Review Buku : Kambing dan Hujan

  • Judul Buku : Kambing dan Hujan ; Sebuah Roman
  • Penulis : Mahfud Ikhwan
  • Penerbit : Bentang Pustaka
  • Jumlah Halaman : 374 Halaman
  • ISBN : 9786022910275
  • Harga : Rp. 79.000

Ya, saya baru baca buku bagus ini di tahun 2019, empat tahun sejak buku ini diterbitkan. Ceritanya tahun lalu saya melihat review buku Dawuk di Goodreads dan rasanya langsung tertarik beli. Trus cek lagi penulisnya, ternyata Mahfud Ikhwan lebih dulu menulis novel Kambing dan Hujan sebelum Dawuk, yang ternyata bagus juga ratingnya dan reviewnya pun banyak yang bilang bagus. Akhirnya saya memutuskan untuk baca dulu Kambing dan Hujan ini sebelum membaca Dawuk.

Siapa bilang menikah itu satu agama itu bakalan gampang? Buktinya rintangan besar atas niat menikah Mif dan Fauzia, yang sama-sama anak Centong membuat mereka harus menguak kembali apa yang terjadi zaman dulu, zaman para orangtua mereka.

Diawali dengan cerita Mif dan Fauzia yang ingin menikah, lalu ngomong deh ke orangtua masing-masing, trus orangtuanya kaget kenapa Mif harus bertemu Fauzia? Dan mengapa pula Fauzia ingin menikah dengan Mif? Dari situ lah, cerita dari kedua belah pihak bergulir.

Bapaknya Mif, Pak Kandar atau Iskandar atau Is adalah orang Selatan dan Abahnya Fauzia, Pak Fauzan atau Mat atau Moek adalah orang Utara. Ada apa dengan Utara dan Selatan? Di situ masjidnya berbeda, apa yang diyakini mereka berbeda. Sama-sama islam hanya saja berbeda, Selatan itu Muhamadiyah dan Utara itu Nahdlatul Ulama (NU).

Kalo dibilang buku ini cerita roman, ya emang sih tapi justru ceritanya lebih banyak ke cerita sejarah islam di Centong, desa yang disebutkan dalam buku ini. Saya bisa dengan mudah menebak desa apa yang dimaksud karena pernah mendengar beberapa budaya yang disebutkan dalam buku ini. Di desa Centong, pihak perempuan yang meminang laki-laki. Walau cerita ini fiksi ya saya merasa ada hal-hal yang dibawa dari kisah nyata yang diceritakan Mahfud dalam buku ini. Cerita tentang kukun kawin itu juga menarik.

Perselisihan orangtua zaman dulu yang diceritakan dalam buku ini terasa sangat nyata, yang jelas masih sangat relevan hingga saat ini. Olok-olok antara keduanya pun saya rasa masih ada juga hingga sekarang. Itu yang membuat tema yang diusung buku ini menarik selain memang gaya penulisan Mahfud memang baik, mudah dinikmati dan saya merasa mendengar orang-orang tua itu bercerita layaknya Mif/Fauzia yang sedang mendengar bapak/ibu/pakdenya bercerita. Sangat menyenangkan, saya benar-benar menikmati buku ini.

Saya ingat dulu sewaktu SD pernah bertanya pada sepupu saya yang lebih tua, kenapa Islam ada perbedaan ini dan itu? Kalo itu orang muhamadiyah lalu kita islam apa? NU dia bilang. Saat itu saya cuma mengangguk-angguk saja dan menerima jika islam itu sendiri ada yang begini dan begitu. Buku ini memberi tahu saya banyak apa yang membedakannya dulu itu, darimana akhirnya lahir yang disebut pembaru.

Saat belajar mengaji dan sholat serta bacaannya ya saya masuk TPA, saya dan juga anak-anak pastinya akan menurut saja apa yang diajarkan kedua orangtuanya atau guru ngajinya. Saya belajar ngaji pake Iqra, berbeda dengan suami saya yang belajarnya gak pake Iqra. Lalu suami mengajarkan anak kami dengan menggunakan Iqra.

Suami saya adalah orang yang saya rasa lebih banyak tahu agama ketimbang saya, waktu awal saya baca buku ini saya bertanya singkat apa beda Muhamadiyah dan NU dan dijelaskan pun dengan singkat saja, gak ribet sampe detil. Tapi dalam perjalanan keagamaan kami, tentu saja kami berusaha menilai mana yang kami rasa lebih benar. Misal dalam hal menentukan 1 Syawal yang kadang jatuh pada hari yang berbeda. Suami saya bilang, ‘ayah percaya 1 syawal jatuh pada besok, kalo bunda merasa berbeda ya gak apa ikut pemerintah juga gak apa, gak harus sama’.

Novel ini memang jelas-jelas menuliskan ini cerita roman. Katanya cerita roman itu berakhir dengan tragis, tapi tidak dengan buku ini, endingnya bagus dan saya rasa memang itu lah yang diinginkan para pembaca.

Saya nyesel juga gak beli bukunya karena keburu baca ebooknya, tapi ya tetap aja buku bagus akan tetap jadi buku bagus kan ya? 😀

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats