintahan yang berkuasa menghadapi para pemberontak. Sehingga isu selain perang, seperti pendidikan, ekonomi bahkan nyawa sangat tidak dihargai saat itu. Maryam berkata, “Tak ada baiknya dari perang yang terjadi. Sekolah-sekolah hancur, orang-orang ketakutan. Kami semakin bodoh.” (halaman 68)

Maryam tidak boleh sekolah, karena pada waktu itu sekolah hanya untuk anak laki-laki. Akhirnya, dia belajar dengan mencuri dengar dari balik tembok, terkadang dia diusir, terkadang dia juga dibiarkan. Orangtua tidak punya untuk mendatangkan guru. Begitu juga dia tidak bisa membeli buku. Tetapi dia terus belajar cepat dan semangat. Dia terus meminjam buku, dan bersembunyi membaca buku dari Barat karena dilarang oleh penguasa.

Terus begitu, berganti tahun dan berganti penguasa. Dia terus berusaha mengikuti ujian untuk mendapatkan ijazah. Hingga dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Australia, Adelaide University. Sejak melihat ini, Rindra sangat terinspirasi. Ternyata, orang yang kesulitan, asal dia mau usaha, maka akan mendapatkan apa yang diimpikan.

Rindra pun berharap bisa melanjutkan hingga kuliah, agar nantinya bisa bermanfaat kepada negerinya, seperti Maryam. Rindra terus tumbuh dan bertambah umur, hingga kelas akhir. Pada saat itu nyaris hadir kebahagiaan, Josse datang. Namun, ternyata Josse malah membuatnya kecewa. Josse sangat sombong, dan tidak mau bergaul dengan Rindra. Bahkan, Josse membawa bencana. Josse menghancurkan Akany Tafita, dan mengubahnya menjadi vila (halaman 218). Maka, sejak mimpi anak-anak Akany Tafita yang telah lama dibangun, pun seakan hancur.

Novel ini juga membahas bahwa penemu Madagaskar adalah orang Indonesia, yaitu suku yang berada di Kalimantan. Karenanya, selain menginspirasi, novel ini penuh wawasan dan hikmah. Atas kedalaman risetnya, buku karya penulis asal Aceh yang kini tinggal di Madagaskar ini layak dijadikan koleksi, dan menjadi teman di akhir minggu. Selamat membaca!

*dimuat di Radar Sampit 2 April 2017


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Fiksi, Inspiratif, Islami, Lokalitas, Novel, Penerbit Indiva Media Kreasi, Radar Sampit, Resensi Buku Tagged: borneo, fiksi, fiksi inspiratif, fiksi islami, fiksi lokalitas, haya nufus, indiva media kreasi, madagaskar, novel inspiratif, novel islami, novel lokalitas, novel pemenang ketiga lomba novel inspiratif penerbit indiva 2014, penerbit indiva, resensi di radar sampit

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats