Review Speechless Buket Pengantin Ketiga Belas



Judul     : Speechless (Buket Pengantin Ketiga Belas)
Penulis  : Yvonne Collins dan Sandy Rideout
Genre    : Chicklit / Terjemahan
Penerbit : Gramedia pustaka
Tahun     : Maret 2005
Tebal       : 518 halaman
 Isbn       : 979 - 22 -1240-x








Sinopsis :

Libby Mclssac
Usia : 33 tahun
Tinggi : 185 cm
Status :lajang
Pekerjaan: penulis pidato sekaligus spesialis penangkap buket pengantin

Berkat tubuhnya yang tinggi. Libby selalu berhasil menangkap buket pengantin yang melayang di udara pada setiap pesta perkawinan. Meski dia tidak ingin. Meski kedua tangannya lurus di sisi tubuhnya. Soalnya, sedetik sebelum buket itu menimpa wajahnya, tangan Libby terpaksa terangkat demi mencegah hidungnya patah.

Di salah satu pesta itu, Libby bertemu Tim Kennedy, yang sama jangkungnya. Dibumbui sikap ragu-ragu dan sok jual mahal, kisah cinta mereka pun tidak bersemi sesuai rencana. Dalam situasi itu, Libby masih mempertahankan pekerjaannya dari rekan kerja tukang fitnah, memenuhi kebutuhan tanpa henti atasan yang menganggap dirinya diva, dan menolak pesona tak tertahanan pria Inggris sok ganteng yang berkedok sebagai konsultan.


Review :

Speechless mengangkat mitos yaitu, siapapun yang berhasil menangkap buket pengantin akan segera menikah. Namun nyatanya mitos itu tak berlaku untuk Libby. Tinggi badan 185 cm ditambah hak sepatunya 5 cm. Bisa dibayangkan, dia cukup berdiri,  mengangkat tangan dan buket bunga akan langsung menuju ke arahnya. Kasihan para wanita lain yang berusaha mati-matian yak :D

Setelah melihat cover aslinya pada amazon.com dan membandingkan dengan covernya milik Gramedia ini, saya lebih suka versi gramedia. Dengan gambar seorang wanita memakai gaun panjang dan kedua tangannya menangkap buket bunga jauh lebih memperlihatkan isi novel daripada cover di amazon.com.

Serta judulnya juga. Buket Pengantin  ketiga belas inilah yang membuat kehiduopan Libby berubah. Saat itu adalah pernikahan Emma dan dia bertemu dengan Tim. Dia juga berdansa dengan Tim. hem, kejadian yang menimpa mereka berdua menjadi mitos baru, mungkinkah mereka akan segera menyusul pengantin?

Libby adalah seorang pegawai di Departemen Pendidikan, namun karena tertarik dengan sebuah tantangan, dia mencoba menjadi penulis pidato seorang Menteri dari Departemen Kebudayaan.

Sayangnya pekerjaan baru Libby tidaklah begitu menyenangkan. Dia harus berusan dengan Margo, salah satu pegawai kesayangan Menteri. Dan tentu saja Menteri yang pelit memberikan pujian, tetapi haus akan perhatian.

Sayangnya pelepasan stres yang dilakukan Libby dan teman-temannya sama sekali tidak patut ditiru. Hehehe. Minum-minum alkohol, dugem dan free sex. Ess... yah, berhubung karena ini novel terjemahan ya maklum saja.

Kemudian, jalan cerita yang menurut saya sedikit membosankan. Rutinitas sehari-hari dan percakapan yang selalu seputar pekerjaan menulis pidato agak membuat saya jenuh. Dan bahkan melewati banyak halaman. hihihi.

Well, saya menilai mungkin buku ini tidak terlalu sesuai untuk saya.Karakter Libby yang tidak  bisa berontak adalah salah satunya. Libby cenderung menerima perlakuan Margo dan mencari cara yang aman untuk membalas dendam. Tetapi toh akhirnya dia membantu Margo di saat-saat terakhir.

Sebenarnya sosok Libby mungkin ada pada banyak orang. Di mana kita selalu mencari jalan aman, daripada berbenturan dengan atasan atau senior. Sehingga membuat diri kita sendiri tersiksa karenanya. Ditambah lagi kerja keras yang tidak pernah dihargai. Huff... Tetapi akhirnya Libby mengambil keputusan yang tepat untuk keluar dari pekerjaannya sebagai penulis pidato.

Dan kisah cintanya? Baca sendiri :P

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats