REVIEW Happiness Cafe

Ketika seseorang diberi kelemahan pada satu sisi, berarti ada kekuatan di sisi lain. (hlm. 42)

Kebahagiaan sesungguhnya memiliki 4 level. Pertama dan yang terbawah adalah kebahagiaan secara fisik. Ini bisa didapatkan bila kita memiliki kehidupan yang berkecukupan; cuku sandang, pangan, papan. Kedua, kebahagiaan secara emosional. Kita akan bahagia memiliki teman-teman yang baik, keluarga yang mencintai dan menyayangi kita. Kita bahagia bila kita hidup di lingkungan yang aman dan terhindar dari rasa takut yang mencekam. Ketiga, adalah kebahagiaan secara mental. Ini bisa didapatkan bila kita mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri kita, menjadi manusia yang lebih sukses dan berdaya. Keempat adalah kebahagiaan secara spriritual yaitu ketika kita menjadi orang yang berguna bagi sesama. Kebahagiaan spriritual terjadi ketika kita merasa bahwa hidup kita ini betul-betul bermakna, bahwa kita ini sesungguhnya diutus Tuhan ke dunia ini dengan sebuah misi suci untuk memberikan kebaikan dan manfaat bagi sebanyak mungkin orang.

Keterbatasan atau kesempurnaan fisik sesungguhnya bukanlah faktor terpenting untuk mencapai kebahagiaan. Yang jauh lebih mendasar dari itu adalah penemuan makna hidup. Sebelum makna hidup ditemukan apapun yang kita alami hanya akan menjadi peristiwa atau kejadian biasa. Berbagai peristiwa berlalu hilir mudik di depan mata kita, sesuatu yang rutin dan berjalan begitu saja. Sesuatu yang seringkali luput dari perhatian kita karena tak pernah kita perhatikan apalagi pikirkan. Inilah yang sering kali membuat kita merasa jenuh dan bosan.

Sesungguhnya perasaan jenuh dan bosan itu bukanlah karena kita melakukan sesuatu yang rutin. Rutinitas sama sekali tidak berkaitan dengan rasa bosan. Perasaan bosan sesungguhnya disebabkan oleh satu hal yang tiadanya makna. Hidup yang tak bermakna adalah hidup yang sungguh membosankan. Hal ini menjadi semakin bertambah menyesakkan dada bagi mereka yang mengalami keterbatasan fisik. Bagi mereka hidup yang tak bermakna tak sekedar membosankan, tetapi adalah penderitaan yang luar biasa dan menghancurleburkan semua harapan.

Ah, saya juga mengalami yang namanya rasa jenuh dan bosan di tahun 2017. Tahun termalas saya dalam hal bekerja dan secara individu. Di tahun 2018 ini sepertinya tepat sekali membaca buku ini yang berisi 11 tokoh meski dengan keterbatasan fisik yang mereka miliki tapi tidak mengurangi semangat mereka untuk menjalani hidup bahkan berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. Membaca tokoh-tokoh dalam buku ini seperti mendapat tamparan keras bahwa hidup yang kita jalani jauh lebih beruntung.

Pertama, ada Jessica Cox. Kemampuan Jessica menerbangkan pesawat terbang sesungguhnya adalah puncak dari kesuksesannya sebagai seorang manusia yang dilahirkan tanpa tangan. Mampu menerbangkan pesawat merupakan simbol kemapanan dan kesuksesan. Betapa tidak, menerbangkan pesawat pastilah tidak semudah mengemudikan mobil, menerbangkan pesawat penuh dengan bahaya dan tantangan, dan menerbangkan pesawat adalah pekerjaan yang memiliki prestise dan gengsi tersendiri.

Nick Vujicic, menjadi tokoh panutan berikutnya. Saat lahir mengalami gangguan Tetra-amelia yang langka: tanpa kaki, tanpa lengan di tingkat bahu, dan berkaki tapi dengan dua kaki kecil, salah satunya hanya memiliki dua jari kaki. Perlu waktu 12 tahun bagi Nick untuk menerima kenyataan hidup yang harus dialaminya. Hingga kini beliau menjadi motivational speaker, perlu proses yang tidak instan. Suatu penderitaan bisa berubah menjadi kebahagiaan jika kita bisa menemukan maknanya.

Siapa yang tidak kenal kisah Helen Keller? Sosok yang buta, bisu dan tuli. Bagaimana dia bisa menjalani hidup yang saya kira jika kita mengalaminya belum tentu kuat seperti Helen Keller. Beliau bisa dinobatkan sebagai role model dalam hal optimisme. Awalnya juga dia tidak bisa menerima kenyataan ini, tapi berkat dukungan keluarga yang sangat sabar membimbingnya hingga bisa menjadi sosok yang menginspirasi. Saya pun pernah membaca biografinya yang memang sangat penuh perjuangan ini.

Selain itu, masih ada tokoh lainnya yang juga bisa kita baca kisahnya dalam buku ini.

Banyak sekali kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Sukses bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, melainkan sesuatu yang harus diraih dengan kerja keras. (hlm. 30)
  2. Banyak orang bilang itu tidak mungkin. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Semuanya mungkin, asal kita memang menetapkan dalam hati bahwa semua itu mungkin. (hlm. 38)
  3. Tidak ada kata tidak bisa, bahwa hidup itu hanyalah persoalan mau atau tidak mau. (hlm. 47)
  4. Jika seluruh dunia mengatakan sesuatu yang buruk pada kita, kita tidak perlu percaya pada mereka. (hlm. 49)
  5. Bahwa tidak ada sesuatu yang dapat disebut sebagai nasib buruk. (hlm. 55)
  6. Setiap kita sesungguhnya diutus Tuhan ke dunia ini untuk sebuah maksud dan tujuan yang khusus. (hlm. 67)
  7. Suatu penderitaan bisa berubah menjadi kebahagiaan jika kita bisa menemukan maknanya. (hlm. 68)
  8. Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagi Tuhan. (hlm. 69)
  9. Langit adalah batas dan kita dapat mewujudkan apa yang kita tetapkan dalam pikiran jika kita mau mencobanya. Jangan stress pada kegagalan karena hanya dari kegagalanlah datangnya kesempurnaan. (hlm. 70)
  10. Kebebasan bermimpi tidak perlu dilarang atau dibatasi. (hlm. 91)
  11. Jika kau menjalani hidupmu dengan cara yang benar, karma akan merawat dirinya sendiri. Mimpi-mimpi itu akan datang kepadamu. (hlm. 97)
  12. Hanya dengan memiliki iman yang cukuplah kita bisa menghadapi masalah apapun dalam hidup ini. (hlm. 120)
  13. Hal-hal terbaik dan paling indah di dunia tidak dapat dilihat atau bahkan disentuh, semua itu harus dirasakan dengan hati. (hlm. 162)
  14. Iman adalah suatu kekuatan dahsyat yang dapat mengubah apapun, serta membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. (hlm. 180)
  15. Tuhan takkan pernah meninggalkan dan mengabaikanmu. (hlm. 185)
  16. Kita harus tetap punya rasa ingin tahu dan pantang menyerah sesulit apa pun keadaannya. (hlm. 253)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Happiness Cafe

Penulis                                                 : Arvan Pradiansyah & Hermawan Aksan

Penyunting                                         : Abu Ibrahim

Sampul                                                 : Anisa Anindhika

Pewajah isi                                         : CreatiFast

Penerbit                                              : Pustaka Inspira

Terbit                                                    : Mei 2015

Tebal                                                     : 301 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-70483-1-7

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats