REVIEW Represi

Konon katanya, energi yang kita keluarkan akan kembali lagi ke kita dengan ukuran yang sama besar. Jika kita mengeluarkan energy untuk mencintai orang lain, maka cinta akan kembali kepada kita sebanyak kita mengeluarkannya. Sebaliknya, ketika mengeluarkan energi untuk menyakiti orang lain, rasa sakit itu juga akan kembali pada kita sebanyak kita menyakiti orang lain. (hlm. 248)

ANNA tahu ibunya khawatir. Tentu saja ibunya khawatir. Baru pekan lalu, Anna keluar dari rumah sakit. Ibu menemukan Anna tergeletak di lantai kamar dengan mulut penuh busa dan botol berisi cairan obat nyamuk di sampingnya. Anna kejang-kejang sementara ibunya menangis dengan tubuh gemetar, lalu meminta bantua tetangga untuk menggendong Anna ke dalam mobil. Ibunya langsung melarikan putrid semata wayangnya ke rumah sakit.

Perut Anna dipompa, racun dari obat nyamuk yang telah ditelannya berhasil dikeluarkan, kemudian gadis itu opname di rumah sakit selama tiga hari. Saat ibunya bertanya apa yang terjadi, Anna hanya menjawab dengan senyum dan kalimat ‘tidak apa-apa’.

Anna tahu, dia muak dengan dirinya sendiri. Anna benci hidupnya. Gadis itu harus mati. Dia tidak seharusnya ada di dunia ini. Pikiran itu bergelayut di kepalanya sepanjang jalan. Semua rasa menguap dari dirinya, meninggalkan kekosongan, putus asa, dan rasa muak yang tidak mengenakkan di dalam hati.

“Ketika saya bilang saya ingin kuliah jurusan Desain Komunikasi Visual karena saya suka menggambar, saya bertengkar dengan ibu.”

“Jadi, ini pertama kalinya kamu membuat pilihan dan keputusan sendiri?”

“Lalu, bagaimana sekarang? Pada akhirnya pilihanmu itu yang terbaik atau terburuk?” (hlm. 27)

Bagi Anna, kedekatan dengan ibu semata-mata karena dia anak tunggal. Gadis itu hanya punya ayah dan ibu, begitu pula sebaliknya. Kata ibu, dulu sebenarnya Anna punya kakak perempuan. Kakaknya meninggal saat baru dilahirkan, jadilah Anna sebagai satu-satunya anak ayah dan ibu. Satu-satunya harapan, kata ibu waktu itu.

Setelah Anna lahir, entah kenapa ibu tidak pernah bisa hamil lagi. Menjadi satu-satunya harapan membuat Anna menjadi satu-satunya objek didikan orangtuanya. Sejak kecil, Anna diajari untuk tidak cengeng. Ayah nggak suka anak cengeng –kata ayah- yang Anna tahu ingin sekali punya anak laki-laki. Tidak jauh berbeda, ibu juga selalu mengajari Anna untuk menjadi anak yang tahan banting.

Lucunya, mereka ingin Anna menjadi sosok yang tahan banting, tapi tidak pernah membiarkan Anna membuat keputusan sendiri. Sejak kecil. Anna hampir tidak pernah punya pilihan. Dia akan bersekolah di sekolah yang dipilihkan oleh orangtuanya. Dia hanya memakai pakaian yang dipilihkan oleh ibu. Dia hanya memakan makanan yang diizinkan untuk dimakan. Ayah –dan terutama- ibu, membuat berbagai keputusan untuk Anna tanpa pernah membiarkan putrid mereka mengambil risiko atas pilihan sendiri.

Anna harus menjadi seperti yang diinginkan ayah dan ibu. Semakin lama, hal ini menjadi sumber masalah di antara Anna dan orangtuanya.

“Kamu nggak tahu karena nggak merasakan apa-apa, atau kamu nggak tahu karena terlalu banyak yang kamu rasakan?”

“Terlalu banyak yang saya rasakan. Kadang saya merasa sedih dan marah. Di sisi lain saya merasa saya harus mengerti bahwa Ayah sibuk. Tapi, saya sering merasa kecewa ketika Ayah bilang nggak bisa datang dan ingin dimengerti agar Ayah meluangkan waktu. Rasanya seperti akan meledak tanpa tahu apa yang mau meledak.”

“Dan perasaan itu masih muncul sampai sekarang?”

“Kadang-kadang, nggak sesering dulu.”

“Apa yang membuat perasaan itu berkurang? Apa yang membuat saat ini berbeda dengan dulu?” (hlm. 33)

Ada dua faktor saya membeli buku ini. pertama, nama penulisnya, ini adalah buku ketiganya yang saya baca. Kedua, judulnya dan covernya yang ternyata memang sangat mereprsentasikan isi bukunya. Anna yang sedang bersama kucing kesayangannya, tengah menyendiri di pojokan. Awalnya saya pikir pas liat covernya ini adalah kehidupan remaja alias anak SMA, karena sekilas warna baju dan bawahan yang dikenakan sang tokoh sekilas seperti seragam SMA; putih biru. Tapi ternyata setelah diamati lagi, baju yang dikenakan itu adalah kaos biru muda dengan bawaha celana selutut (terlihat dari kantong di belakangnya). Pelangi, kupu-kupu, dan juga kaktus bukanlah pemanis biasa dalam sebuah cover. Selama ini ada kupu-kupu di dalam perut Anna, kaktus yang diberikan seseorang untuk menggantikan kucing kesayangannya yang mati, dan pelangi menandaka bahwa masih ada secercah harapan di kehidupan Anna setelah mengalami goncangan hidup.

Mungkin karena penulisnya memang berlatar pendidikan di bidang psikologi, pendekatan yang dilakukan Nabila, tokoh psikolog dalam buku ini, porsinya sesuai dengan psikolog di dunia nyata; melakukan pendekatan kepada pasiennya, Anna dengan cara yang halus dan tanpa mengintimidasi seolah-olah Anna adalah seorang pendosa yang harus diadili. Dengan cara ini, dengan proses bertahap, perlahan Anna yang tertutup mau menceritakan semua kegundahan hatinya yang selama ini ia pendam sendiri.

Dalam kehidupan nyata, banyak kita temukan kasus seperti Anna. Tidak usah jauh-jauh, memasuki tahun kesembilan bekerja di sekolah, saya menemukan tidak hanya satu, tapi juga beberapa murid dengan kasus seperti Anna ini. Mereka tidak boleh dikuliti, apalagi diintimidasi, tapi harus dirangkul. Beruntungnya Anna memiliki sahabat-sahabat yang sayang padanya. Tidak pernah meninggalkannya. Padahal Anna justru sempat menjauh dari mereka. Sahabat-sahabatnya pernah bertanya padanya, apakah Anna bahagia, jika itu membuatnya bahagia, mereka tidak keberatan jika Anna agak menjaga jarak dengan mereka. Dan yang namanya sahabat sejati, mereka selalu ada dan menjadi orang pertama yang merangkul Anna di saat mengalami kondisi terendah dalam hidupnya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Jujurlah dengan dirimu sendiri. (hlm. 43)
  2. Bersahabat tidak selalu hars bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabata adalah tentang tetap saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik. (hlm. 70)
  3. Para ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Putri mereka akan tumbuh dan mengenali laki-laki baik seperti figur yang ditunjukkan oleh ayah mereka selama ini –yang mereka rekam sejak kecil. Cinta seorang ayah akan menyelamatkan putrinya dari laki-laki yang salah, dan itu adalah kemewahan bagi setiap anak perempuan. (hlm. 119)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kasihan kalau semua cewek naksirnya sama kamu. Bagi-bagi sedikit biar nggak kelamaan jomblo. (hlm. 66)
  2. Kita nggak semua tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri. (hlm. 77)
  3. Hubungan dua orang nggak cuma tentang menyenangkan hati orang lain tanpa memedulikan diri sendiri. (hlm. 133)
  4. Kenapa kamu mengorbankan keinginanmu sendiri? Kenapa dia melarang kamu? (hlm. 133)
  5. Laki-laki mana yang tega membuat perempuan yang dicintainya menangis di tempat umum? (hlm. 163)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Represi

Penulis                                 : Fakhrisina Amalia

Editor                                    : Tri Saputra Sakti

Proofreader                       : Tisya Rahmanti

Ilustrasi sampul                 : Orkha Creative

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2018

Tebal                                     : 264 hlm.

ISBN                                      : 9786020611945

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats