Review Tiga Perempuan By Julie


Judul        : Tiga Perempuan
Penulis     : JULIE
Tahun       : 2012
Penerbit    : Leutika Prio
ISBN        :  978-602-225-391-4
Tebal       : viii + 145 halaman






Sinopsis :

Elena, perempuan muda yang patah hati karena Rifan sang kekasih yang meninggalkannya begitu saja tanpa kabar. Ia mencoba melupakan Rifan dengan menyibukkan diri pada pekerjaan. Namun suatu hari ia kembali bertemu dengan lelaki itu saat ia merasa tengah jatuh cinta pada Elang. Siapa yang akan dipilihnya? Rifan, atau Elang?

Larasati, hidupnya keras sejak kecil. Ia lahir dari sebuah keluarga sederhana di desa dengan terus dibayang-bayangi sosok seorang adik yang dianggap lebih cantik. Karena seringnya menerima penghinaan, dengan penuh tekad ia mampu merubah diri menjadi perempuan cantik yang tegar dan berharta, namun ketika ia jatuh cinta pada sosok Elang, mampukah ia tetap mempertahankan harga diri dan menang dari penghinaan?

Erna yang berasal dari keluarga kaya di kampung tak mampu menolak nasib yang membuat ia harus menghadapi kerasnya hidup di ibukota. Meski terbiasa hidup dalam kemewahan dan tak pernah berpikir untuk jatuh cinta pada seorang Rifan yang sederhana, namun akhirnya ia tak mampu menolak perasaan itu.
Tiga orang perempuan yang datang dari kehidupan dengan latar belakang berbeda terlibat dalam kisah cinta yang memaksa mereka untuk saling bertemu.


REVIEW :
Hem kali ini aku harus mengakui lagi bahwa aku jarang beli buku. Hehehe. Buku ini juga merupakan hadiah dari Warung Blogger. Rinciannya ada di sini

Tiga perempuan
berjalan pelan-pelan
satu berpita, yang lain memakai terompah
menjinjing sekeranjang cinta
(puisi halaman awal Tiga Perempuan)

Aku suka sekali puisi ini. Manis, dan mengigit. :D

Ada tiga tokoh central di novel Tiga Perempuan ini yaitu Elena, Larasati dan Erna. Elena adalah karyawan di mana Larasati menjadi bosnya. Larasati adalah perempuan single yang berusia tigapuluhan. Dan sedang jatuh cinta pada Elang, salah satu teman bisnisnya. Begitupun juga Elena.

Rumit? Beluuum... :P
Rupanya Elang pun menyukai Larasati bahkan mereka berencana melanjutkan ke tahap berikutnya. Sedangkan Elena? Dia dalam posisi terjepit. Seseorang dari masa lalunya datang, Rifan, menawarkan cinta lama agar bersemi kembali. Namun Elena yakin bahwa kedekatannya dengan Elang bukan hanya rekan bisnis saja. Meskipun kecil, dia menginginkan peluang itu. Walaupun dia tahu, bosnya juga ada hubungan dengan Elang.

Lantas di manakah posisi Erna? Perempuan ke tiga dalam novel ini? Erna adalah orang yang dijodohkan dengan Rifan, yang mana perjodohan ini membuat hubungan Rifan dan Elena putus. Erna yang membatalkan perjodohan itu menyesal karena rupanya Rifan adalah lelaki yang baik. Bahkan kini dengan datang ke Jakarta, dia berharap Rifan akan memiliki perasaan yang sama.

Ini baru ruwet. Hihihi.
Namun yang membuat saya tidak sreg adalah, penggunaan banyak sudut pandang. Misalnya pada halaman pertama.

Selasa, Lentik Office, 10.00 WIB
Elena
 pada saat ini menggunakan tokoh aku.

Halaman 7
Selasa, Lentik Office, 10.00 WIB
Larasati
pada saat ini menggunakan tokoh aku.

halaman 126
Jumat, Elena's room, 20.00 WIB
Elena, Elang
Menggunakan sudut pandang orang ke tiga serba tahu

Menurut saya, sebaiknya konsisten saja dalam menggunakan tokoh aku atau orang ketiga serba tahu. Kemudian tidak perlu mencantumkan secara detail tempat dan waktunya. Karena tidak efektif. Lagipula dalam kisahnya sendiri pasti disebutkan siang atau malam, tempat kejadiannya di mana.

Apa mungkin karena ada tiga tokoh utama sehingga perlu penjabaran yang sedemikian detail. Hem..
Kisah - kisah tiga perempuan ini membuat saya menyimpulkan, bahwa perasaan cinta itu memang harus diperjuangkan. Namun bukan berarti kita melupakan harga diri sebagai seorang perempuan. Dan yang utama adalah, bagaimana kita mencoba memahami kesalahan orang lain dan mencoba memaafkan serta memberikan kesempatan kedua.

Tidak ada yang sempurna, bukan? :)

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats