REVIEW Dilarang Mengeluh

“Jangan mudah mengeluh, kawan. Kehidupan memang tidak mudah, tetapi bukan untuk dikomentari dan dikeluh-kesahkan. Hari demi hari memang kadang terasa berat, tetapi bukan untuk menjadikanmu mudah marah, berprasangka buruk, dan tidak bersyukur.” (hlm. xvii)

Buku ini mencoba menjelaskan tentang hal-hal kecil yang sering terlupakan. Betapa sebenarnya Allah Mahabaik dan selalu berbuat baik pada semua mahluk-Nya. Allah menciptakan manusia dengan sifat suka mengeluh, maka Dia bukakan pula jalan pintas agar keluhan tersebut tidak tertahan di dalam dada, tetapi tidak juga harus berhamburan tanpa tujuan. Jalan itu adalah mengadukan semuanya kepada Allah. Katakan semua keluhan tersebut tanpa mengurangi rasa syukur kepada-Nya. Yakinlah bahwa Allah mendengar semua keluhan hamba-Nya dan akan membukakan jalan keluar atas semua masalah tersebut.

Ada beberapa bahasan yang menjadi tema favorit dalam buku ini. Pertama, masalah jilbab. Sudah berjilbab dari kecil bukan berarti kebal godaan. Terbiasa memakai jilbab jika hendak keluar rumah bukan berarti bebas dari rintangan-rintangan. Memang, tidak ada hinaan seperti yang diterima orang-orang yang berhijrah. Tidak ada yang nyinyir dan mengatakan sok alim. Dari awal, semua orang tahu bahwa kita memang berjilbab. Kita memang menutupi aurat sebagaimana semestinya. Namun, ternyata tidak semudah itu. Itu tadi sekelumit pengalaman penulis.

Berbeda dengannya, saya mulai memantapkan memakai jilbab baru mau lulus kuliah alias sudah di ujung semester. Sebenarnya saat SD, saya bersekolah di tempat yang berbasis agama yang artinya seragam sekolahnya adalah wajib berjilbab. Saat SMP, masuk ke sekolah negeri, mama bilang, kalo mau pakai seragam muslimah jangan karena terpaksa, tapi karena keinginan sendiri. SMA, hati juga belum tergerak, dan saya menjadi satu-satunya anak Rohis yang tidak berjilbab kala itu. Begitu pula saat masuk kuliah, masih masuk UKM Biro Kerohanian Islam di fakultas pun masih menjadi satu-satunya mahasiswa yang tak berjilbab. Anehnya, saat kuliah, saya justru mengemban tugas menjadi pemred buletin jumatan di kampus masjid, hahaha… x))

Karena saya mengenakan jilbab karena kesadaran sindiran, bukan karena paksaan ataupun ikut-ikutan tren, sampai hari ini pun tidak mengalami kendala apa pun dalam berjilbab. Bekerja pun tidak masalah. Rasanya seperti mengenakan jilbab sejak kecil. Jika kita mengenakan jilbab karena kesadaran diri, rasanya hanya seperti mengenakan baju yang sebelumnya belum pernah kita pakai. Sesimpel itu perumapamannya. Tidak ada beban berat di atas pundak. Dan seiring waktu, tanpa disadari kini saya mulai mengurangi mengenakan celana. Rasanya sekarang lebih nyaman mengenakan rok, meski belum bisa sepenuhnya meninggalkan celana. Semua itu butuh proses. Begitu pula saat adik yang tomboy banget, abis lebaran kemarin bilang ingin mengenakan jilbab, saya rasanya senang bukan main, sebab dia ingin berhijab karena keinginan sendiri juga, sama seperti saya dahulu. Dan alhamdulillah sudah sebulan lebih sama sekali nggak pernah mengeluh panas atau risih saat mengenakan jilbab. Sekali lagi, alhamdulillah 😉

Kedua. Kematian tidak kenal usia. Tak ada yang tahu kapan kematian datang. Allah tidak melihat usia, latar belakang, jenis kelamin, ras dan lain sebagainya. Sungguh, kematian selalu mengintai kita setiap detiknya, sebab kita tidak tahu kapan saatnya ia tiba. Oleh karena jangan terlena dengan dunia. Lantas yang bisa kita lakukan sekarang adalah berbuat baik selama hidup di dunia. Dunia adalah ladang untuk mencari bekal sebelum dipanggil pulang ke akhirat. Jangan sampai kita terlena dan lupa dengan keutamaan dan kekekalan akhirat nantinya.

Ketiga, perkara tentang mengingatkan dengan lemah lembut. Semakin canggih zaman, semakin banyak media sosial, semakin banyak pula orang yang nyinyir. Sejalan dengan itu, banyak pula yang niatannya baik, tetapi menyampaikan dakwah dengan cara yang kurang tepat. Padahal, semakin banyaknya orang yang nyinyir, yang lebih mengutamakan ego ketimbang akal, maka cara berdakwah atau menyampaikan sesuatu juga harus upgarde. Sejujurnya, saya jengah dengan beberapa orang yang kini dengan label hijrah tapi justru meng-underestimate yang lainnya. Sebenaranya bukan hijrahnya yang salah, tapi cara penyampaiannya yang kurang tepat, karena seringkali bertujuan berdakwah tapi kok ujung-ujungnya terkesan mendakwa seseorang x)) padahal dalam surat An Nahl ayat 125 telah disebutkan, “Ajaklah ke jalan Tuhan dengan kebijaksanaan dan nasihat baik dan berdialoglah dengan cara yang terbaik. Jadi, kita bisa memilih sendiri kan bagaimana cara terbaik itu? Bukankah kita juga dilarang mengingatkan keburukan di hadapan orang lain, sebab itu artinya mempermalukannya.

Keempat. Kita tak pernah tahu seberat apa orang itu menanggung beban. Dibalik senyum cerianya, tersimpan kekhawatiran. Di balik mata yang bersinar, ada kesedihan yang di sembunyikan. Di balik pelukan erat, ada hasrat untuk menjatuhkan semua beban. Di balik tawa kerasnya, ada duri-duri yang dilewatinya setiap hari, seolah tanpa henti dan tiada habisnya. Ia tetap mencoba bahagia meskipun tenaganya hampir tak bersisa.

Seringkali orang bisa bertahan sebab masih ada banyak cinta yang dia terima. Dia tahu bahwa orang-orang masih menyayanginya meski dalam diam. Dia tahu bahwa ada yang akan bersedih bila dia pergi. Masih ada yang berduka saat ia memutuskan menterah. Jadilah alasan bagi orang-orang yang kita sayang, sehingga kita juga menemukan alasan untuk terus bertahan setiap waktu yang tak tahu pasti kapan akan berakhir.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Dilarang Mengeluh

Penulis                                 : Niswahikmah

Editor                                    : Dewi Bestari

Artistik                                  : H. Achmad Subandi

Penerbit                              : PT Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2019

Tebal                                     : 162 hlm.

ISBN                                      : 978-602-04-9733-4

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats