Resensi Buku : BERDAMAI DENGAN KANKER

 

Berdamai dengan kanker, Senin 8 Okt.jpeg

INSPIRASI DARI KISAH PARA PENYINTAS KANKER

Judul Buku     : Berdamai Dengan Kanker
Penulis            : Rahmi Fitria
Penerbit         : PT Elex Media Komputindo
Cetakan I        : 2018
ISBN                : 978-602-04-5330-9
Tebal              : 205 hal

Peresensi       : Siti Nuryanti

Penyakit kanker adalah salah satu penyakit yang mematikan. Menurut WHO, kanker merupakan penyebab kematian nomor tiga di Indonesia. Kanker ibarat monster yang membuat siapapun yang mendengar namanya bergidik ngeri dan bagi penderitanya seolah lonceng kematian yang kapan saja dapat menjemputnya. Berbagai metode pengobatan untuk menyembuhkan penyakit kanker dijalani dari mulai operasi, obat-obatan, kemoterapi, radiasi dan lain sebagainya.  Serangkaian pengobatan tersebut, selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga waktu yang lama dan kesabaran menghadapi rasa sakit saat pengobatan.

Buku Berdamai dengan Kanker merupakan kisah nyata dari para penyintas kanker, termasuk penulis sendiri Rahmi Fitria yang bertahan dari kanker payudara. Rahmi Fitria menjalani pengobatan Self Healing. Pusat kesehatan terpadu HanaRa di Bandung, menjadi tempat pengobatan Rahmi dan juga Kakaknya yang terkena kanker ovarium stadium empat. Metode pengobatan di HanaRa dengan “memanfaatkan kecerdasan alami tubuh (body intelligence) melalui teknik kinesiologi untuk membantu mengukur pemulihan kesehatan seseorang” (hal :24).  Menurut dr Hanson Barki, dari HanaRa bahwa tubuh manusia perlu didengarkan agar optimal potensinya.

Dalam buku ini ada 13 orang penyintas kanker yang membagikan pengalamannya.  Dari ke tiga belas orang tersebut, salah satunya artis Titiek Puspa yang mampu mengatasi kanker serviks dalam tiga belas hari.  Pada tahun 2009 dalam usia 72 tahun Titiek Puspa didiagnosa menderita kanker serviks stadium tiga, ia menjalani pengobatan di Singapura dengan terapi radiasi 28 kali dan kemoterapi.  Pada kemoterapi yang keempat Titik Puspa merasa tidak kuat dan menghentikan pengobatan medis ini. Sepulangnya ke Indonesia Titiek Puspa menjalani meditasi. Teknik meditasinya dengan cara  duduk diam tanpa bersandar, menempelkan lidah ke langit-langit, sembari mengatur pernapasan (hal : 58). Meditasi ini dilakukan selama lima jam setiap hari dengan istirahat setiap satu jam dan setelahnya minum air putih. Pada hari ketigabelas Titiek Puspa merasakan perutnya seperti ditusuk-tusuk disertai sensasi seperti terbang dan melayang, menurut guru meditasinya bertanda ia sudah sembuh. Titiek Puspa memeriksakan penyakitnya di Singapura, dan dokter menyatakan tidak ada lagi sel kanker dalam tubuhnya.

Kisah inspiratif lainnya dari Indira Abidin yang berdamai dengan kanker payudara tanpa pengobatan medis. Indira menggunakan berbagai pengobatan alternatif antara lain pengobatan herbal, jaket listrik, diet alkali,terapi jus, terapi soda kue, olah napas dan terapi zikir. Dengan berbagai pengobatan yang dijalani membuahkan hasil, sel kankernya menurun hingga pada level yang tidak berbahaya.

“Kesembuhan datang dari hati yang tenang dan senantiasa mengingat Tuhan. Saat hati baik, selalu bersyukur, ikhlas dan bahagia, pikiran akan mengikuti sehingga akhirnya tubuhpun mengikuti “ (hal:83)

Masih ada kisah penyintas kanker lainnya yang menginspirasi antara lain Tri Handayani yang menjalani pengobatan kanker selama 23 tahun tanpa menyerah dan mengeluh. Atau kisah Adi yang bertahan selama 17 tahun dengan tumor otak tanpa operasi. Shanaz Haque yang pernah menderita kanker ovarium saat berusia 26 tahun dan diduga akan kesulitan mempunyai keturunan, namun setelah menikah ia mempunyai tiga anak.

Berbagai kisah inspiratif dalam buku ini mengajarkan kepada pembaca, bahwa ketika sudah divonis kanker, dunia tidak tidak serta-merta berakhir, berbagai jalan pengobatan dapat ditempuh baik secara medis maupun non medis. Dari berbagai pengobatan kuncinya adalah pikiran yang tenang dan hati yang damai. Menurut ahli psikobiologi di Universitas College London, bahwa faktor psikologis terkait stres berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker pada orang sehat dan berkurangnya jangka waktu bertahan hidup pada penderita kanker (hal : 130)

Buku Berdamai Dengan Kanker sangat cocok sebagai buku panduan kesehatan bagi penderita kanker maupun bagi orang sehat agar selalu dapat menjaga kesehatan dengan baik.

*) Tulisan ini dimuat di Koran Kabar Madura, Senin 8 Oktober 2018

Berdamai dengan Kanker

 

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats