REVIEW Jadilah yang Terbalik!

“Dengan terbalik, segala sesuatu bisa menarik, keren, lucu, unik, luar biasa, dan sebagainya. Tapi ingat, bukan sekadar terbalik.” (hlm. 6)

Terbalik yang dimaksudkan di sini adalah ‘berbeda’. Hasilnya bisa unik, nyetrik, luar biasa, dan fenomenal. ‘Saudaranya’ adalah kreatif, imajinatif, inovatif, serta melawan arus.

Kita sering menginginkan yang terbaik, tapi masih melakukan hal-hal yang sama, pola pikir yang standar, aktivitas yang biasa-biasa saja, sistem yang monoton. Ya, hasilnya juga sama, biasa, tidak ada perubahan. Tidak ada perkembangan. Tidak ada kemajuan.

Ini berlaku bagi semua kalangan, baik pelajar, mahasiswa, santri, guru, dosen, pengusaha, seniman, penulis, ustad, dan lain-lain. Kalau melakukan hasil yang sama, maka tidak akan melahirkan sesuatu yang baru, apalagi yang terbaik.

“Dengan terbalik, kita mempunyai kesempatan besar untuk menjadi yang terbaik, karena kita mempunyai nilai lebih atau nilai tambah.” (hlm. 12)

Selain dari judul bukunya saja, sudah terlihat anti mainstream. Begitu juga dengan isi bukunya. Pertama, belajar dari iblis. Yaitu: visioner, komitmen, gigih dan terencana. Nah, kita kenapa kita harus belajar dari iblis? Melihat empat dari sifat iblis tersebut, kita bisa melakukan hal yang terbalik dari sifat iblis. Terbaliklah dari hal yang negatif, dari hal yang biasa, dari sesuatu yang monoton, dan dari perkara yang membosankan. Kalau iblis punya visi, komitmen, kegigihan, dan perencanaan yang matang demi suatu keburukan dan kejahatan, kenapa kita tidak miliki itu demi kebaikan dan mengharap ridho Tuhan?

Kedua, tata cara ‘bermaling’ atau mencuri. Meskipun kita perlu tahu tentang bagaimana seluk beluk, gelagat, dan cara pencuri melakukan aksinya. Istilah sedikit bicara banyak bekerja, itulah prinsip yang dimiliki maling. Sedikit bicara banyak bekerja. Kalau maling hanya banyak bicara, lalu kapan beraksinya? Bisa-bisa malah kesiangan. Nah, kalau kita ingin sukses melakukan sesuatu atau menggapai impian, maka mantra ini bisa dipakai. ‘Sedikit bicara banyak bekerja’. Bahasa Inggrisnya, ‘Talk Less do more.’ Berbicaranya sedikit tapi aksinya banyak. Meskipun banyak komentar negatif dari orang lain, tetaplah maju terus. Karena memang kebanyakan orang bisanya hanya berkomentar, meledek, dan lain-lain. Nah, kita harus terbalik dari mereka. Kita harus banyak action-nya daripada ngomongnya.

Ketiga, yang saya suka dari buku ini adalah BAB The Leaders are The Readers. Para pemimpin adalah para pembaca. Ya, memang benar. Kita lihat presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Beliau memiliki banyak bahan bacaan, baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing, termasuk bahasa Inggris. Bruce Lee, tokoh bela diri legendaris pun memiliki banyak koleksi buku bacaan dari berbagai bidang, khususnya filsafat. Memang orang-orang yang suka membaca belum tentu jadi pemimpin dan sukses, tapi setidaknya dia lebih unggul daripada yang lain dari segi ilmu, wawasan, tutur kata, cara berpikir, dan bahkan dari segi perilaku.

Keempat, ada satu tokoh menarik yang dibahas dalam buku ini. Pendiri asianbrain.com, pusat pendidikan internet marketing pertama dan terbaik di Indonesia. Hal yang menarik dari pesan moral kisah hidup Anne Ahira adalah bila Anne memiliki cita-cita, lebih baik kamu berkata kepada Yang Mahakuasa. Kalau kamu meminta pada Yang Mahakuasa, pasti dikabulkan. Perjuangan hidup Anna Ahira cukup berat. Mulai dari disangka memakai narkoba, disangka pelacur, dianggap anak durhaka dan tersesat, disangka gila dan dibawa ke dokter ahli jiwa, serta dicampakkan orantua, terutama mamanya. Melalui perjuangan yang penuh liku, pada tahun 2003, penghasilan Anne sudah mencapai ratusan ribu dolar. Tapi ia masih mencari tantangan baru. Maka pada pertengahan 2003 sampai akhir 2005, Anne menyusun dan menulis modul untuk membantu masyarakat Indonesia lebih mengenal internet marketing. Sejak saat itulah nama Anne Ahira mulai terkenal, dan berdirilah ASIAN BRAIN yang bahkan diminati pihak asing.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Hanya ikan mati saja yang mengikuti arus air, ikan yang hidup selalu melawan arus. (hlm. 24)
  2. Betapa bahayanya lisan jika tidak digunakan dengan baik. Namun sebaliknya, jika diarahkan kepada kebaikan, maka bisa mengundang pahala, rahmat, dan ridha-Nya. (hlm. 58)
  3. Kita sering memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin, namun lupa untuk menjadi pemimpi. (hlm. 62)
  4. Orang sukses selalu kelebihan cara, sedangkan orang gagal selalu kebanyakan alasan. (hlm. 68)
  5. Hidup di dunia ini sangat singkat, jadi jangan sampai kita melakukan kebiasaan-kebiasaan burk yang dapat mengundang murka Tuhan. (hlm. 88)
  6. Menolong itu tidak harus menunggu sukses. Justru menolong adalah salah satu pengantar menuju sukses. (hlm. 118)
  7. Habit pangkal hebat. Kalau kita habit, insyaallah hebat. Tentu saja habit (kebiasaan) yang positif dan bermanfaat. (hlm. 124)
  8. Banyak orang yang sukses karena memiliki nilai plus. Nilai lebih. Nilai tambah. (hlm. 148)
  9. Begitulah waktu, berjalan begitu cepat. Jika kita lengah, bisa ketinggalan. (hlm. 188)
  10. Walaupun kita dalam kondisi berputus asa, namun jangan berlama-lama berada dalam kondisi itu. Segeralah ambil keputusan. (hlm. 194)
  11. Daripada mengejek, lebih baik mengajak. Mengajak pada kebaikan, pada aktivitas yang positif dan produktif. (hlm. 198)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jadilah yang Terbalik!

Penulis                                 : Suryana Hasan

Penyunting                         : Aditya

Pemeriksa aksara             : Aditya

Layout                                  : Rustam Setting

Ilustrasi                                                : Khoirur Roihan

Desain sampul                   : Mas Pri

Penerbit                              : Checklist

ISBN                                      : 978-602-6763-82-2

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats