REVIEW Charlie and The Chocolate Factory

“Tidak ada cara untuk mengetahui ke  rah mana mereka pergi! Tidak ada cara untuk mengetahui apakah mereka mendayung ke hilir; atau kemana sungai ini mengalir! Tidak ada setitik pun cahaya, pasti ada ancaman bahaya.” (hlm. 117)

Seluruh anggota keluarga ini dan Charlie Bucket kecil tinggal bersama di rumah kayu kecil di pinggiran sebuah kota besar. Rumahnya nyaris tidak cukup besar untuk orang sebanyak itu, dan hidup luar biasa tidak nyaman bagi mereka semua. Hanya ada dua ruangan di dalam rumah itu, dan hanya ada satu tempat tidur. Tempat tidur itu diberikan kepada empat kakek-nenek karena mereka sudah sangat tua dan lelah. Mereka sangat letih hingga tak pernah turun dari situ. Mustahil bagi mereka bisa membeli rumah yang lebih baik –atau bahkan satu tempat tidur, mereka terlalu miskin untuk itu.

Mr. Bucket, ayah Charlie, satu-satunya yang bekerja di keluarga itu. Dia bekerja di pabrik pasta gigi, tempat dia duduk sepanjang hari di depan sebuah meja dan memasangkan tutup-tutup kecil ke bagian atas tube pasta gigi setelah diisi. Namun, pemasang tutup pasta gigi tidak pernah dibayar mahal. Mr. Bucket yang malang, tak peduli sekeras apa pun dia bekerja, dan secepat apa pun dia memasang tutup pasta gigi, upahnya tidak akan pernah cukup untuk membeli sebagian saja kebutuhan satu keluarga sebesar itu. Bahkan, uangnya tidak cukup untuk membeli makanan yang bergizi bagi mereka semua. Yang bisa mereka beli hanyalah roti dan margarin untuk sarapan, kental dan dan kol rebus untuk makan siang, serta sup kol untuk makan malam.

Keluarga Bucket, tentu saja tidak kelaparan, tapi semuanya, terutama Charlie menjalani pagi hingga malam dengan merana karena perasaan kosong dalam perut mereka. Dan, meskipun ayah dan ibunya sering merelakan jatah makan siang atau makan malam mereka agar bisa diberikan kepadanya, itu nyaris belum cukup bagi seorang anak lelaki yang sedang tumbuh seperti Charlie. Satu-satunya yang dia inginkan melebihi apa pun adalah cokelat.

Hanya setahun sekali, pada hari ulang tahunnya, Charlie bisa mencicipi sedikit cokelat. Seluruh anggota keluarga menabung uang mereka untuk peristiwa istimewa itu, dan ketika hari menyenangkan itu tiba, Charlie selalu dihadiahi sebatang cokelat kecil untuk dimakan sehari. Dan, setiap kali menerimanya, pada pagi ulang tahun yang menyenangkan itu, dia akan menyimpannya dengan hati-hati di dalam sebuah kotak kayu kecil miliknya, dan menjaganya seolah itu adalah sebatang emas padat.

Sementara itu, di kota tempat Charlie tinggal, ada sebuah pabrik coklat raksasa. Itu bukan pabrik cokelat raksasa biasa. Itu Pabrik Wonka, dimiliki seorang pria yang dipanggil Mr. Willy Wonka, penemu dan pembuat cokelat terbesar yang pernah ada. Betapa besar dan mengagumkannya tempat itu. Ada gerbang besi raksasa di depannya, dan tembok tinggi mengelilinya, serta asap mengepul dari cerobong-cerobongnya, juga suara-suara mendesis aneh yang berasal jauh dari dalamnya. Dan, di luar tembok-tembok itu, sejauh setengah mil ke segala arah, udara beraroma lelehan cokelat yang pekat dan harum.

Dua kali sehari, dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah, Charlie harus berjalan melewati gerbang pabrik itu. Dan, setiap kali melintas, dia akan mulai berjalan sangat, sangat lambat, dan mengangkat hidungnya tinggi-tinggi untuk berlama-lama menghirup aroma nikmat cokelat dalam-dalam di sekelilingnya.

“Mr. Willy Wonka bisa membuat marshmallow dengan rasa violet, dan caramel kental yang berubah warna setiap sepuluh detik kalau kau mengisapnya, serta gula-gula kapas yang meleleh dengan nikmat saat kau menaruhnya di antara bibirmu. Dia bisa membuat permen karet yang tidak pernah kehilangan rasanya, juga balon-balon gula yang bisa kita tiup hingga berukuran raksasa sebelum kau pecahkan dengan peniti dan menelannya. Dan, dengan cara yang sangat rahasia, dia bisa membuat telur burung biru yang indah dengan bercak hitam, dan jika kau mengulumnya, telur itu perlahan semakain mengecil hingga tiba-tiba tidak ada yang tersisa selain seekor bayi burung mungil dari gula merah muda, bertengger di ujung lidahmu.” (hlm. 15)

Mungkin ini yang namanya rejeki anak baik. Charlie yang miskin, beruntung terpilih sebagai salah satu dari lima orang yang berhasil mendapatkan tike emas di cokelat produksi milik Mr. Winky Wonka; akan diajak tur langsung oleh Mr. Willy Wonka untuk mengelilingi pabrik cokelat raksasanya itu, dan yang paling menggiurkan adalah semuanya akan dihadiahi cokelat dan gula-gula seumur hidup. Ya, seumur hidup!

Ada banyak pesan moral yang diselipkan penulisnya melalui perjalanan Charlie dan keempat orang lainnya yang diajak berkeliling pabrik raksasa oleh Mr. Willy Wonka ini. Misalnya, kita tidak boleh tamak, jangan mengambil yang bukan haknya. Contohnya, saat Violet mencicipi sup tomat, kemudian ada daging sapi panggang yang dilanjutkan pai blueberry dan krim. Sedari awal, Mr. Willy Wonka sudah mencegah mereka untuk mencobanya karena meskipun terlihat lezat, sebenarnya ini belum racikan yang selesai. Tapi Violet tak mendengarkannya. Dan nasib fatal bakal menimpanya. Begitu juga dengan tiga lainnya yang tamak dengan cara lain, karena tak mengindahkan apa perintah Mr. Willy Wonka. Hanya Charlie yang tersisa.

“Anak itu harus mendapat lebih banyak makanan. Kita ini tidak penting. Tidak perlu repot-repot untuk kita yang sudah tua ini. Tapi, untuk seorang anak yang sedang tumbuh! Dia tidak bisa seperti ini! Dia mulai terlihat seperti tengkorak!” (hlm. 55)

Memiliki kakek-nenek, bagi sebagian orang adalah menyenangkan, tapi sekaligus juga merepotkan. Tidak bagi Charlie, memiliki dua pasang kakek-nenek yang lengkap dari ayah dan ibunya adalah salah satu kekayaan yang tak ternilai harganya. Apalagi granma dan granpanya semua sangat menyayanginya, sangat memperhatikannya meski mereka hidup serba susah dan kurang. Meski begitu, mereka sangat terbiasa berbagi dan menyayangi satu sama lain. Bagi mereka, kebahagiaan Charlie adalah segalanya.

Selain itu, ada juga selipan tentang bahayanya sebuah televisi di zaman itu. Dan betapa pentingnya membaca. Terjabar lengkap di halaman 191-196:

“Buanglah tivimu segera, dan letakkan sebuah rak buku indah sebagai gantinya. Kemudian, isi rak-rak buku dengan banyak buku.” (hlm. 195)

Ini adalah buku pertama dari Roald Dahl yang saya baca. Beruntungnya, saya mendapatkan buku ini sekaligus sekuelnya langsung dari penerbitnya.

Buku ini cocok dibaca anak-anak, karena selain penuh petualangan yang akan memperkaya imajinasi bagi yang membaca, juga banyak selipan moral di dalamnya. Satu lagi, ada ilustrasinya yang sangat mendukung isi cerita 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Charlie and The Chocolate Factory

Penulis                                 : Roald Dahl

Penerjemah                       : Maria Lubis

Penyunting                         : Yuli Pritania

Penyelaras aksara            : Nunung Wiyati

Penata aksara                    : CDDC/NH

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Juni 2018

Tebal                                     : 215 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-307-6

Cover asli buku Charlie and The Chocolate Factory terbitan pertama:

Charlie and The Chocolate Factory versi film yang juga sukses:

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats