REVIEW Bangku itu Kosong Dua

“Kalau kita terluka memang seharusnya disembuhkan dahulu. Bukan ditutup lagi dengan luka baru. Aku dan kamu sudah melakukan yang salah di masa lalu, terluka dan menutupnya dengan luka lagi. Kita nggak mencoba berusaha menyembuhkan luka lama itu dulu, tapi malah mencari masalah baru.” (hm. 199)

MATANGI PARABAWA. Artinya Sang Dewi yang mencintai orang lain. Anggi, panggilannya. Dulu, bapak dan ibunya sangat mengharapkannya. Berbagai cara dilakukan orangtuanya agar bis memiliki anak. Apalah daya, ketika dia lahir, Anggi sejak kecil harus menghadapi kerikil-kerikil kehidupan yang tidak sedikit. Ditambah lagi, bapak meninggalkan ibu dan dia sejak kecil. Sejak itu, Anggi kehilangan sosok bapak dalam kehidupannya. Seperti ada luka yang masih menganga dalam hatinya yang belum tertutup hingga dewasa. Menimbulkan rasa trauma yang mendalam bagi dirinya, terutama dalam menjalani hubungan serius dengan lawan jenis.

Buku ini memang mengisahkan perjalanan Anggi sejak dilahirkan di dunia ini hingga menambatkan hati. Saat menunggu kelahirannya yang sangat dinantikan ibu dan mbak buyutnya, bunga wijaya kusuma menjadi semacam simbol kelahiran. Bunga putih yang biasanya menjuntai dengan sedikit warna oranye muda di tengahnya biasanya akan mekar saat dini hari ini, sangat dinantikan oleh ibu dan mbak buyutnya. Karena jika Anggi tidak lahir kala itu, ibunya harus ‘brobos kebo’ yang artinya melewati badan besar yang biasa di sawah itu. Jujur, saya baru tahu dengan mitos itu, hahaha… x))

Masalah kesehatan bagi pasangan suami istri memang menjadi hal paling krusial dalam mendambakan anak. Kisah Barno yang kerap menyalahkan istrinya, Sarni yang tak kunjung hamil, ini kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Ya, seringkali pihak istri yang disalahkan saat sepasang suami istri belum memiliki anak. Padahal bisa jadi dari kesehatan suami yang bermasalah. Padahal apa salahnya mengecek kesehatan bersama-sama, baik pihak istri maupun pihak suami?

Tidak hanya itu, Barno, bapak Anggi ini juga tipikal yang tidak hanya keras pada istrinya tapi juga kemauannya. Harus banyak bersabar punya suami tipikal yang begini. Istri harus kuat-kuat iman karena bakal banyak mengalah. Kalau saya sih ogah punya suami cem kayak gini, buang ke lautan aja hahaha… x)) tapi tidak bagi Sarni, ibu Anggi. Awalnya dia cukup hebat bisa sabar menghadapi segala kemauan suaminya yang lumayan tempramen ini, tapi yang namanya manusia ya wajar sekali ada batas sabarnya. Puncaknya, ketika Barno, suaminya meninggalkannya selamanya dan kelak akan menikah lagi dengan perempuan lain.

Barno adalah representasi pemuda kala itu yang memiliki impian tinggi bisa mengubah nasib jika merantau ke kota. Sementara harus banyak yang dikorbankan dan ditinggalkan di desa. Dalam kehidupan nyata juga banyak sekali Barno-barno lainnya. Padahal kehidupan di kota, tak seindah ekspetasi. Kalau kita mau berusaha lebih keras lagi, kehidupan di desa sebenarnya bisa kita nikmati tanpa muluk-muluk.

Buku ini juga menyelipkan tentang sikap toleransi. Pertama, saat Mas Sandy sepupu Anggi yang melaksanakan shalat di ruang tamu. Mas Sandy adalah salah satu saudaranya yang berbeda keyakinan dengan Anggi. Sama seperti Anggi, saya juga lumayan banyak saudara yang berbeda keyakinan. Dan itu tidak masalah. Uniknya, bahkan ada beberapa rumah saudara yang meski berbeda keyakinan punya sajadah yang khusus disediakan bagi kita yang ingin shalat di rumahnya. Kedua, saat lebaran datang, Sarni, Ibu Anggi kebanjiran orderan kue untuk lebaran. Maka jangan heran, meski tidak merayakan lebaran, mereka justru kebanjiran kiriman makanan dari tetangga dan saudaranya yang merayakan lebaran berupa opor ayam, ketupat, rendang, sambal ati dan masih banyak lagi. Bahkan Anggi saat masih kecil juga kebagian salam tempel khas lebaran. Ini saya juga mengalaminya, jika lebaran datang, banyak juga tetangga maupun saudara yang berbeda keyakinan yang datang bersilaturahmi. Begitu juga saat natal tiba, kami juga biasanya datang ke tempat mereka. Tidak ada masalah. Ketiga, saat dewasa, Anggi bergabung dalam grup musik yang ternyata di dalamnya terdiri dari beberapa anggota yang berbeda agama. Frans sang pembetot gitar bas, Syifa yang spesialis biola. Ahmad gitar dua, sedangkan Anggi gitar satu saling mendukung satu sama lain saat mereka tampil di beberapa tempat.

Seperti disebutkan di awal, hubungan orangtua Anggi yang tidak berjalan baik, menimbulkan rasa trauma yang cukup mendalam bagi Anggi kelak di kemudian hari. Bagi orangtua, jangan pernah berselisih paham bahkan hingga adu mulut di depan anak-anak, karena tanpa disadari itu akan menyerap pada ingatan sang anak, bahkan hingga dewasa kelak. Bahkan itu akan menjadi semacam mimpi buruk yang berulang bagi sang anak. Memori tersebut memang susah dihilangkan meski beranjak dewasa. Harus butuh proses dan ada penyembuhannya.

Lewat tokoh Pakde Hendrik yang merepresentasikan pakde yang yang sangat menyayangi keponakannya secara tulus dan ikhlas seperti mengurus anaknya sendiri, kita juga bisa mengambil hikmah dari penyakit yang diidap Pakde Hans: diabetes. Disebutkan jika Pakde Hans memang senang sekali minum sirup yang manis banget. Kalau minum teh manis, gulanya sampai tiga sendok. Hal ingi mengingatkan salah satu om yang kebetulan meninggal setahun lalu tepat satu minggu sebelum bulan Ramadhan datang kala itu. Almarhum sangat menyukai sirup kuning yang manis plus es yang lumayan banyak. Kalau ke rumah, pasti bakal nanya apakah di rumah punya sirup tersebut. Juga mengingatkan akan tetangga, yang seumuran dengan saya, kebetulan dia berprofesi sebagai sopir angkot yang artinya seringkali minum kopi. Istrinya pernah bilang jika suaminya itu minum kopi, sehari bisa dua tiga kali. Itupun selalu kopi manis.

Saat Anggi beranjak remaja, ibunya, Sarni mengingatkan anaknya itu ketika sudah mendapatkan haid yang artinya sang anak anak harus menjaga kebersihan badannya. Harus mencuci pakaian dalam sendiri. Pembalut yang habis dipakai juga hendaknya dicuci terlebih dahulu dan jangan sembarangan harus dibuang. Dan menasehati Anggi bahwa adalah hal lumrah jika saat datang bulan akan merasakan sakit terutama di perut.

Oya, omong-omong soal Panji, sosok frater (calon Romo) ini mengingatkan saya akan zaman masih remaja. Dulu banget, Pakde Romo (Kakak kandung bapak yang memang merupakan pastur) lumayan sering berkunjung ke rumah dengan mengajak para frater didikannya setelah kunjungan ibadah di gereja di gereja tempat tinggal saya. Sekarang, pakde sudah ditempatkan di Bengkulu, yang artinya kami lumayan jarang bertemu kecuali jika beliau diundang ada acara-acara di gereja di sini, beliau selalu menyempatkan untuk mampir ke rumah. Entah kenapa, dulu saya melihat para frater-frater itu dengan jubahnya kok malah tjakep-tjakep ya, kayak ada karisma tersendiri gitu, hahahaha… x)) Sama kayak tokoh Panji dalam buku ini, wajar jika Anggi dag dig dug saat bertemu dengan Panji, bahkan sampai diingatkan guru seniornya, untuk tidak terlalu berdekatan dengan frater tersebut demi menghindari gosip yang tidak enak.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Menghormati Tuhan itu nggak usah malu-malu. Tuhan itu kan memberimu hidup dari awal hingga sekarang. (hlm. 2)
  2. Kalau kamu sudah besar, kamu harus jadi orang yang penuh kasih sayang dan mau membagikannya kepada orang lain. (hlm. 9)
  3. Berpasrah saja pada jalan yang akan diberikan oleh-Nya. Ada sesuatu yang lebih baik di depan sana menanti. (hlm. 18)
  4. Bagaimana pun cara kita berdoa, apa pun agamanya, yang paling penting kita selalu berdoa untuk Tuhan dan dari sini. (hlm. 36)
  5. Percaya saja, rezeki itu ada yang ngatur. (hlm. 45)
  6. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan. Dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (hlm. 59)
  7. Yang namanya jodoh itu ada yang ngatur, nggak hanya sehari dua hari kenal atau karena tampilan fisik saja. Harus tahu luar dalamnya dan butuh waktu mengenalnya. (hlm. 94)
  8. Makanya hidup itu harus menerima, menerima semua kejadian yang menimpa kita dengan lapang dada. Kalo nggak bisa menerima ya gitu, nyalahin terus. Nggak selesai-selesai juga. (hlm. 132)
  9. Kesempatan itu akan selalu datang padamu. Dalam bentuk apa pun. (hlm. 157)
  10. Cinta tak pernah memaksa, tanpa pamrih, setulusnya diberi bagi cinta itu sendiri. (hlm. 162)
  11. Manusia dilahirkan bukan karena tanpa maksud. Manusia dipertemukan bukan karena tanpa alasan. Saat alam membantu menjadikan seseorang manusia sebagaimana manusia seutuhnya maka maksud kelahiran dan alasan pertemuan itu akan menyempurnakannya. (hlm. 211)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kalau kamu tahu dicubit itu sakit maka jangan mencubit. Tapi, kalau temanmu yang kesakitan karena dicubit orang lain, temani dia. (hlm. 113)
  2. Susah juga ya ngomongin orang yang lagi nggak jelas gini. (hlm. 125)
  3. Menerima apa pun yang terjadi dalam hidup itu nggak semudah seperti membalikkan tangan. Butuh waktu dan proses yang nggak sebentar. (hlm. 133)
  4. Yang paling mengerti tubuhmu, ya kamu sendiri. Jadi jangan cuekin kalau tubuhmu sudah memberi tanda-tanda ingin diperhatikan. (hlm. 147)
  5. Kenapa juga lama-lama menata hati. Waktu kan terus melaju pergi. Mending kamu semangat lagi. Nggak usah peduli masa lalumu lagi. (hlm. 192)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Bangku itu Kosong Dua

Penulis                                                 : Anjar Anastasia

Desainer sampul & ilustrasi          : Chyntia Yanetha

Penata isi                                             : Yusuf Pramono

Penerbit                                              : Grasindo

Terbit                                                    : 2014

Tebal                                                     : 218 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-251-775-7

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats