REVIEW Tentang Dini, Dia & Mereka

Dalam kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesusahan, kita mengenal teman-teman kita. (hlm. 89)

DINI. Salah satu cewek gaul di sekolah karena wajahnya yang bening sedap dan selalu up to date dalam bergaya, punya standard sendiri untuk urusan cowok. Biar dikata banyak cowok tertarik padanya, Dini belum tentu mempunyai perasaan yang sama. Dia itu selektif atau mungkin lebih pasnya: super selektif. Teman cowoknya yang seabrek itu bisa patah hati deh, kalau tidak kenal sifat asli Dini. Keramahan Dini itu bukan berarti Dini suka. Untuk PDKT boleh-boleh saja, tapi untuk lebih jauh, pasti Dini berpikir seribu bahkan mungkin ribuan kali dulu. Baru sekitar empat orang yang berhasil melanjutkan hubungan lebih dari sekedar PDKT dengan Dini. itu pun tidak lama. Paling lama waktu Dini masih kelas sepuluh, yakni empat bulan.

Meskipun dikategorikan sebagai anak gaul di sekolahnya, dia juga kutu buku yang rajin ke perpustakaan. Kalau sudah tekun berhadap-hadapan dengan hal-hal yang berbau ilmiah, dia kadang sampai lupa dengan keadaan sekitar. Jadi, sampai tidak sadar jika ada beberapa yang memperhatikan gerak-geriknya. Maka, jangan heran jika Dini pernah menang di salah satu Lomba Karya Ilmiah yang pernah diadakan antarsekolah.

Biar berulang kali Dini pacaran, dia masih juga belum benar-benar mengerti apa arti itu cinta. Kata itu seakan-akan mudah untuk diucapkan namun serasa sulit untuk dipraktikkan. Buktinya, kalau memang dia cinta pada Bian, seharusnya dia tidak dengan mudah tergoda oleh perhatian dari cowok lain.

Ini kisah remaja, terutama difokuskan pada kisah Dini di kehidupan masa putih abu-abunya. Di halaman pembuka, penulis mengatakan jika tulisan ini pernah ia tuliskan sekitar 1995 yang artinya sudah lumayan lama mengendap. Meski begitu, penulis tetap optimis untuk menerbitkannya kelak. Seperti tahun ini. tentunya dengan beberapa perubahan.

Sebenarnya, menurut saya sebagai pembaca, harusnya penulis tetap mempertahankan setting 1995 karena justru malah lebih dapet feel-nya. Seperti kisah Dilan denga nuansa 1990 & 1991. Pembaca akan terbawa dengan masa-masa itu yang tentunya akan sangat jauh berbeda dengan remaja generasi 2000-an seperti sekarang ini. Ya, siswa SMA sekarang rata-rata kelahiran 2001-2004 loh 😀

Karena saya sudah beberapa tahun bekerja di sekolah khususnya SMA, saya cukup mengenal kehidupan remaja putih abu-abu. Dan menurut saya ada beberapa hal yang mengganjal dalam buku ini yang tidak relevan dengan kehidupan remaja zaman sekarang.

  1. Penyebutan kelas bagi SMA, bukan lagi kelas 1, 2 dan 3. Tapi kelas X, XI, dan XII
  2. Siswa SMA sekarang tidak lagi menyebut PR untuk tugas rumah, tapi menyebutnya dengan kata ‘tugas’. PR mungkin masih cocoknya bagi anak SD.
  3. Uyun, sahabat Dini, sangat nge-fans dengan Varrel Bramasta, bintang sinetron di salah satu TV di Indonesia. Siswa SMA zaman sekarang, jarang banget yang mengidolakan artis sinetron karena justru bagi mereka semacam kayak alay banget. Siswa zaman SMA zaman sekarang yang cenderung lebih suka menonton youtube dan mantengin sosmed, kebanyakan mengidolakan artis youtube dan juga selebgram. Mereka lebih hapal nama-nama selebgram, dibandingkan artis sinetron yang malah hampir tidak pernah mereka tonton, karena remaja zaman sekarang jarang yang masih hobi nonton TV.
  4. Penggunaan sosmed. Disebutkan jika Dini berkenalan dengan Piere lewat Facebook. Dan berlanjut via email. Remaja zaman sekarang, bisa dikatakan sejak 2016-an hingga kini, terutama siswa SMA, sudah jarang sekali yang menggunakan sosmed Facebook. Bagi mereka, facebook adalah lahan alay. Ya, kalo dulu pas 2011-2015 memang masih banyak sekali siswa yang menggunakan facebook. Tapi semenjak 2016-an hingga sekarang, remaja zaman sekarang cenderung lebih menggunakan instagram. Bahkan banyak juga diantara mereka memang sedari awal tidak punya akun facebook. Memang sih, pertemanan saya di facebook kini kebanyakan didominasi teman seumuran dan juga emak-emak yang share makanan atau seputaran kehidupan mereka: suami, anak, arisan, dan sebagainya. Berbeda dengan instagram, yang isinya 70% followers akun saya adalah siswa-siswa di sekolah. Oya, kayaknya remaja zaman sekarang juga tidak ada yang bertukar sapa lewat email, karena komunikasi paling hits saat ini adalah whattsapps. Penggunaan email hanyalah untuk mengirim tugas, itu saja kadang mereka lupa dengan akun email milik sendiri x))
  5. Masih dari perkenalan dengan Piere. Dikatakan jika awal mula Dini berkenalan dengannya adalah karena sama-sama menyukai Celine Dion. Mungkin bagi generasi 90-an akan paham dengan Celine Dion yang melejit berkat film Titanic. Tetapi, generasi sekarang mana kenal. Celine Dion bisa dikatakan seumuran dengan emak mereka. K-Pop seperti Black Pink, BTS, ataupun EXO sangat lebih familiar dengan remaja generasi sekarang.
  6. Ada salah satu tokoh bernama Nico yang identik dengan zodiak. Zaman sekarang, yang seperti saya sebutkan sebelumnya yang merupakan generasi kelahiran 2000-an, cenderung tidak pernah membahas apakah dia berzodiak Gemini ataupun Taurus. Zodiak cocoknya identik dengan generasi 90-an dimana zodiak menjadi topik hangat di suatu majalah.
  7. Penggunaan kata ‘Ciyus’ yang disebutkan oleh Bian di halaman 10 yang notabenenya adalah cowok macho tentu sangat tidak relevan karena terkesan alay. Kalo yang melontarkan kata tersebut siswa cewek, masih dimaklumi.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Keterbukaan adalah hal yang sangat penting dalam hubungan antara orangtua dan anak pada zaman sekarang. (hlm. 51)
  2. Kalau jodoh, nggak akan lari kemana, kan? (hlm. 111)
  3. Kita memang serbasulit. Ada banyak pertentangan dalam diri kita terhadap mereka. (hlm. 145)

Lumayan banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Hujan kok ditunggu? Dia akan tetap turun meski tahu ada yang nunggu supaya reda. (hlm. 4)
  2. Memelihara pikiran negatif itu benar-benar tidak ada gunanya. (hlm. 55)
  3. Manusia itu bisa cepat sekali berubah. Berubah untuk mencari variasi hidup. (hlm. 73)
  4. Cinta itu seperti kentut. Ditahan sakit, dikeluarin bau. (hlm. 113)
  5. Cinta itu susah diomongin. Soalnya masing-masing orang punya definisi sendiri. Pokoknya kata itu bisa bikin kita ketawa, senang, bahagia, haru, bahkan kecewa, nyesel, nangis, sedih. (hlm. 113)
  6. Bukankah kita memang harus menyayangi semua orang? (hlm. 155)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Tentang Dini, Dia & Mereka

Penulis                                 : Anjar Anastasia

Ilustrasi                                                : Budi

Desain  kover                     : Bene

Penata isi                             : Bene

Editor                                    : Tim Rumah Dehonian

Penerbit                              : Rumah Dehonian

Terbit                                    : Maret 2019

Tebal                                     : 176 hlm.

ISBN                                      : 978-602-51913-7-4

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats