Ramadhina, Windry. SONG FOR ALICE Book Review and Photo Challenge (Blogtour)

Hidupnya sempurna - atau setidaknya, dia pernah berpikir hidupnya sempurna.
Sekarang, ya, dia akan menyesal. Sangat. Bukan karena dia kehilangan musik, atau karena tidak lagi bisa merasakan cahaya menyorot ke arahnya, atau karena rindu mendengar lautan manusia menyebut namanya dengan putus asa.
Bukan karena itu semua.
(hlm. 55)

PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL
SONG FOR ALICE
WINDRY RAMADHINA
SC; 14 x 20 cm
Jumlah Halaman: 328 halaman
Bookpaper 55 gr;
ISBN 978-602-51290-7-0
Harga: Rp 85,000
Tagline: "Mencintaimu adalah penantian yang panjang."
"Genre": Love, Family, Drama, Music

Kisah Berjiwakan Cinta yang Bukan Sekedar Cinta

Setelah Follow Me Back, ternyata di Song For Alice saya kembali bertemu dan mengenal seorang pemusik muda, tampan, dan terkenal; tapi dengan kekosongan di hatinya. Namanya Arsen Rengga, seorang rocker muda yang tidak hanya jago nyanyi tapi juga menulis lagu dan memetik gitar. Kehidupan gemerlap musisi terkenal rupanya tidak memberikan segalanya bagi Arsen, karena rupanya ada yang hilang dalam dirinya hingga tercermin dalam musiknya. Wild Cherry boleh jadi menjadi lagu terpopuler, namun di sisi lain kritikus musik merasa bahwa Arsen menunjukkan penurunan kualitas gemilang yang dimilikinya. Memang berat untuk menerima semua kritik itu dan mengakui ada yang "hilang",  tapi kalau begitu terus, bukan hanya karir Arsen yang terancam. Tentunya bukan seperti itu hidup yang diinginkan Arsen, dibayang-bayangi kekosongan di dalam hatinya.

Sementara itu ada Alice Lila, yang bertahan menjaga kenangan keluarganya lewat Lilt, sekolah musik di pinggiran kota tempat ia mengajar kelas piano. Banyak hal tentang Alice Lila yang nampak berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari Arsen Rengga. Dari penampilan dan tingkah-lakunya, Alice kurang-lebih merepresentasikan musik klasik kesukaannya, cantik dan anggun. Tapi saya kurang berani menjamin, sih, untuk sifat lain dari Alice - apalagi kalau belum mendapat asupan kafein karena bisa jadi super-galak, terutama ke Arsen kalau berulah. Nah, aneh kah buat kalian kalau seorang idola rock yang berantakan, berambisi besar, dan sulit dikekang seperti Arsen Rengga bisa punya relasi dengan seorang Alice Lila? Eits, hati-hati jangan sampai terburu-buru tanpa tahu lebih dalam, misalnya darimana keduanya berasal dan tumbuh. Lilt lah yang kurang-lebih menjadi benang merah bertautnya kedua insan berhuruf-depan A ini sejak mereka kecil, sebagai anak yang sama-sama menyukai musik (terlepas dari perbedaan preferensi genre nya).


Alice dan Arsen tumbuh dewasa bersama di bawah asuhan Kakek Lur, ketika keduanya yatim-piatu di usia yang masih sama-sama belia meski Arsen lebih tua dua tahun dari Alice. Seiring keduanya mendewasa, rupanya talenta dan minat keduanya dalam musik pun membawa dinamika pada jalan-hidup dan hubungan mereka. Ya, mereka memang saling menyukai lebih dari saudara-asuh, tapi ada saatnya Arsen mengejar mimpi dan ambisinya untuk menjadi musisi terkenal, meski ia harus meninggalkan Lilt, Kakek Lur dan Alice, bahkan rekan-rekan band nya, Looking For Charlotte. Katakan saja Arsen itu breng**k besar, karena jujur saya sendiri juga setuju saat membaca bagaimana nampak dengan mudahnya Arsen berlaku egois demi mengejar mimpinya.

"Pasti itu membuatmu berpikir serius tentang hidup, ya. Tentang apa yang sesungguhnya penting bagimu."
"Yang sesungguhnya penting bagiku?" gumam Arsen, "Aku sudah membuangnya. Untuk... semua ini."
(hlm. 62)

Ketika sebuah kecelakaan yang nyaris saja berakibat fatal bagi Arsen terjadi, barulah bulat keputusan bagi Arsen untuk kembali ke rumah Kakek Lur, tempat di mana Alice kini tinggal sendiri (!!!) karena Kakek Lur telah tiada, belum lagi ditambah fakta bahwa Alice seorang diri mengurus Lilt, yang tengah mengalami penurunan kondisi. Kelas-kelas musik makin berkurang jumlahnya, tagihan menumpuk, dan makin sedikit pula pengajar yang tersisa untuk mengajar di Lilt. Alice yang sudah mengorbankan kuliahnya di Universitas Indonesia tidak hanya ditinggalkan dalam keadaan patah hati dan berduka, tapi juga kesulitan dalam mengurus bisnis di Lilt, padahal Lilt adalah perwujudan kenangannya akan Kakek Lur yang ingin ia jaga. Sebenarnya keputusan Arsen untuk kembali memang bisa dibilang datang di timing yang cukup pas karena Alice benar-benar butuh bantuan, tapi... yang benar saja semudah itu menerima Arsen kembali setelah apa yang dilakukan lelaki itu.

Dia menghitung hari, pekan, bulan, tahun. Tetapi, dia dibuat kecewa. Lalu, dia berharap. Jadi, saat pemuda itu benar-benar pulang, dia sulit percaya.
Atau, barangkali, dia hanya tidak tahu bagaimana harus menghadapi kepulangan pemuda itu.
(hlm. 74)

Pertanyaan di blurb Song For Alice memang spot-on: Pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua? Sebagai pembaca saya juga mengalami mixed feeling dalam mengikuti cerita Alice dan Arsen. Jujur memang saya konsisten dengan "persetujuan" saya bahwa Arsen itu breng**k besar egois dan geleng-geleng gak percaya sama perbuatan-perbuatan "jahilliyah" dan #BukanGolonganKami yang dilakukannya ke Kakek Lur, Alice, Lilt, dan para member Looking For Charlotte. Meskipun memang seiring cerita berlanjut, Arsen pun berusaha membuktikan pada Alice (khususnya), kalau ia benar-benar berubah kali ini dan nggak akan mengecewakan lagi. Pelan-pelan, ya, mau nggak mau (halah) saya sebagai pembaca juga melihat kualitas-kualitas berharga dalam diri Arsen, tidak hanya ganteng atau berbakat dalam musik, tapi rupanya memang sebagai anak didikan Kakek Lur, sebenarnya Arsen juga punya hati dan niat yang baik, serta mau berbuat banyak demi yang disayangi. Penyuka romansa pasti akan menikmati momen-momen keunyuan Arsen dan Alice dan gemes sama interaksi mereka, di mana Arsen cenderung flirty-ngeselin dan Alice gengsi-gengsi-pemalu.

Proses pertimbangan yang dialami Alice untuk bisa menyesuaikan secara fisik dan mental terhadap kembalinya Arsen merupakan salah satu unsur pengembangan cerita yang membuat Song For Alice menjadi makin engaging. Semua itu tidak mudah dilakukan, dan tidak jarang saya juga jadi geregetan sendiri menyimak "kekambuhan" kekhilafan Arsen yang rasanya bikin mijit-mijit kepala saja (LYK WHYYY YOU DO THAT ARSEN??? You know Alice and good ol' Kakek Lur won't be okay with that??? wq) ...tapi ya begitulah bentuk lain kepiawaian menulis kak Windry yang sukses membuat kita campur-aduk antara gemes-gemes lucu karena momen romantis Alice dan Arsen serta gemes-gemes frustrasi kalau Arsen "mengacau".

Alice telah lama ragu. Tetapi, kini, dia ingin percaya. Satu kali ini saja. Walaupun hanya sedikit. Dia ingin, sungguh-sungguh ingin, meyakini bahwa Arsen akan ada di sisinya untuk seterusnya, bahwa pemuda itu tidak akan meninggalkannya.
(hlm. 219)

Seperti yang sudah saya singgung dalam sesi interview saya dengan Kak Windry, saya memang merasa bahwa penceritaan dan penulisan Kak Windry punya ciri khas tersendiri dengan kesan yang kuat bagi saya, meski baru membaca satu buku karangan beliau sebelumnya (judulnya London: Angel, di mana saya rasanya sukses untuk dibujuk sehingga lebih menyukai hujan). Song For Alice berlatar cerita di kota Jakarta dan sekitarnya, namun rasanya di tangan Kak Windry jadi tercipta sebuah semesta alternatif yang sarat kesan elegan dan aesthetic dari bagaimana deskripsi tentang segala sesuatu, sampai interaksi antara siapa pun. Coba bayangkan kalau kita melihat feed Instagram yang ditata apik dan aesthetic, rasanya seperti itu kalau sedang membaca tulisan Kak Windry bagi saya. Seperti halnya kalau kita merasa bisa mengenali film Wes Anderson dari vibe yang beliau tunjukkan dalam palet warnanya atau sinematografinya, begitupula dengan kepenulisan Kak Windry yang punya ciri khas, semua jadi terkesan puitis bahkan untuk hal-hal paling mundane sekalipun.

Saya juga mengagumi kepiawaian Kak Windry dalam merangkai alur cerita dengan pace yang terasa pas karena nggak terasa terburu-buru ataupun terlalu "diseret-seret", padahal menurut saya cerita Song For Alice ini semacam punya babak-babak cerita yang "padat". Sepertinya pengalaman menulis sebelas buku sudah membuat Kak Windry menjadi fasih untuk menyampaikan cerita dengan rapi. Di setiap bab diberikan judul sehingga kita lebih terbantu membingkai suasana atau perkembangan babak cerita. Dengan porsi penyajian momen kilas-balik yang tepat mengimbangi penceritaan alur majunya, serta deskripsi yang tidak bertele-tele tetapi kaya, kita sebagai pembaca akan memiliki pemahaman mumpuni terhadap suasana, latar belakang dan perkembangan cerita. Sebagai novel yang memuat tema musik, Kak Windry juga mampu mengkorporasikan unsur "musik" tersebut dengan baik, tidak hanya sebagai "tempelan". Seperti yang juga diungkapkan Kak Windry dalam sesi wawancara, tidak jarang digunakan istilah musik untuk membantu deskripsi, dan saya juga merasa bahwa Kak Windry mampu memikat pembaca sejak awal cerita dengan deskripsi suasana panggung musik yang terasa "hidup". Emosi tiap karakter pun jadi terasa lebih nyata untuk diterjemahkan pembaca.

Hal lain yang juga membuat Song For Alice makin membetahkan bagi saya juga tentunya tokoh-tokoh "sideline" selain Alice dan Arsen. Gaya menulis Kak Windry yang pantas disebut "indah" membawakan "alternate universe" ceritanya seperti serasi dengan ciri khas lain berupa orang-orang alias tokoh-tokoh dalam universe cerita Kak Windry yang entah kenapa kelihatan memiliki lebih banyak kesan "anggun", padahal mereka semua ya ceritanya berkeseharian nggak jauh beda dengan kita-kita. Paling jelas bisa diamati dari cara berbicara para tokohnya sih, kalau dibayangkan di kefanaan sehari-hari ya banyak yang mungkin berasa nggak cocok atau nggak alami, tapi Kak Windry is owning it, membuat gaya berbicara antar semua tokoh jadi wajar dalam semesta ceritanya. Haduh, kalian harus baca sendiri sih supaya bisa lebih paham maksud saya dan semoga kalian yang udah membaca buku karangan Kak Windry bisa paham juga yaa. Anyway, tapi kalau kalian ingat hasil sesi wawancara saya dengan Kak Windry, gaya bahasa untuk saling menyebut dengan "aku-kau" memang pilihan bahasa kepenulisan Kak Windry, dan menurut saya Kak Windry berhasil, tentu saja.

Dan, rumah mereka kedatangan —uh, siapa nama perempuan berambut merah tadi? Mar?
Perempuan itu punya penampilan yang aneh. Bukan hanya rambutnya merah, bibirnya dipulas hitam dan pakaiannya blus brokat, rok kulit, dipadu dengan stoking.
Alice tidak pernah memahami kebiasaan orang-orang yang bergelut dengan musik rock; seperti dahulu Arsen mengecat rambut menjadi biru, atau Rik menindik alis, atau O memakai rantai di pinggang.
Hanya Len yang penampilannya normal. Oh, tetapi Len bermain rock juga. Sekarang, Alice tidak paham mengapa pemuda itu tidak mengecat rambut menjadi biru, atau menindik alis, atau memakai rantai di pinggang.
(hlm. 164)

Persamaan lain dari para tokoh sideline ini juga berupa nama yang lebih mirip sebutan karena cuma terdiri dari satu suku kata dan ini malah memberikan unsur eksentrik tapi nggak janggal pada para tokoh-tokoh itu, kita nggak ribet ngapalin nama saat nyimak cerita dengan kehadiran mereka dan juga lebih mudah menangkap ada "kekhasan" dalam diri mereka meski sebagai tokoh "sideline". Ada Mar, manager Arsen yang lebih milih teh daripada kopi serta berambut merah (Kak Mar saya ngefans!), ada Len, Rik, dan O sebagai member Looking For Charlotte, serta ada Sal, Kakek Lur, bahkan Pak Produser yang menurut saya punya impresi yang kuat padahal nggak dikasihtahu nama jelasnya hehe.

Susah untuk menjadi sangat objektif bagi saya yang kemampuan atau jam terbang menulis seadanya ini untuk memberikan kritik, apalagi saya juga belum membaca buku karangan Kak Windry lainnya. Yang bisa saya sampaikan hanya ganjalan kenapa bukunya cepat selesai ya??? Saya rasanya masih enggan berpisah dengan para tokohnya, termasuk Mar dan Len yang sukses memberikan kesan kuat bagi saya karena sifat dan keunikan mereka. Ibaratnya kalau saya penonton di acara musik, rasanya masih ingin menyerukan "we want more!" agar bisa mendapat encore dari penampil. Saya akan sangat senang kalau bisa mendapat kesempatan untuk bisa mengikuti kisah lain atau lanjutan dari para tokoh di Song For Alice. Alangkah bakalan hebat sekali juga kalau bisa ada lebih banyak material pendukung cerita Song For Alice yang diterbitkan, gitu, misalnya ilustrasi semua karakter (untuk ilustrasi Arsen dan Alice buatan Kak WIndry sendiri bsia kalian cek di Instagram Kak WIndry lho di @beingfaye!!), atau mungkin seperti apa lagu original yang ada di novel. Sayangnya saya nggak bisa gambar atau bikin musik, dan hanya bisa berharap ada pembaca yang tergerak untuk mematerialisasikan hal-hal dalam Song For Alice. Tapi, pada akhirnya kesempatan untuk bisa menyimak kisah yang disajikan dalam Song For Alice sudah merupakan suatu kehormatan bagi saya.

Dengan semakin berkembangnya cerita, dan setelah merenung-renung (halah) ketika saya sudah selesai membaca Song For Alice, rasanya novel ini bukan "hanya" novel romantis seperti yang sempat sekilas saya pikirkan (terutama ketika melihat judul, blurb, dan lain-lain). Iya, novel ini kental membahas cinta, tapi bukan cuma tentang romantisme perempuan dan laki-laki, tapi cinta yang kekuatannya membuat siapa saja mampu berbuat ikhlas, memaafkan, rela berkorban (saya tahu frasa ini kayak buku PPKn banget tapi jangan lupa pentingnya nilai diri ini yaa uwu) dan afterall membuat seseorang menjadi punya nilai berharga, entah sebagai teman, keluarga, pasangan, apapun. Saya tidak menyangka novel ini membawa muatan yang dalam, dengan arah cerita yang juga di luar ekspektasi saya. Ternyata memang nggak hanya genre buku misteri yang bisa memberikan sensasi "nggak terduga" saat disimak.

"Aku bisa saja mati. Beberapa bulan lalu. Saat kecelakaan. Aku bisa saja mati sementara hal-hal penting dalam hidupku ada begitu jauh dariku. Dulu, kukira.. musik, panggung, laguku di radio, fotoku di majalah... adalah segala-galanya. Aku salah."
(hlm. 219)

Kak Windry menunjukkan kematangan menulis dengan menyajikan pesan-pesan berharga dalam kisah Song For Alice ini. Ada hal-hal berharga dalam hidup yang nggak bisa diukur dengan uang sehingga layak untuk diperjuangkan, dan Kak Windry menunjukkan hal itu lewat konflik dan perkembangan karakternya. Saya sangat tersentuh dan tergugah mengamati kesanggupan Alice dan para anggota Looking For Charlotte untuk memaafkan Arsen, bahkan pada kesungguhan Arsen untuk membuktikan kasih sayangnya dan perjuangannya untuk menemukan bagian yang hilang dalam diri di tengah situasi yang bisa saja membuat orang lupa diri, tapi ternyata didikan Kakek Lur terhadapnya juga nggak sia-sia. Kegigihan Alice mempertahankan Lilt untuk menghormati kenangan dan harapan almarhum Kakek Lur juga sangat menyentuh bagi saya. Kalau saya boleh merangkum, semua itu pada dasarnya ya didasari oleh cinta, dan saya bisa merasakan bahwa "kekuatan-kekuatan cinta" itulah yang memberikan "jiwa" ke cerita Song For Alice.

Pada akhirnya saya merasa bukan hak saya untuk menjustifikasi kepantasan seseorang seperti Arsen terhadap kesempatan kedua. Di satu sisi saya juga sangat bersimpati pada pergulatan yang dialami Alice mengenai bagaimana kacaunya ditinggalkan, meski saya pribadi tidak bisa mendasarkan pada pengalaman saya sendiri. Merenungi pengalaman membaca Song For Alice itu bukan perkara apa "jawaban" dari pertanyaan di blurbnya, tapi apa makna dari semua hal yang diceritakan. Saya memaknainya sebagai sebuah kisah menemukan kembali apa yang membuat hati kita utuh, yang dalam cerita ini disimbolkan melalui judul "Song For Alice" dan setelah menemukan dan "mengutuhkan" hati kita, kekuatan akan tercipta, dan hidup juga bisa menjadi lebih bermakna tanpa penyesalan. Kak Windry menuliskan kalimat ini saat menandatangani eksemplar Song For Alice saya: "Even if we try to forget, love will remember." Pada akhirnya Song For Alice menunjukkan pada saya dengan cara tersendiri bahwa cinta memberikan kekuatan, dan terlepas dari segala luka, kebimbangan, dan kekecewaan, ia akan menunjukkan jalan pulang.

"Apa disebut keluarga juga kalau pergi bertahun-tahun dan tidak pulang?"
"Kau pulang sekarang."
(hlm. 105)


SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMUADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.

Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice—perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta.

Memang benar, Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu.

Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruang tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?



Encore: PHOTO CHALLENGE dari Penerbit Twigora xD

Untuk melengkapi review saya, sebagai apresiasi untuk Penerbit Twigora, Kak Windry dan semua yang sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk bisa mengalami membaca kisah Song For Alice, saya akan menyanyikan lagu Abdullah melampirkan hasil photo challenge host blogtour Song For Alice, berpose dengan Song For Alice! Dari saya yang hanya modal selfie, saya bermaksud memasukkan objek tambahan berupa pajangan pigura foto saya dan kakak perempuan waktu masih kecil serta foto ibu dan kakak saya di latar belakang (pas banget karena memang dipajang juga di kamar hehe); karena seperti halnya yang disampaikan dalam novel Song For Alice, keluarga sayalah yang penting dalam hidup saya.  Uwuwu.



Oke, terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan menyimak sampai sini! Tunggu post giveaway novel Song For Alice di post berikutnya!



Simak semua posting di rangkaian blogtour Song For Alice ya~~


20 – 22 OKTOBER 2018 2018: ORINTHIA LEE

23 – 25 OKTOBER 2018: LUCKTY GIYAN SUKARNO

26 – 28 OKTOBER 2018: PUTU RINI CIPTA RAHAYU

29 – 31 OKTOBER 2018 : MELANI I. S

1 – 3 NOVEMBER 2018: AINI EKA

4 – 6 NOVEMBER 2018 2018: ILMI FADILLAH

7 – 9 NOVEMBER 2018 2018: KHAIRISA RAMADHANI PRIMAWESTRI

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats