[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats