REVIEW The Naked Traveler 4

Sekuel keempat The Naked Traveler ini berisi kumpulan pengalaman travelling penulis rentang waktu 2010-2012. Seorang teman penulis pernah bertanya padanya, “Ngapain sih, buang-buang duit jalan-jalan ke sana kemari untuk menulis tentang perjalanan? Kan, tinggal duduk, browsing, lalu bikin deh tulisan. Tentunya penulis benar-benar tersinggung akan ucapan temannya ini. Ya maklumin aja, temannya ini baru menikah dan sedang meniti karir, dan nggak doyan jalan-jalan. Tentu prioritas hidup mereka amat jauh berbeda. Ya ampuuunnn…. saya pun ada banget teman yang kayak gini… x)) #kurangpiknik

Sama seperti ketika orang kaya yang mengatakan bahwa dia tidak punya uang untuk jalan-jalan. Sudah pasti dia punya uang, hanya saja bersediakah dia mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak kelihatan wujudnya?

Bagi penulis, kenapa harus cerita tentang perjalanan? Menurutnya, karena cerita perjalanan itu lebih heroik untuk diceritakan kepada anak cucu, keponakan atau siapa pun. Saat ini kita bukan pejuang perang, bukan atlet pemenang medali emas olimpiade, bukan pemimpin perusahaan besar, bukan siapa-siapa. Dengan menjelajah Indonesia dan dunia, paling tidak kita semua punya sesuatu untuk diceritakan. Dan, cerita perjalanan itu pasti lucu, sedih, menarik, dan sudah pasti heroik!

Di buku keempat ini, di BAB awal khusus tentang Indonesiana yang artinya membahas Indonesia dari berbagai daerah. Kapal feri dari Lampung ke Merak, bagi penulis adalah yang terburuk di dunia. Ya sih, pelabuhan Bakauheni merupakan pelabuhan lumayan menakutkan, apalagi yang mukanya kelihatan bingung, bakal jadi umpan para sopir x))

Dalam penjelajahan ke Suku Dayak, penduduk lokalnya lumayan matre, dimana setiap kita foto dengan mereka akan meminta uang yang lumayan besar. Hal ini juga pernah saya baca di buku travelling lainnya. Dari anak-anak sampai nenek-nenek pun begini. Ya kalo minta uang sih maklum ya, tapi kalo sampai maksa sampai mematok tarif tinggi ya bikin kapok pengunjung donk… x))

Sedangkan di Gorontalo, warganya masih menerapkan tradisi tidur siang. Ternyata tradisi ini adalah peninggalan budaya Spanyol, yang artinya sebagian took tutup ketika jam tidur siang. Maka jangan heran orang-orang Gorontalo itu ramah karena kualitas hidup yang baik meski tinggal di kota. Kehidupannya nggak stress, bisa tidur siang pula.

Bangka memang melejit semenjak buku dan film Laskar Pelangi. Pariwisatanya benar-benar terdongkrak, apalagi didukung kulinernya yang enak-enak. Hal ini menambah daya taris pengunjung untuk datang ke Bangka.

Kalau mendengar kata Papua, tempat travelling yang paling melekat adalah Raja Ampat. Meski menyimpan tempat yang cantik, tempatnya lumayan terisolasi. Jangankan di Papua dalam, saudara saya yang tinggal di Timika aja mengatakan jika uang seratus ribuan di sana kayak sepuluh ribu di sini. Apa-apa pun mahal. Makanya dia kalo pulang ke Lampung, apa-apa diborong x))

Keterangan Buku:

Judul                                                     : The Naked Traveler 4

Penulis                                                 : Trinity

Penyunting                                         : Imam Risdiyanto

Perancang & ilustrasi sampul      : @Labusiam

Ilustrasi isi                                           : Atomik Studio

Pemeriksa aksara                             : Pritameani, Tim Bentang & Yusnida

Penata aksara                                    : Gabriel

Foto isi                                                  : Koleksi pribadi penulis

Penerbit                                              : B First

Terbit                                                    : 2014 (Edisi II Cetakan Pertama)

Tebal                                                     : 272 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-1246-09-2

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats