[Review] Novel Loving The Pain by Hilda Afidawati





 Deskripsi Buku
Judul                : Loving the Pain
Pengarang       : Hilda Afidawati
Penerbit           : Uwais Inspirasi Indonesia
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Dimensi           : 13 x 19 cm 
ISBN             : 978-602-6926-77-7
Harga             : Rp. 55.000

 Sinopsis

Arin bertahan dengan rasa sakit. Dia tetap mencintai Farel walaupun Farel tak pernah membalas perasaannya. Dia tetap bertahan hingga pada suatu ketika Arin harus menghentikan perjuangannya mempertahankan rasa di hatinya. Bukan Arin yang menyerah, tetapi keadaan yang memaksanya untuk berhenti.

Kemudian Renald datang, dia benar-benar mengusik Arin. Apalagi Arin diberikan tanggung jawab untuk membimbing anak nakal itu. Awalnya Renald benar-benar sulit diatur, Arin pun sempat menyerah. Tapi Arin bangkit lagi, dia membimbing Renald dengan cara halus. Sedikit demi sedikit Renald bisa memperbaiki nilainya dan juga menghilangkan kebiasaan buruknya. Sering menghabiskan waktu bersama membuat Renald merasakan sesuatu yang lebih.

Awalnya dia menyangkal, namun perasaan itu benar adanya. Arin yang sibuk mengurusi Renald pun perlahan melupakan perasaannya pada Farel. Namun Arin sadar, perasaanya belum benar-benar hilang. Hingga datang sebuah kesempatan emas, Farel menyatakan cinta Pada Arin. Dia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan itu.

Lalu, bagaimana dengan Renald?

[Review] Terlambat Menyadari Hadirnya Cinta


Disaat mencintai seseorang, kadangkala gayung tak pernah bersambut dengan baik. Terlalu berambisi mengejar sesuatu pun juga membuat seseorang lupa jika selama ini ada orang lain yang memberikan benih-benih cinta yang lebih dari sekedar yang dia rasakan saat bersama orang yang dikasihi. Namun dia terlambat menyadarinya, ketika cinta itu benar-benar pergi meninggalkan di sudut penyesalannya. Novel ini selain mengangkat tema tentang cinta, penulis juga menyelipkan dengan keadaan lingkungan sosial di ibukota.

Andrea Arinata, seorang remaja putri di sebuah SMA Jakarta yang berprestasi mengagumi seorang lelaki saat dia duduk di bangku kelas 10. Nyatanya, Farel – sosok yang dikagumi Arin – tidak peka akan kode-kode kecil yang diberikan Arin untuknya. Justru dari situlah, Arin tidak berputus asa dalam memperjuangkan perasaannya. Namun, ketika dia mengetahui Farel adalah kekasih salahsatu musuh di SMP nya dulu, yaitu Cindy, membuat Arin terpaksa menyerah dengan keadaan yang tengah dihadapinya (hal. 25).

Walau tengah dilanda sakit hati, Arin tak pernah sekalipun terjebak hingga mempertaruhkan prestasinya di sekolah. Bahkan kiprahnya semakin gemilang. Hingga akhirnya dia diberikan tanggung jawab oleh seorang guru BK untuk mengarahkan salah seorang murid baru bernama Renald yang memiliki kebiasaan buruk di kelas.

Renaldi Sebastian, yang merupakan murid pindahan dari SMA Garuda Jakarta adalah salahsatu cowok yang Arin temui di koridor sekolah. Kesan pertama yang Renald berikan membuat Arin jengkel. Tapi, nggak taunya Renald malah sekelas dengan Arin. Apalagi dia juga duduk di bangku sebelah Farel.

Dari situlah, permulaan pertengkaran kecil antara Renald dan Arin dimulai. Bermula dari sikap Renald yang tiba-tiba berubah saat kesan pertama yang songong, cuek, menjadi hangat, dan sok kenal baik ketika akhirnya sekelas dan Renald duduk berdekatan dengan Arin. Hingga keduanya bertukar nomor ponsel masing-masing.

Keributan lainnya yang dilakukan Renald dan Arin di sekolah di antaranya adalah, berbicara dan tidak menulis ketika pelajaran, hingga perbuatan iseng yang dilakukan Renald saat olahraga basket, membuatnya menjauh dari Arin karena merasa bersalah telah membuat Arin dihukum oleh Pak guru.


Renald menjauh, Arin merasa ada yang kurang. Bahkan sikap Renald malah menjadi-jadi dan liar seiring tidak ‘menyapa’ antara Arin dan Renald. Seperti melanggar peraturan sekolah, dan bergabung dengan geng pembuat onar.


“Hahaha, kalian tuh berantem terus ya! Hati-hati nanti jatuh cinta, loh,” kata Tiara. (hal. 36)

“Bukannya suka, tapi gue ngerasa gak ada energi aja kalo gak ribut sama Renald.” (hal. 43)

“Setau gue, cinta itu perasaan nyaman jika dekat dengan seseorang dan cinta itu tulus datangnya dari hati, bukan karena ambisi, obsesi, atau sekedar rasa kagum aja. Dan biasanya jantung lo suka dag dig dug gitu kalo deket sama orang yang lo cinta,” kata Tiara. (Hal. 44)


Kekacauan yang dibuat Renald dan geng telah diselesaikan dengan baik oleh Arin. Sehingga, mau nggak mau, Renald pun juga harus fokus dengan kelas akhirnya di SMA. Ketika ujian UAS telah selesai diadakan, Renald menempati peringkat terakhir di kelasnya. Berbeda halnya dengan Arin yang menempati peringkat pertama.

Oleh karena itu, Bu Rini wali kelas Renald dan Arin, serta Bu Lisa selaku guru BK, memberi tanggung jawab kepada Arin untuk membimbing Renald. Dia khawatir jika Renald tidak lulus dengan nilai ujian yang kecil nantinya. Padahal menurut Bu Rini, Renald sebenarnya mampu, tetapi dia malas.

Dari situlah, selanjutnya muncul berbagai perjalanan dan kisah yang akhirnya membuka tabir dibalik sikap Renald yang cuek, sombong, dan tidak mempercayai adanya cinta, memahami betapa pentingnya sahabat, solidaritas, kesehatan, serta peranan uang untuk orang-orang yang membutuhkan.

Mau nggak mau, Arin pun berusaha membimbing Renald walaupun tak sesuai harapannya. Karena Renald sangat sulit untuk diarahkan. Pernah, keduanya bertengkar hingga tidak saling bicara untuk beberapa saat. Sampai akhirnya perkembangan belajar Renald meningkat setelah Arin dan dia melakukan belajar bersama. Bahkan ayah dan ibu Arin sempat menganggap keduanya adalah sepasang pacar.

Karena sebab saling bersama itulah, semakin hari, semakin Renald merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika dia bersama Arin. Apalagi saat keluar berdua ke rumah kardus dengan Arin. Renald yang menganggap biasa tentang perasaan itu, dan kurang cakap untuk mengatakan kepada Arin, amat terpukul kala Farel datang menjumpai Arin.


“Gue keras kepala? Bukannya yang keras kepala itu elo?” – hal. 69

“Nald, inget ya! Lo itu jangan Cuma ngehafal rumusnya aja, tapi harus dipahami juga. Percuma lo inget rumusnya tapi nggak tau caranya.” – hal. 75


Akankah Arin mampu membuat Renald kembali ke jalan yang diharapkannya? Apakah Arin akan menerima cinta orang yang pernah dikasihinya tanpa mempedulikan orang lain yang tulus mencintainya? Akankah jalinan kisah yang terlambat disadari itu akan tersampaikan?

Temukan sendiri kisahnya dalam Novel Loving The Pain Karya Hilda Afidawati ini.

***
Novel Loving The Pain ini, mengangkat kisah tentang dunia remaja pada umumnya. Namun, dikemas dengan sangat apik oleh penulis, Hilda Afidawati. Alur yang diambil yakni Maju Mundur, namun tetap sesuai dengan isi cerita yang disampaikan.

Isi yang syarat akan makna dan juga pengetahuan. Seperti penjabaran mengenai materi pelajaran yang disampaikan oleh pak guru, yang juga ditulis oleh penulis, sehingga pembaca juga ikut membuka lembaran tentang materi pelajaran yang mungkin sama dan pernah dipelajari.

Untuk tokoh dan penokohan, saya menganggap kalau tokoh Arin adalah sosok sempurna dan amat sempurna dalam kisah ini. Tapi dibalik itu, penokohan yang sempurna itu bisa dikemas dengan baik oleh penulis. Tentang tokoh-tokoh lainnya, amat sangat membantu jalannya cerita dalam Novel ini. Porsinya juga cukup antara satu dengan yang lainnya.

Mengenai settingatau tempat, maupun latar waktu, penulis juga memberikan keterangan yang cukup membantu bagi pembaca untuk menganalisa kapan, dan di manakah cerita ini berlangsung. Sehingga, tidak ada kesan “tempelan” sama sekali.

Tentang hikmah, atau kata mutiara yang bisa dipetik dari novel ini, amat banyak oleh-oleh yang bisa dibawa oleh pembaca nantinya setelah mengulik isi novel dari awal hingga akhir. Tentang betapa pentingnya kesehatan itu, uang sekecil apapun itu, tentang arti kebersamaan dan sosialisasi serta solidaritas antara lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi.

Namun demikian, ada yang masih perlu diperbaiki oleh penulis, seperti typo, penulisan dan penggunaan imbuhan di- yang kurang pas dan konsisten. Selain itu masih ada juga kata yang perlu di garis miring, karena menggunakan bahasa asing, atau bahasa Inggris, maupun penggunakan tanda baca dalam sebuah frasa yang kurang pas. Seperti “Makasih, Pa.” Papa Renald menoleh. Nah, itu seharusnya setelah kata Pa, cukup pakai koma (,) karena masih satu frasa dengan kalimat berikutnya. Sehingga tidak perlu memakai titik (.)

Lepas daripada itu, Novel ini layak dan pantas untuk dieksekusi dan diminati. Dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan renyah. Selain itu, saya sangat mengapresiasi sekali kegigihan penulis dalam menghasilkan karya yang berbeda daripada yang lainnya. Walaupun tema tentang remaja sangat banyak dipakai. Tapi, dibawakan dengat sangat berbeda oleh Hilda Afidawati yang lahir pada tahun 2000 ini. Ingin tahu lebih detail mengenai novel ini, kalian bisa langsung chat personal ke akun sosial media penulis, di bawah ini.
Facebook         : https://facebook.com/hilda.afidawati.5
Pin BBm         :  5D44380A
Twitter            : @HAdifawati
Email               : afidawatih@gmail.com

***
Untuk akhir review ini, saya akan bagikan beberapa kata sindirian di bawah inil

“Janji, janji, dan janji. Lo terlalu kebanyakan janji, sampe-sampe lo lupa buat nepatin semua janji lo. Gue capek tau, nggak?” umpat Arin – hal 81

“Justru Lo harus buktiin ke Bu Lisa, kalo Lo itu bisa buat Renald berubaha. Jangan nyerah gitu aja, lo haus tarik kata-kata Lo! Pokoknya Lo harus lanjutin terus misi, Lo. Inget Rin... – hal. 84

“Lo tau gak? Uang 15 ribu yang biasa Lo buang-buang, Cuma buat beli rokok itu berharga banget bagi mereka.” – hal. 88

“Haha... masih kecil kok udah tau pacar-pacaran sih? ....” – hal. 89

“... Gue salut dan kadang malu sama mereka, anak-anak sekecil itu harus berjuang sendiri buat bertahan hidup. Sedangkan gue, apapun masih minta dari orangtua,” ucap Arin.
“Woi... sembarangan tuh ngomong, gue tuh profesional ya... Gak mandang ganteng atau jeleknya. Emangnya elu...” – hal 97

“Bahkan gue yang beruntung masih punya Mama sering ngeluh, gue selalu menyalahkan Tuhan, kenapa Dia harus ngambil Papa. Harusnya gue bersyukur masih punya Mama yang selalu sayang sama gue,” – hal. 102

“Tapi biasanya kalo di buku-buku dongeng Kak Arin kasih, pangeran sama putri itu saling jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya. – hal. 120

Semoga bermanfaat [Review] Novel Loving The Pain by Hilda Afidawati, dan Happy Reading ya gaes...

Salam hangat, 15 Januari 2017
Khoirur Rohmah,


Share this post:

Recent Posts

Comments are closed.

View My Stats