REVIEW Dear, Me + GIVEAWAY

Ketika kalian sukses, rasa cemas mengenai kehiupan kalian akan menguap dan mereka menerima pilihan kalian. Untuk sekarang, kalian turuti saja kemauan orang tua, jika mereka tetap ngotot pada rencana mereka. Melangkahlah selangkah demi selangkah menuju impian kalian sehingga saat dewasa dan mereka masih ada, kalian bisa menghadiahkan kebahagiaan pada mereka. (hlm. 17)

ZIA. Selalu iri pada orang yang tenggelam pada rutinitas impian, dikelilingi keluarga yang sehangat mentari dan bersanding dengan pujaan hati. Dadanya sesak karena perasaan itu. Rasanya makin perih tatkala atmosfer di sekitar penuh dengan balon-balon pertanyaan yang menyiratkan sindiran dan ledekan seperti, kapan menikah?

Sewaktu berusia dua puluh tahun, dia bisa dengan mudah mengatakan, jodoh pasti bertemu, santai saja. Dia pun belum matang secara finansial, mental atau usia, atau.. orang yang disukai akan datang menjemput, Zia tengah memperbaiki diri sampai jalan menjadi komikus itu tidak gampang, dia masih mengusahakannya selagi muda.

Dan ketika bayangan itu menguap, menyeret kesadaran ke masa sekarang, dia menghela napas. Jawaban dari semua hiruk pikuk kepo orang-orang soal kelajangan atau cita-cita lamanya hanyalah senyuman ditemani desis lirih, doakan saja, selalu begitu jawabnya.

Namun, hidup tak sejalan dengan rencana indah. Kemalangannya bertambah, dia dipecat dari pekerjaannya. Dari situ dia mulai menyesali pilihannya saat masih remaja, hanya mengikuti apa kata orangtua, termasuk pilihan kuliah sementara sebenarnya dia sangat menyukai dunia komik.

Di tengah keputuasaannya itu, dia mengirimkan surat untuk dirinya sendiri saat remaja. Tepatnya lima belas tahun lalu, saat dia masih duduk di bangku SMA. Dimana masa ada cinta pertamanya dan (mungkin juga) bakal jadi cinta terakhirnya.

“Aku benar-benar tak ingin kau sampai salah pilih, tak ingin langkahmu tiba di masa ini, dalam keadaan seperti ini, menyedihkan sekali. Aku selalu mebayangkan, diriku di usia matang sudah menjadi komikus profesional dengan banyak penggemar, ada orang tua yang bangga pada pencapaianku, saudara serta sahabat juga senang memiliki seseorang sepertiku di kehidupan mereka, dan orang yang pernah kusukai, mengikatku dengan janji bersama selamanya.

Tapi, nyatanya… tak satu pun rencana bahagia itu terwujud. Kini, aku semakin ragu menjalani hidup. Apakah aku bisa menemukan pekerjaan? Apakah aku akan bertemu jodoh dan menikah? Bagaimana kalau aku tetap menganggur dan melajang? Bagaimana kalau di mata orang, aku hanya wanita tua yang merepotkan?” (hlm. 12)

Membaca kisah Zia di buku mengingatkan pada beberapa buku lainnya yang pernah saya baca. Landline-nya Rainbow Rowell, yang berisi tentang si tokoh utama mengunjungi masa lalu lewat saluran telepon dan A Week Long Journey-nya Altami N. D yang tokoh utamanya dipaksa mengikuti kuliah pilihan orangtuanya demi meneruskan bisnis mereka.

Di dunia ini tak sedikit yang memiiki nasib seperti Zia. Hidup dibawah bayang-bayang orangtua dan menjalani hidup tanpa ada rasa passion. Apa yang dilakukan Zia dewasa di masa depan menyurati Zia remaja di masa lalu ini sebenarnya sebagai representasi pelampiasan bahwa dia tak ingin apa yang sudah dipilihnya dulu akan mematahkan masa depan yang seharusnya sesuai harapannya. Mengambil alur mundur yang cukup lampau, ke lima belas tahun yang lalu, yang artinya saat itu Zia di masa generasi 90-an. Penulisnya bisa menyelipkan nuansa 90-an, seperti kirim atensi di halaman 94 saat media sosial belum ada, lagu First Love-nya Utada Hikaru yang memang hits banget di kala itu, begitu juga dengan selipan sinetron/drama/film di saat Zia masih remaja; sinetron Tersanjung, telenovela Betty La Fea dan Amigos, bahkan hingga film Ada Apa Dengan Cinta yang melejitkan Nicholas Saputra dan Dian Sastro yang menjadi semacam role model bagi remaja di kala itu. Tak lupa, ada juga selipan tentang meledaknya novel Harry Potter. Dan juga lagu Sheila on 7 menjadi semacam lagu wajib kala perpisahan sekolah. Bacanya senyum-senyum, soalnya Zia remaja ini sebelas dua belas seperti saya saat remaja. Apalagi pas bagian tanpa disadari, Addis ngemodus Zia dengan mengirim sms pake alasan minjem komik x))

“Meski bagi orang lain impian kalian adalah sampah atau remah-remah, kalian harus tetap membesarkan impian dengan pupuk kerja keras dan siraman doa. Suatu hari, bungkam kata-kata negatif orang lain menggunakan keberhasilan. Kala kalian sukses di bidang yang dianggap tidak mungkin oleh orang lain. Bilang pada mereka tidak ada yang tidak mungkin untuk yang tidak pernah menyerah.” (hlm. 137)

Itu adalah salah satu penggalan kalimat dari nasihat ibu guru Rikamalia yang diberikan untuk anak didiknya. Beliau melakukan hal itu karena dulu passionnya sebagai designer tidak direstui, orangtuanya yang berprofesi sebagai guru meminta Ibu Rikamalia melanjutkan karir mereka. Dan akhirnya, Ibu Rikamalia berdikari sebagai guru biologi SMA. Meski begitu, hasrat mendesain pakaian tidak pernah padam, beliau mengobarkan semangat untuk desain, bahkan ia dan suaminya merintis sebuah butik kecil di sela kesibukan bekerja.

Kebalikannya, saya dan adik-adik kuliah jurusan anti-mainstream bagi kebanyakan orang, dan untungnya memiliki orangtua yang sangat demokrasi akan pilihan anaknya. Saya kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan, dan salah satu adik ada yang kuliah di Jurusan Penjasorkes, karena hobinya memang olahraga. Sedangkan adik lainnya karena hobi nggambar sejak kecil, kini buka usaha sablon dan menerima orderan desain kaos. Memang kami nggak seperti anak lainnya yang hidupnya lurus-lurus aja dan selalu menuruti apa titah orang tua, tapi insyaallah kami bisa hidup dengan pilihan passion, sampai sekarang. Dan memang terasa sekali bedanya jika sudah digaris ‘bekerja’; kerja dengan passion dan kerja yang hanya sekedar mencari gaji. Beberapa teman kini sudah merasakan imbasnya, sama seperti Zia dalam buku ini, menyesal saat sudah di umur dewasa.

Saya sering banget menemukan siswa yang baru lulus dipaksa kuliah yang bukan minat atau bidang yang diinginkan. Ada yang diterima jurusan Kehutanan karena dia suka banget ama alam, malah disuruh bapaknya kuliah Kesehatan Masyarakat. Ada yang pengen banget masuk Sastra Jepang, nggak boleh ama orangtua karena jurusan sastra dianggap masa depannya suram dan dipaksa masuk jurusan Kedokteran Gigi. Ada yang udah keterima jalur SNMPTN maupun SBMPTN sekaligus, karena jurusannya semua yang dipilih pendidikan, sama orangtuanya nggak boleh diambil, suruh daftar kuliah Keperawatan. Pukpuk… :’)

Orangtua memang kerap menganggap lebih tahu masa depan anaknya tanpa memikirkan minat sang anak. Ada anak yang menerimanya dengan ikhlas karena takut kualat ama orangtua, ada juga yang ujungnya malah malas-malasan menjalani jurusan pilihan orangtuanya. Kalau yang tipikal begini, udah minatnya gak berkembang, nyenengin orangtua pun gagal.

Memang banyak pertimbangan mengapa orangtua terkadang tak sejalan dengan keinginan sang anak. Pertama, faktor lingkungan. Kedua, faktor keluarga. Dan ketiga adalah faktor ekonomi. Nggak hanya dari tokoh Zia, tapi juga tokoh Addis, Nana dan Pratista, penulis melalui menyelipkan pesan bahwa apa yang kita pilih di masa lalu akan menentukan hidup di masa depan.

Tatkala orang lain mengecilkan hal yang kau anggap besar, satu-satunya hal yang wajib dilakukan adalah berhasil. Saat kita berhasil membesarkan mimpi-mimpi kita, semua orang akan berkaca ‘apa aku berhasisl dengan impianku juga’ atau ‘bagaimana bisa mimpi mustahil itu terwujud?’ (hlm. 60)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tidak ada siapa pun yang bisa menebak hari esok. (hlm. 18)
  2. Temukan passion dan bersungguh-sungguhlah. Tak ada yang sia-sia untuk tidak menyerah. Tuhan selalu memberi hadiah untuk setiap usaha. (hlm. 18)
  3. Cinta itu diperjuangkan. (hlm. 32)
  4. Jika kau tidak fokus pada impian sejak dini, kau hanya akan menjadi bintang di masa depan dan orang-orang si sekitar akan menjauh sendiri. Tapi, ketika kau menjadi emas di masa depan, orang-orang dari masa lalu atau baru akan lengket bak ditarik magnet. (hlm. 38)
  5. Apa pun yang kalian cita-citakan, jika kalian yakin bisa berhasil di bidang itu, perjuangkan dan buktikan pada diri sendiri kalau kalian mampu. (hlm. 135)
  6. Tuhan selalu memberi hadiah untuk yang tidak pernah menyerah. Akan selalu ada penghargaan Tuhan bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh. (hlm. 135)
  7. Jaga diri, hati-hati dan selalu ingat Tuhan. (hlm. 156)
  8. Perjuangkan cintamu sebagaimana kau berjuang untuk hidup dan diri sendiri. (hlm. 174)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Hidup tidak sejalan dengan rencana indah. (hlm. 6)
  2. Ketika sendirian dan memiliki waktu luang, otak selalu nyasar ke masa yang telah lewat dan mencuatkan kata seandainya. (hlm. 9)
  3. Rasa suka memang menimbulkan keberanian bahkan untuk hal yang tidak disukai atau mustahil. (hlm. 33)
  4. Orang dewasa butuh meluangkan pandangan, tidak selalu mereka yang benar, kan? Bahkan kalau pelajaran didapatkan dari anak kecil pun orang dewasa harus menerima. (hlm. 48)
  5. Tidak boleh ada penyesalan di masa depan. Karena itu, kita melaju dengan nekat, bukan? (hlm. 80)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Dear, Me

Penulis                                 : Ariestanabirah

Penyunting                         : Diara Oso

Penyelaras akhir               : RN

Tata sampul                        : Amalina

Tata isi                                  : Violetta

Pracetak                              : Endang

Penerbit                              : PING (Laksana Group)

Terbit                                    : 2017

Tebal                                     : 208 hlm.

ISBN                                      : 978-602-407-154-7

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia.

2. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

3. Follow akun twitter @lucktygs, @Ariestanabirah, dan . Jangan lupa share dengan hestek GA #DearMe dan mention via twitter. (Jika punya twitter, nggak wajib)

4. Follow akun IG @lucktygs  (Jika punya IG, nggak wajib)

5. Isi di kolom komentar di bawah berupa nama, akun twitter/ IG dan kota tinggal. Nggak ada pertanyaan ya, cukup itu aja 😉

GA #DearMe ini berlangsung seminggu saja: 17-22 Juli 2017. Pemenang akan diumumkan tanggal 23 Juli 2017

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya… ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!


Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats