REVIEW Satria November

“Semua yang ada di dunia ini kejutan – paket yang dibungkus rapi.” (hlm. 200)

Mima dan Mika adalah kakak adik yang kembar. Suatu hari, mamanya memutuskan untuk menjaga anak sahabatnya, bernama Tante Helena. Bukan tanpa alasan mama mau menjaga anak sahabatnya, Inov yang masa lalunya lumayan memiliki banyak masalah ini. Salah satunya sebagai mantan pengguna. Setelah keluar dari rehab, Tante Helena yang merupakan single parent dan juga sibuk bekerja ini, menitipkan sang anak agar jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti dahulu.

Dari awal, Mima sangat tidak setuju jika Inov tinggal bersama mereka. Mima mengkhawatirkan jika Inov si Robot Korslet (saking pendiamnya) ini akan memberikan pengaruh buruk pada keluarganya. Apesnya lagi, Mama memutuskan Inov satu sekolah dengannya, dibandingkan dengan sekolah Mika. Ya, mama sengaja selama ini tidak pernah menyekolahkan Mima dan Mika di satu sekolah, agar mereka tidak saling bergantung sama lain alias mandiri kelak.

“Pernah nggak kepikir sama lo, Nov, bisa aja narkoba memang bagian dari cobaan yang harus dia hadapin. Yang harus dia ikutin, atau tolak. Jadi, kalo nggak dari lo, bisa aja kan dari orang lain? Semua itu sebetulnya tergantung kitanya kok. Pilihan itu kan ada di dia, Nov.” (hlm. 199)

Mia Arsjad. Siapa sih yang nggak suka dengan gaya kepenulisannya. Renyah khas anak muda. Kisah Mima, Inov dan Gian ini bertema remaja banget dengan segala permasalahannya. Yang saya baca ini terbitan 2014, memasuki cetakan kelima. Buku ini kali pertama terbit tahun 2010, di mana tahun tersebut memang sedang boomingnya narkoba. Bahkan anak-anak sekolah tidak hanya pengguna, tapi juga terindikasi menjadi kurir narkoba.

Keluar dari rehab. Berhenti sebagai pengguna. Bukan berarti hidupnya bisa lurus dan bahagia. Ada saat-saat tertentu sakitnya kumat. Belum lagi diburu pengedar yang bahkan mengancam keselamatannta. Nggak hanya itu, efek sebagai pengguna tidak hanya menimbulkan hal-hal negatif pada diri sendiri, tapi juga orang lain yang berada di lingkungan kita.

Kisah Inov yang berjuang melawan masa lalunya, representasi kehidupan mantan pengguna yang tidak mudah untuk melepaskan hal-hal yang sudah melekat pada mereka. Perlu perjuangan. Meski sebenarnya jalan ceritanya ringan, ya khas remaja, novel ini cocok dibaca remaja terutama bagi yang sedang merasa banyak masalah ataupun depresi. Ada solusi yang ditawarkan dalam buku ini meski tanpa terkesan menggurui. Cuma satu yang disayangkan, Mika, kembaran Mima jarang terekspos. Apakah di sukuelnya, Mika akan muncul atau tetap kisah Mima – Inov – Gian?

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan kenceng-kenceng. Orang udah sengaja bisik-bisik, kamu malah teriak. (hlm. 12)
  2. Yang namanya gudang sih bukan emang takdirnya berantakan? (hlm. 12)
  3. Dasar aktivis, dikit-dikit protes. (hlm. 14)
  4. Yang namanya berdebat itu kan wajar. Menyuarakan kata hati juga wajar dong. Daripada jadi dendam? Atau jerawat? Atau bisul? Atau malah jadi gila? Mending ngomong blak-blakkan kan kalo ada yang nggak enak atau nggak pas buat kita? (hlm. 14-15)
  5. Yang namanya orang muntah itu pasti kenapa-kenapa. (hlm. 111)
  6. Di dunia ini kayaknya nggak ada yang siap untuk malu, untuk dimarahin, untuk kecewa bahwa mungkin nggak ada orang di dunia ini yang siap untuk bahagia. (hlm. 200)
  7. Manusia nggak pernah siap. Kita memang bisa tahu. Tapi kita nggak pernah siap. Kalau kita selalu siap, buat apa ada emosi? (hlm. 200)
  8. Kalo kita siap, kenapa kita harus nangis, marah atau malah ketawa? (hlm. 200)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Satria November

Penulis                                 : Mia Arsjad

Ilustrator                             : eMTe

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : November 2014 (Cetakan Kelima)

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1091-6

 

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats