Review Young Adult : Rooftop Buddies by Honey Dee


Justaveragereader.blogspot.com

Ebook Gramedia Digital 258 pages 
Published by Gramedia Pustaka Utama, Agustus 13, 2018
Rating 3,5/5

 Ketika engkau sakit, ringan atau parah, pasti kau yakin bahwa engkau yang paling menderita sedunia. Orang-orang di sekelilingmu pasti tak pernah tahu bagaimana rasa penderitaanmu. Ini yang mungkin dirasakan Rie, pengidap kanker stadium awal. Kemoterapi yang ia jalani sangat menyakitkan hingga simpati yang diberikan orangtuanya dan sang adik tak cukup baginya. Bagi Rie, jika kematian nantinya akan toh menghampirinya, kenapa tidak sekarang saja? Berpikiran demikian, Rie memutuskan untuk mengakhiri saja penderitaannya sesegera mungkin. Sayang, rencana bunuh dirinya di rooftop apartemen orangtuanya gagal karena ada orang lain yang bertujuan sama dengannya, Bree.

Mungkin sangat kebetulan ketika dua orang yang ingin mati saling bertemu dan berjanji untuk sehidup semati bersama. Bree nampaknya menyimpan masalah dan dukanya sendiri hingga ia ingin mati di usianya yang masih 22-23 tahun. Rie yang masih ragu-ragu untuk mati, memiliki daftar yang ingin dia lakukan sebelum ia mati. Dan mereka pun sepakat menjadi Rooftop buddies.

Apakah ini akan menjadi kisah romantis mewujudkan keinginan gadis sekarat sebelum ia mati? Hmmmm... Bisa jadi. Awalnya saya berpikir demikian, ternyata itu hanya separo saja dugaan saya benar. Perjalanan mewujudkan keinginan Rie pertama dimulai dari sekolah SMP nya dulu. Menjadi bahan perundungan di sekolah itu sangat menyakitkan, dan sekarang adalah waktu untuk balas dendam. Puaskah Rie dengan aksi balas dendamnya ini? Hmmm... Jadi ingat satu penggalan dorama Yamato Nadeshiko dan Kurosaki kun. Cewek buruk rupa yang menjadi bahan perundungan menjelma menjadi cantik dengan didampingi cowok ganteng. Bedanya cowok gantengnya disini cuma satu, Bree, sementara di dorama itu ada banyak hahaha... Tapi tetap saja bagian ini terkesan drama banget. Ingat juga dengan umpatan kasar video satu artis yang ceritanya dulu dirundung waktu ia masih sekolah. Ya sudahlah.

Lanjutttt...

Dari satu daftar keinginan sebelum mati terwujud, berlanjut ke daftar lainnya. Meski sangat terasa dramanya, tapi masih enak terus diikuti. Hingga pada suatu hari,mereka berdua mengalami kejadian menghebohkan yang mengharuskan mereka untuk kembali. Dan kejadian ini juga yang membuka rahasia keinginan mati Bree.

Untuk kisah sicklit, novel ini cukup 'ceria' dengan kalimat-kalimat mengalir dengan enak. Konfliknya juga dramatis, tidak terlalu berlebihan. Di beberapa bagian sangat mengharukan hingga saya skip, karena saya jadi teringat saat-saat terakhir ibu saya di rumah sakit. Kematian memang tidak terlalu menakutkan jika seseorang tahu cara mengatasi ketakutan itu. Sosok Devon, di bagian akhir kisah, sangat mencuri perhatian. Caranya memandang hidup, meski ia diambang kematian, sangat diacungi jempol. Tak banyak orang seperti dia, dan tak menutup kemungkinan, orang seperti Devon benar adanya. Sementara kisah romantis antara Rie dan Bree, meski di awal mereka mengaku sebagai kakak adik, ketika akhirnya mereka saling mengakui perasaan masing-masing, tidak terlalu diekspose. Terjadi begitu saja. Padahal mungkin menurut saya bisa jadi drama lagi wkwkwkwk... Oya, dari sekian daftar keinginan sebelum mati Rie itu, saya menunggu adegan first kiss lo hahahaha...

Overall, cukup menghibur sekaligus mengharukan membaca novel sicklit ini. Sedikit sekali typo disini yang patut diacungi jempol mengingat ini novel berawal dari wattpad. Gaya bahasanya juga ringkas begitu juga dengan humornya, asik. Di bagian bab terakhir, ada satu typo buat grammar nazi macam saya ini, Does It hurts? Harusnya Ngga pke S, ya, mbak penulis 😊 Dan, oh, dari judulnya juga ding, jika teman di rooftop nya cuma satu, kenapa jadi banyak ya, buddies? Mungkin termasuk hantu-hantu dan malaikat yang membantu dan mencegah bunuh diri mereka ? Hahahaha... Ngaco... 

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats