[REVIEW NOVEL] THANK YOU – ADARA KIRANA

THANK YOU - ADARA KIRANA

 

Thank You

Adara Kirana

Penerbit Inari

Cetakan Pertama, Juni, 2017

 

Sinopsis dan Blurb

Sejak TK, Adelia mengenal Rafa. Sejak itu pula, Adelia berteman dekat dengan Rafa. Saat SD, mereka diajari Kak Sarah—kakak Adelia—untuk bermain tantangan (dare) yang setelah melakukan harus mengucap “Terima Kasih”.

Seiring dengan kebosanan Kak Sarah, Adel dan Rafa pun bermain sendiri dan memodifikasi permainannya dengan menaruh kertas-kertas tantangan ke dalam sebuah kaleng bekas. Setiap mengambil satu kertas, si pengambil harus melakukan tantangan lalu mengakhirinya dengan ucapan “Terima Kasih” sebagaimana yang diajarkan oleh Kak Sarah. Kaleng itu pun diberi nama “Thank You”.

Beranjak remaja, mereka mengenal teman-teman baru. Askar, Hana, Gilang, dan Putri. Mereka pun bermain “Thank You” bersama dan itu RUDI—haRUs DIlakukan. Permainan inilah yang menggambarkan kisah drama remaja, enam murid SMA, tentang percintaan, persahabatan, dan keegoisan diri.

Seperti pada blurb, ada salah satu tantangan. Rafa menantang Adel untuk curhat dan merekam perasaannya kepada cowok yang ia taksir. Inilah yang membuat Adel kebingungan.

Karena—

Rafa tahunya Adel naksir Askar.

Rafa maupun Adel tahu Askar naksir cewek lain.

Namun Rafa tidak tahu kalau ternyata Adel naksir dia.

 

Komentar

Manis dan lembut. Begitulah yang saya rasakan ketika membaca novel ini. Di tengah kesibukan luar biasa (sok sibuk banget sih wkwkwk) mengurusi kehidupan perkuliahan yang sebenarnya sedang libur tapi tetap ambil banyak kegiatan, saya senang menyempatkan baca novel ini.

Saya tidak menyangka, jika “Thank You” akan digunakan sepanjang novel ini dengan cemerlang. Penulis mampu menyajikan cerita tanpa menghilangkan esensi dari objek terpenting dari novel ini, yakni permainan “Thank You”. Penuturannya pun enak, Penulis banyak menyajikan dialog yang mampu menjelaskan karakterisasi dan “kepentingan” para tokoh.

Cerita yang aslinya sederhana, menjadi suatu hal yang bermakna. Penulis fokus pada jalan cerita, tidak perlu repot-repot menjelaskan mengenai lokasi atau latar tempat. Sebab Penulis memberikan ruang kepada Pembaca secara universal untuk membayangkan sendiri kisah ini terjadi di mana dan suasananya seperti apa. Namun jelas, Penulis telah memberikan klu pada dialog menggunakan “lo-gue” dan sempat menyebut “tidak jauh dari Bogor” dan “main ke Gambir” untuk merujuk latar tidak jauh-jauh dari Jabodetabek.

Selain itu, penyuntingannya pun rapi, meskipun ada beberapa kali saya menemukan miss.

Contoh:

  • Di halaman 118-119. Pada paragraf pertama, disebutkan bahwa Gilang yang meninggalkan grup (yeah, meskipun pada ilustrasinya merupakan multichat). Akan tetapi, pada ilustrasi, saya bingung sebenarnya yang keluar itu Putri ataukah Gilang. Sebab, yang menulis di chat adalah Putri dan yang meninggalkan grup adalah Putri. Selain itu, bahkan chat Putri pun sepertinya salah ketik dengan chat Gilang.
  • Pada halaman 133, Adel bercerita bahwa ia sudah kenal Gilang sejak SMP. Padahal, sebelumnya diceritakan bahwa mereka baru mengenal Gilang justru saat MOS SMA (halaman 23-27).
  • Dsb.

 

Namun sebenarnya, itu bukan masalah yang berarti. Wkwkwkwk. Hanya kurang sinkron saja.

Overall, saya menyukai novel ini.

 

4/5 bintang.


Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats