REVIEW Media Darling Ala Jokowi

Jokowi bisa menjadi media darling karena bahasa tubuhnya yang akrab berhadapan dengan kamera. (hlm. 5)

Belakangan ini, perkembangan kajian media tak bisa lepas dari rintisan Roland Barthes yang memilih budaya media sebagai bidang penelitiannya. Banyak yang ia tunjukkan dari kajian media itu. Ketika melihat foto, Barthes membedakan dua gejala tanda yang tak bisa dipisahkan: foto secara keseluruhan dan isi foto yang dibangun dari berbagai unsur. Dari tanda-tanda itu bisa ditangkap pesan denotatif (literer) dan konotatif. Mengapa ada dua pesan yang bisa sekaligus ditangkap oleh pembaca atas sebuah foto?

Itulah sekilas tentang teori Barthes. Kebetulan dulu pas skripsi zaman kuliah juga memakai teori Barthes ini, semiotika: ilmu yang mempelajari tanda di dalam tanda. Namun, saat ini fokus utama kita bukan sedang memperdalam semiotika. Kita akan tahu betapa piawainya Jokowi menempatkan diri sebagai objek foto sehingga dapat menebarkan pesan denotatif dan konotatif dengan kuatnya. Untuk lebih memperjelas apa itu pesan denotatif dan konotatif sebagaimana dikemukanan Barthes, ada baiknya kita ‘membaca’ beberapa foto Jokowi yang dimuat dalam buku ini. Salah satunya adalah saat beliau mencium bendera merah putih seusai menyatakan kesiapan menerima mandat sebagai calon presiden di tahun 2014.

Kehadiran Jokowi memang menjadi magnet tersendiri bagi para kuli tinta. Pasalnya, berita apa pun terkait nama Jokowi dijamin langsung laku. Setelah terplih menjadi Gubernur DKI, saat kepulangannya ke Solo, Jokowi masih menyempatkan diri mengundang wartawan di Solo untuk makan siang bersama dalam suasana yang cair. Begitu pun saat menjadi presiden terpilih, Jokowi masih ingat kepada wartawan Solo. Saat mudik lebaran, Jokowi tetap gayeng (akrab) dengan sejumlah wartawan. Jokowi tidak membatasi waktu untuk bertemu di luar jam kerja. Jika ada waktu, pasti dia bersedia diwawancarai. Bahkan saat acara santai bersama keluarga, jika memang memungkinkan, dia pasti mau diwawancarai. Begitu pula untuk urusan busana yang dikenakannya saat bertemu dengan wartawan ketika di luar jam kerja. Jokowi dengan santainya mengenakan busana seadanya, bahkan saat mengenakan sarung sekalipun.

Jokowi mau terbuka kepada media untuk urusan pribadinya. Ia tidak melulu menceritakan urusan kantor, tetapi ada kalanya diselingi kehidupan keluarga maupun hobinya sehingga suasana jadi cair. Keterbukaan dan keakraban dengan media ini menjadikan Jokowi dianggap sebagai anak kesayangan media. Namun, di balik sikap keterbukaannya, Jokowi memiliki kelebihan lain, yakni bahwa Jokowi sudah melek media. Ia sudah memahami pemetaan berita yang menarik alias news value. Dia sadar bahwa segala macam jawabannya memiliki nilai berita yang menarik. Bahkan, satu ucapan atau tingkah laku pun dapat menjadi berita yang layak dijual.

Keberhasilan Jokowi membangun brand di media mainstream ternyata juga merembet ke media sosial. Jokowi pun menjelma menjadi Raja Media Sosial, dan kondisi ini kian menguatkan elektabilitasnya di ranah politik. Menariknya, pemberitaan Jokowi di media ini lebih banyak yang positif. Kalaupun ada kritikan pasti hanya sekian persen. Itu pun pasti kritikan yang diucapkan oleh lawan politiknya. Jokowi benar-benar menjadi kesayangan media. Di media sosial, jika Jokowi diserang lawan politik, Jokowi tak perlu susah payah meresponsnya, karena publik akan mati-matian membela Jokowi.

Ketika publik punya image tersendiri terhadap nama kita, artinya kita telah berhasil menjadikan nama itu sebagai brand. Diam-diam personal brand kita telah terbangun yang ditandai dengan tiga hal, yakni identifikasi (identifiable), entitas dan nilai (specific promises). Tanpa disadari, personal branding yang melekat pada diri saya adalah sebagai pustakawan sekolah si mahluk langka. Bahkan kata ‘pustakawin’ yang merupakan nama blog buku sejak sepuluh tahun yang lalu, kerap disalahartikan bagi banyak orang sebagai nama istilah pustakawan yang perempuan. Padahal yang benar adalah pustakawati, hahaha… x) Begitu juga dengan Jokowi, personal brandingnya terbentuk melalui proses panjang. Mulai dari sebagai wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, sampai menjadi presiden dua periode ini. Meski buku ini terbit saat beliau terpilih lima tahun yang lalu, hal-hal yang beliau lakukan sekarang masih sinkron dengan keadaan lima tahun lalu. Beliau masih ramah dengan para wartawan, bahkan tak jarang para wartawan diundang ke istana. Beliau aktif membagikan kegiatannya di sosmed, bahkan memiliki akun youtube. Istana terbuka bagi siapa saja. Dulu mah boro-boro ya, sekarang istana seperti rumah bagi siapa saja. Bukan lagi sebagai tempat ekslusif. Banyak tokoh ternama, baik tua maupun muda, baik segala bidang pernah diundang ke istana.

Ada beberapa hal, terkait karakter Jokowi, yang mendorong percepatan personal branding:

  1. Jokowi melayani
  2. Jokowi: sederhana dan jujur
  3. Jokowi menjaga pluralisme

Jokowi memiliki strategi dalam membangun personal branding dengan tidak memasang wajahnya di baliho atau spanduk, tetapi lebih mengutamakan untuk membuat keunggulan produk sehingga terjadi authentic brand story yang akan menular dari mulut ke mulut.

Menurut Yswohadi, seorang konsultan branding, apa yang dilakukan Jokowi sebenarnya sangat sederhana, yakni menciptakan produk yang unggul. Konsumen kemudian yang bekerja keras untuk menyebarkan produk itu dan memasarkan authentic brand story kepada konsumen lain di Tanah Air. Cerita itu secara natural mengalir di kalangan tukang becak, obrolan di warung tegal hingga diskusi ilmiah di kampus. Dengan cara getok tular, obrolan menyebar dan diterima secara luas sehingga dianggap sebagai kebenaran. Dalam teori pemasaran, menurut Yuswo, fenomena itu merupakan wisdom of crowd.

Dalam teorinya, personal branding tidak bisa dibangun dengan instan melainkan harus melalui proses jangka panjang. Personal branding selalu terkait dengan reputasi atau rekam jejak. Personal branding juga membutuhkan rasionalitas politik. Untuk itu harus ada modal berupa kerja politik dengan komunikasi yang baik dan reputasi politik yang kuat. Itulah yang akan menambah dan memperkuat artikulasi brand.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Media Darling Ala Jokowi

Penulis                                 : Retno Wulandari

Layout isi                             : Era Saptiana

Desain sampul                   : Sofiani

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 182 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1162-3

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats