[Resensi] Berjalan Jauh

“…Yang terpenting sebenarnya bukan seberapa jauh kau pergi, atau seberapa berbahaya tempat yang kau datangi itu, melainkan seberapa dalam kau bisa menemukan dirimu di mana pun kau berada. Bahkan, satu langkah meninggalkan pintu rumahmu, kalau kau cakap merenung, kau akan menemukan dirimu yang terdalam, yang sebenarnya kau. Bukan yang artifisial, apalagi topeng (Hal : 113)”

 

20180204_103755
Banyaknya stick note berbanding lurus dengan banyaknya penggalan kalimat kece yang mubazir kalau gak dicatat.

   Ada banyak cara untuk menyimpan kenangan atas sebuah peristiwa serta menangkap pesan tersirat yang akan dipahami kemudian. Beberapa orang akan mengabadikannya dalam lembaran potret cantik yang ditampilkan dalam laman sosial media miliknya, atau cukup tersimpan apik dalam folder laptopnya. Beberapa lagi akan menuliskannya dalam dinding media sosial lainnya, atau mempostingnya dalam blog atau jika ingin kenangan tersebut ‘awet’ dalam waktu lama, mengumpulkannya dalam sebuah buku terbit adalah alternatif yang bisa dicoba.

   Fauzan Mukrim, adalah orang yang melakukan hal tersebut. Tulisan-tulisan yang dituliskan untuk kedua buah hatinya – River dan Rain – terangkum rapi dalam buku berjudul Berjalan Jauh. Ini adalah buku ketiga Kak Ochan (begitu sapaan akrabnya) yang kubaca, bermula dari River’s Note (buku ini juga setipe dengan Berjalan Jauh, aku sedikit lupa kisah-kisah apa saja yang ada di dalamnya, tapi jika berpedoman pada rate GR aku menyukai buku ini). Mencari Tepi Langit adalah buku pertamanya, aku ingat pernah membaca buku ini, tapi blas lupa ceritanya tentang apa.

Maafkan hehe.

   Balik lagi ke buku terbarunya, dalam Berjalan Jauh pembaca akan diberikan ‘bekal berjalan’ yang berisi judul-judul tulisan yang akan ditemui dalam menjalani halaman demi halaman. Ada 51 bekal yang harus dilewati untuk sampai diakhir perjalanan. Komposisi dari bekal tersebut beragam, ada yang bermula dari permintaan khas anak-anak untuk mengunjungi Disneyland, ada pula pengamatan unik tentang tiga urinoar serta tentang apa sih passion (panggilan jiwa) itu sesungguhnya, dan masih banyak.

  Dalam tiap bekal yang penulis tuliskan, akan ditemukan kutipan yang sayang jika tidak diberi warna dengan stabillo yang dipunya, atau tandai dengan stick note untuk kemudian dituliskan kembali entah dalam buku kumpulan kutipan atau dalam laman media sosial yang dimiliki. Aku menandai beberapa bekal yang menjadi kesukaan :

  1. Sikalili’“Sesuatu yang terlihat tidak efisien, memperlambat atau menyiksa, sering kali diperlukan untuk melatih diri kita sehingga terhindar dari kutukan zona nyaman. Zona yang ujung-ujungnya hanya akan membawa kerusakan dan silang-sengkarut (Hal : 59)”
  2. Pagliacci dan Badut yang Tidak Bisa Sulap 20180204_104152
  3. Keadilan Dorayaki“Aku sebenarnya mau menjelaskan konsep paling sederhana bahwa adil itu sama rata sama rasa, tetapi takutnya nanti dianggap mengajarkan komunisme kepada anak. Ujung-ujungnya nanti dianggap atheis pula (Hal : 156)”
  4. Musim Berburu/Diburu Sekolah 20180204_104042
  5. Passion“Berkotor-kotor berkeringat untuk memenuhi piring nasi orang yang dicintai dengan makanan yang halal, adalah sebenar-benar panggilan jiwa (Hal : 232)”

   Selain lima bekal yang kusebutkan di atas, ada juga bekal (Balada Calon Debitur) yang menghimbau agar senantiasa bersyukur : “Di Jakarta ini, Nak, banyak hal ajaib yang membuat kita harus banyak-banyak bersyukur. Asal tidak terlalu sering baca Majalah Forbes atau Indonesia Tatler, insya Allah suasana hati akan baik-baik saja. Tinggal mengatur cara pandang (Hal : 29)”

   Lalu ada pula sebuah nasehat yang memiliki kemiripan arti dengan peribahasa ‘tong kosong nyaring bunyinya’ – “Bila engkau ingin mengetahui titik lemah seseorang, biarkan saja dia berbicara sebanyak-banyaknya, sementara kau mendengarkan saja. (katanya sih ini fatwa Mel Gibson) – (Hal : 55)” serta sebuah nasehat yang diyakini benar adanya bahwa kasih ibu sepanjang masa. “Sayangi ibumu selalu. Untukmu, dia telah menyediakan dua tempat terbaik. Sembilan bulan dalam perutnya dan seumur hidup dalam doanya. (Hal : 115)”

Akhirul kalam, Berjalan Jauh adalah media penyampai pesan seorang ayah untuk anak-anaknya, River dan Rain, agar dapat mengerti bagaimana cara kerja dunia yang seringkali berjalan diluar dugaan.  Bahwa, akan ada sebuah pesan moral yang terkandung dalam tiap peristiwa dalam hidup selama kamu mau sedikit merenung dalam memahaminya dengan cara pandang yang berbeda. Dengan pikiran positif, bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan sia-sia.

 

 

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats