REVIEW Cantik itu Luka

Kepergian seorang kekasih bukanlah perkara sederhana. (hlm. 32)

Dewi Ayu. Ia datang dalam bentuknya yang paling fantastis. Kuburan tua itu bergoyang, retak dan tanahnya berhamburan bagaikan ditiup dari bawah, menimbulkan badai dan gempa kecil, dengan rumput dan nisan melayang dan dibalik hujan tanah yang bagaikan tirai itu sosok si perempuan tua berdiri dengan sikap jengkel yang kiku, masih terbungkus kain kafan seolah ia dank ain kafannya dikubur semalam saja.

Hal pertama yang ia ingat adalah bayinya, yang tentu saja bukan lagi seorang bayi. Dua puluh satu tahun lalu, ia mati dua belas hari setelah melahirkan seorang bayi perempuan buruk rupa, begitu buruk rupanya sehingga dukun bayi yang membantunya merasa tak yakin itu seorang bayi dan berpikir itu seonggok kotoran.

“Kau perempuan tua, aku tak yakin kau bisa menyusi bayimu.”

“Itu benar. Sudah habis oleh tiga anak sebelumnya.”

“Dan ratusan lelaki.”

“Seratus tujuh puluh dua lelaki. Yang paling tua berumur sembilan puluh dua tahun, yang paling muda berumur dua belas tahun, seminggu setelah disunat. Aku mengingat semuanya dengan baik.” (hlm. 3)

Dewi Ayu berdoa kapan pun ia ingat; di kamar mandi, di dapur, di jalan bahkan ketika seorang laki-laki berenang di atas tubuhnya, dan ia teringat, ia akan segera berkata, siapa pun yang mendengar doanya, Tuhan atau iblis, malaikat atau jin Iprit, menjadikan anaknya buruk rupa. Ia bahkan mulai membayangkan segala hal yang buruk. Ia memikirkan setan bertanduk, dengan taring mencuat seperti babi, dan betapa menyenangkan sekali memiliki bayi seperti itu. Suatu hari ia melihat colokan listrik, dan membayangkannya sebagai hidung bayinya. Juga membayangkan telinganya sebagai telinga panci, dan mulutnya sebagai mulut celengan, dan rambutnya yang menyerupai sapu. Dewi Ayu terbang dengan imajinasinya yang semakin liar dari hari ke hari sementara bayi di dalam kandungannya terus tumbuh. Hingga saat dia melahirkan, semua impiannya itu terwujud. Anaknya terlahir dengan wujud buruk rupa.

“Kau harus memberinya nama yang baik.”

“Yah. Namanya Cantik.”

“Oh.”

“Atau luka?”

“Demi Tuhan, jangan nama itu.”

“Kalau begitu, namanya Cantik.” (hlm. 5)

Dewi Ayu adalah pelacur paling favirit di kota itu. Hampir semua lelaki yang pernah ke tempat pelacuran, menyempatkan tidur paling tidak sekali bersamanya, tak peduli berapa pun uang yang harus mereka bayarkan. Bukan karena mereka telah terobsesi lama untuk meniduri perempuan. Tak seorang pun memperlakukannya secara kasar sebagaimana biasa mereka lakukan pada pelacur lain, sebab jika itu dilakukan, lelaki-lelaki lain akan mengamuk bagaikan perempuan itu istri mereka. Tak pernah hanya tidur dengan seorang lelaki dalam semalam. Untuk sikap ekslusifnya, Mama Kalong memberi tariff mahal bagi siapa pun yang menginginkan tubuhnya. Itu memberi keuntungan tambahan bagi perempuan tua yang tak tidur di malam hari itu.

“Ini rumah peristirahatan milik seorang pemilik pabrik limun di Batavia, aku lupa namanya, tapi tak ada bedanya, kini rumah ini milik kalian.”

“Untuk apa?”

“Kupikir kalian tahu. Kalian di sini jadi relawan bagi jiwa-jiwa tentara yang sakit.”

“Semacam sukarelawan palang merah?” (hlm. 79)

Akhirnya setelah sekian lama, dan setelah membaca buku-buku Eka Kurniawan yang lainnya (yang tentunya lebih ringan dibandingkan ini), akhirnya memberanikan diri untuk membaca buku setebal 505 halaman ini. Maka jangan heran jika harganya lumayan wow, tapi ya memang sesuai dengan jumalah halaman dan isi buku ini. Untungnya kemarin beli pas edisi Pemilu, lumayan diskon 70%, hehehe..

Buku ini sudah mengalami beberapa kali cetak ulang dengan cover yang juga beberapa kali berubah. Jujur, cover-cover sebelumnya sangat nggak greget x)) Dan buku yang saya beli ini, yang sudah memasuki cetakan ke tujuh belas ini, covernya menarik! Warnanya perpaduan merah pekat, merah kecoklatan, coklat. Jika diteliti, covernya merepresentasikan isi bukunya: adanya segerombolan anjing, ada seorang perempuan yang berdiri sendirian di tengah kuburan, kemudian ada sekelompk orang yang sedang baku hantam, dan juga ada sepasang kekasih yang sedang di atas perahu di sebuah lautan.

Waktu baca, awalnya saya pikir apakah ini cerita hantu yang menakutkan, karena openingnya adalah bangkitnya Dewi Ayu dari kubur setelah dua puluh satu tahun terkubur di liang lahatnya. Meski tidak seratus persen keliru, dan memang bercerita adanya hantu-hantu yang berkeliaran, tapi novel ini tidak menakutkan.

Banyaknya tokoh yang hadir dalam buku ini, dan banyak juga yang porsinya sedikit ditampilkan, tapi semua memiliki arti penting dalam kehidupan Dewi Ayu. Meskipun begitu, kita sebagai pembaca bisa menikmatinya sampai akhir. Wajar sekali jika buku ini memiliki ketebalan yang bisa masuk kategori buku bantal, karena mengupas kehidupan Dewi Ayu dari zaman gadis sampai dia memiliki cucu. Luar biasa kan ya jalan ceritanya. Runut sekali. Satu per satu, kisah anaknya diceritakan. Alamanda yang hampir seratus persen memiliki sifat dan wajah yang cantik rupawan menurun dari ibunya. Maka tak heran juga banyak lelaki yang menginginkannya. Sayangnya, dia justru harus menikah dengan orang yang tak dicintainya. Adinda, bisa memiliki laki-laki yang dicintainya, yang dulunya sebenarnya menyukai kakaknya. Tapi nasib malang juga menimpanya dalam hal lain. Terakhir, ada Maya Dewi yang lebih cerdas dibandingkan kakak-kakaknya. Sayangnya, dia harus menikah dengan laki-laki yang dulunya adalah pacar ibunya di usia yang sangat muda. Itu kemudian menjadi masalah dengan sekolah. Mereka tak mau menerima perempuan bersuami duduk di bangku sekolah, sebab mereka khawatir itu berpengaruh buruh pada anak-anak yang lain. Kelak bertahun-tahun kemudian ia harus melakukan hal yang sama ketika sekolah menolak menerima anak gadisnya, Rengganis Si Cantik.

Lalu, bagaimana Cantik yang merupakan anak keempat yang dilahirkan Dewi Ayu yang tidak mengetahui siapa bapaknya, seperti kakak-kakaknya yang lain?!? Cantik baru diceritakan diseperempat akhir buku ini. Dan barulah selesai menamatkan buku ini kita akan mengerti apa makna dari cantik itu luka yang menjadi judul buku ini.

Buku ini tidak hanya membahas seputaran kehidupan pelacuran di Indonesia saat zaman tentara-tentara Jepang masih berkeliaran. Ada juga selipan yang cukup kental, tentang paham komunis di Indonesia yang kala itu lumayan berkembang lewat sosok Kliwon. Ada quotes Kliwon yang sangat merepresentasikan sikap para komunis lewat buku ini: “Jika seorang komunis tak punya niat memberontak. Jangan percaya ia komunis.” Begitu ucapannya di halaman 179.

Pantas saja jika buku ini mengalami cetak ulang hingga belas kali, diterjemahkan ke berbagai negara, dan mendapatkan banyak penghargaan baik di dalam maupun di luar negeri dalam bidang Sastra. Wajar saja jika Eka Kurniawan sering dianggap regenerasi Pramoedya Ananta Toer. Mereka memiliki beberapa kesamaan: tidak hanya sekedar menulis, tapi ada banyak pesan yang diselipkan dalam jalan cerita di buku yang mereka tulis.

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Cinta tak perlu saling memiliki. (hlm. 32)
  2. Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila. (hlm. 34)
  3. Cinta bisa menyembuhkan penyakitnya, bahkan penyakit apa pun. (hlm. 36)
  4. Kau terlalu banyak baca buku cerita, Nak. (hlm. 43)
  5. Kecemasan datang dari ketidaktahuan. (hlm. 84)
  6. Anak membawa rejekinya sendiri-sendiri. (hlm. 94)
  7. Sakit karena cinta. Apakah cinta sejenis malaria? Lebih mengerikan. (hlm. 177)
  8. Laki-laki paling tampan sedunia memang bukan mahluk yang mudah untuk ditaklukkan. (hlm. 204)
  9. Cinta itu seperti iblis, lebih sering menakutkan daripada membahagiakan. (hlm. 221)
  10. Kawin dengan orang yang tak pernah dicintai jauh lebih buruk dari hidup sebagai pelacur. (hlm. 264)
  11. Terdengar seolah kawin merupakan hal mudah. (hlm. 267)
  12. Seorang sahabat sangatlah kurang, tapi seorang musuh adalah terlalu banyak dan kau membuat banyak orang membencimu. (hlm. 317)
  13. Sia-sia cemburu pada orang mati. (hlm. 352)
  14. Tak pernah ada orang konyol menghitung berapa banyak hantu. (hlm. 367)
  15. Jangan karena kau punya ilmu hitam maka kau bisa berbuat sesuka hatimu. (hlm. 417)
  16. Ilmu hitam sangatlah tidak berguna. Mereka memberimu kekuatan semu, palsu dan artisial, dan tentu saja jahat. (hlm. 417)
  17. Cinta telah memberikan bukti bahwa cinta merupakan kekuatan yang jauh lebih besar dari apa pun. (hlm. 417)
  18. Jadilah lelaki sejati, maka aku menyukaimu. (hlm. 443)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cantik itu Luka

Penulis                                 : Eka Kurniawan

Penyelia naskah                               : Mirna Yulistianti

Pemeriksa aksara             : Sasa, Galih, Arasy

Desain sampul                   : Orkha

Setter                                   : Fitri Yuniar

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Maret 2019 (Cetakan ketujuh belas)

Tebal                                     : 505 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1258-3

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats