REVIEW Kemarau

Meminta kepada Tuhan sudah sepatutnya. Memang kepada Tuhan-lah kita meminta. Akan tetapi, meminta yang bukan-bukan, Tuhan akan marah pula. Yang boleh kita minta kepada Tuhan hanyalah agar jerih payah kita berbuah. Tapi meminta tanpa usaha, hanya murka Tuhan-lah yang kita terima. (hlm. 28)

Musim kemarau di masa itu sangatlah panjang. Hingga sawah-swah jadi rusak. Tanahnya rengkah sebesar lengan. Rumpun padi jadi kerdil dan menguning sebelum padinya terbit. Semua petani mengeluh dan berputus asa. Orang-orang mengomel perintah yang menyuruh mereka agar dua kali turun ke sawah di tahun itu. Setengah bulan setelah benih ditanam, bendar-bendar tak mengalirkan air lagi karena hujan sudah lama tak turun. Setiap pagi dan setiap sore para petani selalu memandang langit, ingin tahu apakah hujan akan turun atau tidak. Tapi, langit selalu cerah di siang, dan alangkah gemerlapnya di malam hari dengan bintang-bintang. Dan setelah tanah sawah mulai merekah, mulailah mereka berpikir. Ada beberapa orang pergi ke dukun, dukun yang terkenal bisa menangkis dan menurunkan hujan. Tapi, dukun itutak juga bisa berbuat apa-apa setelah tumpukan sabut kelapa dipanggangnya bersama sekepal kemenyan.

Ketika rengkahan tanah di swah sudah sebesar betis, rumput-rumput dan belukar sudah menguning, sampailah putus asa ke puncaknya. Lalu, mereka lemparkan pikirannya dari sawah, hujan setetes pun tak mereka harapkan lagi. Sebab meskipun hujan akan turun juga saat itu, taklah ada gunanya bagi sawah mereka. Dan untuk membunuh rasa putus asa, mereka lebih suka main domino atau main kartu di lepau-lepau.

Hanya seorang petani saja berbuat lain. Ia seorang laki-laki sekitar 50 tahun. Pada ketika bendar-bendar tak mengalirkan air lagi. Sawah-sawah sudah mulai kering dan matahari masih terus bersinar dengan maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bamboo. Lalu disandangnya di kedua ujung bambu itu. Dan dua belek minyak tanah digantungkannya di kedua ujung bamboo itu. Diambil air ke danau dan ditumpahkannya ke sawahnya. Ia mulai dari subuh dan berhenti pada jam Sembilan pagi. Lalu dimulainya lagi sesudah asar, dan berhenti pada waktu Maghrib hampir tiba. Dan beberapa kali angkut tak dilupakannya mengisi kedua kolam ikannya. Untungnya sawah yang luas itu tidak begitu jauh dari tepi danau. Laki-laki itu bernama Sutan Duano.

“Mak Uyun, membalikkan baju dan celananya. Lalu ia mengangkat tangannya ke langit. Berputar-putra sampai peluhnya bercucuran.”

“Mengapa pula dia itu?”

“Kata orang, ia meminta hujan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad dahulu.”

“Ya. Tak turun juga.”

“Memang Tuhan takkan memberi kita hujan kalau musim kemarau tiba.”

“Mengapa tidak?”

“Sebab Tuhan telah mengatur ala mini dengan aturannya. Ada musim hujan, ada musim kemaraunya. Kalau kita minta hujan di musim kemarau, itu artinya kita minta supaya Tuhan mengubah aturannya.” (hlm. 26)

Sebenarnya saya tidak berencana membeli buku ini. Pas ke Gramedia, random aja ke rak buku untuk cari kira-kira manakah buku yang menarik hati. Nah.. pas berhenti di deretan sastra, ternyata banyak buku sastra lama yang cetak ulang dengan cover baru. Dan langsung tertuju pada buku-bukunya A. A. Navis. Berhubung uang di kantong pas-pasan, untuk satu penulis, saya hanya mengambil dua buku. Untuk A. A. Navis, saya ambil buku ini dan buku Jodoh (yang merupakan kumpulan cerpen).

Sejujurnya, meski di perpustakaan sekolah tempat saya bekerja ada beberapa buku A. A. Navis yang masih ada eksemplarnya, seperti Robohnya Surau Kami, saya belum tergerak untuk membaca buku-buku yang ditulisnya, karena mikirnya buku-buku edisi sastra lama biasanya isinya berat, otak ini nggak nyampe, wkwkwk… x))

Tapi begitu baca ini, langsung jatuh cinta dengan tulisan A. A. Navis . Yaiyalah…bagus, kamu aja yang telat baru baca x)) #ToyorDiriSendiri meski ini settingnya udah lumayan jauh rentang waktunya denga sekarang, tapi isinya masih relevan banget sama kehidupan masyarakat kita di zaman ini. Malah bisa dikatakan malah bisa memberikan solusi di masyarakat kita yang selalu pesimis akan nasib mereka.

 “Berterimakasihlah pada Tuhan. Karena Dialah yang telah menggerakkan hatiku berbuat demikian.” (hlm. 16)

Lewat masalah kemarau, sesuai judul buku ini, penulis menyelipkan pesan penting bahwa nasib seseorang tidak akan berubah dengan tiba-tiba hanya dengan menengadahkan tangan ke langit, memohon pada sang Kuasa. Karena diperlukan juga usahan dan kerja keras untuk mengubah keadaan. Masyarakat kita, terutama kaum emak-emak, sampai silau dengan ketampanan seseorang yang padahal belum giat bekerja. Ini mirip banget ama kisah Sutan Duano dalam buku ini. Bedanya, Sutan Duano ini sifatnya justru kebalikannya. Dia tidak mau dipuja-puja. Dan dia sangat sedih ketika orang-orang yang datang padanya hanya karena pamrih padanya.

Selain membahas tentang kemarau, juga ada banyak selipan pesan moral lainnya dalam buku ini. Pertama, tentang merantau. Di halaman 10-12, penulis menjabarkan tentang plus minusnya merantau, termasuk bagaimana imbasnya jika merantau ke kota. Kedua, tentang pentingnya gotong royong dan menolong terhadap sesama. Saat musim kemarau, jika warga bergotong royong membawa air dari danau tentu lebih memudahkan membuat sawah-sawah akan basah oleh air siraman yang mereka ambil dari danau. Ketiga, ada sindiran tentang muatan politis saat kemarau di halaman 18. Warga tidak mau diperintah, padahal dengan perintah itu akan memberikan solusi untuk sawah mereka yang mulai mongering. Keempat, masyarakat kita terlalu pesimis dalam hidup. Sutan Duano sampai mengurut dada. Mulai dari meminta tolong pada Wali Negeri, Lembah Tuah, Rajo Bodi, semuanya pesimis. Tidak mau menjalankan solusi yang diberikan Sutan Duano. Kelima, tentang menikah; dijodohkan, nikah muda dan juga menjadi janda di usia muda menjadi problem yang sampai sekarang juga masih melanda kehidupan masyarakat desa. Keenam, tentang bahaya efek yang ditimbulkan oleh sebuah fitnah. Di buku ini, kita bisa melihat bahwa Sutan Duano yang berniat baik dan ikhlas mengerjakan semuanya, malah terkena fitnah di sana-sini. Ini juga relevan dengan kehidupan sekarang yang pada demen tebar hoax tanpa memikirkan untuk menyaring terlebih dahulu berita yang didapat.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau di sini sangat sempit hidupku, mungkin di tempat lain Tuhan membukakan pintu rezeki selapang-lapangnya buatku. (hlm. 8)
  2. Hanya dengan bekerja giat orang akan dapat memperbaiki taraf hidupnya. (hlm. 13)
  3. Kalau Tuhan punya mau, memang tak seorang pun yang kuasa menghalanginya. Itu adalah takdir-Nya. Tapi, ada dua macam takdir. Takdir dan takdir yang diiringi dengan ikhtiar. (hlm. 21)
  4. Menolong orang yang kesulitan yang besar pahalanya. (hlm. 47)
  5. Kehidupan ini tidak lepas dari sebab dan akibat yang telah digariskan oleh takdir. Takdir telah ditetapkan pula oleh Tuhan atas umatnya. Tapi, hukum takdir bukanlah untuk menyuruhnya menyerah kalah, tapi berjuang. Berjuang ialah membuat pahala. Sedang menyerah ialah membiarkan diri tiada membuat pahala. Pahala adalah tujuan hidup, tuntutan Tuhan pada umat-Nya. (hlm. 56)
  6. Tawakallah pada-Nya. Kalau kau tawakal, Tuhan akan menolongmu. (hlm. 123)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan bermain judi dengan nasib. (hlm. 8)
  2. Orang-orang yang merantau itu pada masa permulaannya yang kadang-kadang panjang itu tenggelam seperti batu jatuh ke lubuk di rantau orang. (hlm. 10)
  3. Jarang sekali laki-laki yang sukses itu tetap setia pada istrinya yang pertama. (hlm. 10)
  4. Kota tidak bisa menentramkan hati. (hlm. 11)
  5. Kota dan kemewahannya adalah sarang kelaknatan. Pergi ke kota berarti kita memasukkan diri kita kancah yang laknat. Tidak banyak orang yang bisa tangguh mempertahankan imannya. (hlm. 12)
  6. Tidak usah kita mencoba-coba menentang cobaan yang dilontarkan iblis. Menghindari diri dari godaan iblis itu adalah suatu cara hidup yang lebih baik daripada menentangnya. (hlm. 12)
  7. Telah ditakdirkan rupanya bahwa mulut manusia bukan semata untuk makan saja, juga untuk bicara. Untuk makan ada hingganya, yakni sampai kenyang. Tapi untuk bicara manusia takkan puas-puasnya. (hlm. 33)
  8. Membaca Qur’an tanpa mengerti maknanya, sama dengan membaca koran bahasa Inggris yang tak kita pahami. (hlm. 35)
  9. Tidak baik menyalahkan istri sendiri pada orang lain. (hlm. 51)
  10. Tidak selamanya orang dapat menepati janjinya. Tapi, tidak menepati janji dengan sengaja, itulah mungkir. Orang yang mungkir, munafik. (hlm. 55)
  11. Perempuan berani apa saja, yang sejahat-jahatnya pun, asal untuk hatinya. Perempuan akan berani menjunjung bebasn dosa sepanjang hidupnya. (hlm. 123)
  12. Allah akan mengutuki perempuan yang memuja laki-laki lebih dari memuja Tuhan. (hlm. 124)
  13. Alangkah tamaknya kau. Maumu selalu untuk memudahkan hidupmu seorang. Tak peduli kau sesudah itu bahwa kehidupan orang lain akan hancur berantakan, meski orang lain itu anak kandungmu sendiri. (hlm. 155)
  14. Dosa sesama manusia dapat diselesaikan oleh sesame manusia. Dan setiap orang yang tak mau memaafkan manusia lainnya, orang itulah yang berdosa lagi. Tapi, dosa karena membiarkan diri dengan sadar melanggar larangan Tuhan, tidak akan diampuni Tuhan. (hlm. 156)
  15. Hidup ke dunia ini bukanlah untuk mengumpulkan dosa, tapi untuk melawan dosa-dosa yang mau menyusup ke diri kita. Kita harus berjuang melawannya. Berjuang ulet tanpa ampun. Pedomannya hanya satu untuk melawan dosa itu, yakni berpegang teguh pada aturan Tuhan, mengerjakan suruhan-Nya dan menghentikan apa yang dilarang-Nya. (hlm. 160)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Kemarau

Penulis                                 : A. A. Navis

Perancang sampul           : Tim Desain Broccoli

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Juli 2018

Tebal                                     : 162 hlm.

ISBN                                      : 978-602-050-353-0

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats