REVIEW Saring Sebelum Sharing

“Jangan buru-buru meminum kopimu saat masih panas, nikmati saja aromanya, baru kau teguk pelan-pelan! Begitu juga belajar ilmu agama, tidak bisa terburu-buru apalagi dengan hati yang panas, nikmati saja proses belajar ini!” (hlm. 31)

Saring Sebelum Sharing. Pilih Hadis Sahih, Teladani Kisah Nabi Muhammad Saw., dan Lawan Berita Hoaks. Ehem, dari judulnya aja udah jleb banget ya. Dan makin jleb pas baca ulasan-ulasannya yang sangat mewakili hati ini yang gundah gulana melihat fenomena hoax-hoax bertebaran. Dan parahnya lagi, hoax tersebut diamini dan dilanjutkan oleh para pengikutnya. Sedih akutu… x))

Kalau dipikir-pikir ada beberapa ulasan di sini yang sebenarnya pernah saya pelajari saat SD (yang memang berbasis agama), dan saya samar-sama masih mengingatnya, hahaha… Dan bedanya, ulasan di sini tentu lebih spesifik.

Pertama, tentang apakah semua hadis dalam Shahih Al-Bukhori dan Shahih Muslim itu selalu sahih. Dan dijelaskan juga bagaimana perbedaan kriteria menetapkan hadis sahih atau bukan. Serta dijelaskan juga mengapa hadis Nabi Saw. bisa berbeda-beda.

Kedua, tentang fenomena dakwah di media sosial. Saat ini memang era belajar bisa instan lewat Google, instagram, dan sebagainya. Hadis adalah teks, sedangkan konteksnya seperti apa harus dipelajari terlebih dahulu asbab al-wurud (konteks sejarah) dari hadis tersebut, ditinjau dahulu syarahnya. Sayangnya, saat ini bermunculan ustaz-ustaz yang baru mengenal Islam sehingga hadis-hadis yang mereka gunakan cenderung menyudutkan kelompok lain. Parahnya lagi, hadis yang mereka gunakan justru sedikit bermasalah.

Itulah fenomena yang terjadi sekarang. Kita tidak bisa melarang orang untuk berceramah. Hal itu disebabkan tidak ada sertifikasi untuk ceramah. Sebenarnya, yang disebut ustaz itu apa? Apa pakai serban apalagi mengutip ayat dan hadis dibilang ustaz oleh masyarakat kita? Kalau standarnya itu, wajar saja jika banyak artis yang banyak mendadak menjadi ustaz dan ustazah. JLEEBBB!!

Dengan begitu, harus muncul para ustaz yang berpandangan terbuka yang bisa menjelaskan dengan tidak njlimet, dengan bahasa yang ringan dan mudah. Kalau kita tidak mengisi tempat itu, mereka yang akan mendapatkan tempat. Apalagi mereka secara penampilan menarik dan tidak ndeso, mereka juga punya jaringan.

Fenomena instan dalam memahami agama juga begitu marak ditemukan. Apakah ini menandakan semacam adanya gerakan keimanan secara social dari masyarakat? Atau, hal itu gerakan semacam frustasi akan ilmu agama yang dianggap terlalu sulit untuk digapai oleh masyarakat metropolitan di tengah kesibukan mereka?

Ketiga, penjelasan soal Nabi Saw. dan bendera khilafah HTI – ISIS. Dua organisasi ini sama-sama mengklaim bendera dan panji yang mereka miliki adalah sesuai dengan liwa dan rayah Nabi Muhammad Saw. benarkah? Tidak! Kalau klaim mereka benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda desain dan khas tulisan Arab-nya?

Konteks bendera dan panji yang digunakan Nabi itu sewaktu perang untuk membedakan pasukan Nabi dengan musuh. Bukan digunakan sebagai bendera Negara. Jadi, kalau ISIS dan HTI setiap saat mengibarkan liwa dan rayah, apakah mau berperang terus? Kok ke mana-mana mengibarkan bendera perang?

Kalau dianggap sebagai bendera Negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera merah putih. Mana bisa ada Negara dalam Negara? Bahkan, ada tokoh HTI yang mempertanyakan apa ada hadisnya bendera Republik Indonesia yang berwarna merah putih? Nah, kelihatan makarnya, sudah mereka tidak mau menerima Pancasila dan UUD 1945, mereka juga menolak bendera merah-putih. Jadi, yang syar’i itu bendera HTI, begitu mau mereka, padahal urusan bendera ini bukan urusan syariat. Sehat?!? X))

Keempat, tentang para non muslim yang berjasa kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam episode kehidupan Nabi Muhammad Saw., ada sejumlah orang yang tidak (atau saat itu belum) bergabung dalam barisan umat Islam, tetapi telah membantu Nabi Muhammad Saw. dengan cara mereka masing-masing. Mereka melindungi, memandu, membantu, dan berteman setia pada Nabi serta secara tidak langsung membantu perjuangan dakwah Nabi.

(Lagi-lagi) dari pelajaran Sejarah Islam kala masih SD dulu, sudah dijelaskan meski Abu Thalib tidak mengikuti keyakinan Nabi Muhammad Saw. sampai akhir hayatnya. Meski begitu, dia selalu melindungi keponakannya itu. Tapi, dari buku ini, saya mendapatkan banyak tambahan tentang beberapa sosok non muslim yang ternyata banyak membantu Nabi Muhammad Saw. Salah satunya adalah Waraqah bin Naufal, sosok yang hanif. Pada saat jiwa Nabi Muhammad Saw. terguncang dan merasa ragu setelah Malaikat Jibril mendatangi beliau, Khadijah membawa beliau menemui Waraqah. Setelah menyimak cerita Nabi dan lima ayat pertama yang diterimanya, Waraqah berkata, “Ini adalah orang yang sama yang membawa wahyu yang telah dikirim Allah kepada Musa.”

Ada banyak yang tidak tahu bahwa ada seorang rabi Yahudi yang sangat sayang pada Nabi. Mukhayriq namanya. Dia seorang kaya raya dan kemudian memutuskan ikut dalam Perang Uhud untuk membela Nabi. Dia berwasiat bahwa kalau dia terbunuh maka semua kekayaannya diserahkan kepada Nabi.

Sejarah menyisakan cerita manis bagaimana Nabi Muhammad Saw. menjalin hubungan baik dengan non-Muslim. Jadi, saya adalah salah satu orang yang ikut bersedih ketika sedih ketika ada yang membawa-bawa nama agama dan meneriaki pemeluk agama lain dengan kalimat: “Ini penistaan agama” atau dikit-dikit menyebut pemeluk agama lain dengan ungkapan menyinggung dengan sebutan ‘kafir’.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Saring Sebelum Sharing

Penyunting                         : Supriyadi & Nurjannah Intan

Perancang sampul           : Rony Setiyawan & Musthofa Nur Wardoyo

Pemeriksa aksara             : Fitriana & Dwi Kurniawati

Penata aksara                    : Nuruzzaman, Petrus Sonny & Rio Ap

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2019 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 328 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-562-1

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats