Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi by Yusi Avianto Pareanom


Paperback 450 pages
Published Maret 2016 by Banana
Rating 5/5
Setelah membaca Muslihat Musang Emas, saya sudah kesengsem dengan tulisan mas Yusi ini. Selain ide ceritanya yang luar biasa, diksinya juga bikin saya kesengsem. Dan buku yang saya baca ini hasil pinjam dari teman saya, Ka Cindy, di beberapa lembarnya ada catatan menggunakan post it kertas menjelaskan beberapa diksi baru baginya beserta artinya. Edyan ngga tuh? Rasanya saya pengen menyanding KBBI selama membaca novel fiksi keren ini. 

Menggunakan nama Mandasia sebagai judul ternyata yang saya dapatkan adalah kisah seorang pangeran Gilingwesi dari sudut pandang Sungu Lembu, si karakter utama, si pangeran Banjaran Waru. Perjalanannya mendampingi sang pangeran Gilingwesi itulah yang ia kisahkan, secara flashback, sedikit maju mundur sesuai kehendak si pencerita. 

Sebagai mantan Raden dari Banjaran Waru, sebuah daerah yang akhirnya tunduk kepada pemerintahan Gilingwesi, Sungu Lembu memendam dendam kesumat kepada seluruh rakyat Gilingwesi, terutama sang raja, prabu Watugunung. Perjalanan yang ia mulai sejak usia belasan tahun ini memiliki satu misi, memenggal kepala Watugunung dan melihat kehancuran kerajaan Gilingwesi. 

Sebagai salah satu pangeran di kerajaan Gilingwesi, Raden Mandasia seharusnya bisa menikmati hidup enak, menikmati kejayaan kerajaan ayahandanya, sesekali berlatih perang. Tapi Raden Mandasia berbeda dari puluhan saudara kandungnya, ia memilih pergi, demi keselamatan kerajaan Gilingwesi di masa mendatang.

Setelah sebuah musibah menimpa keluarga besar Sungu Lembu, dia dititipkan pada pamannya, Banyak Wetan. Sungu Lembu sangat beruntung memiliki paman yang begitu perhatian padanya. Tidak hanya olah kanuragan ia ajarkan, berbagai macam racun pun dia ajakan hingga Sungu Lembu merasakan manfaatnya ketika kelak mendampingi perjalanan pangeran yang memiliki hobi mencari sapi, Raden Mandasia.

Perjalanan tak menentu Sungu Lembu sebelum bertemu Raden Mandasia ini tak sengaja membawanya ke kota-kota dimana Prabu Watugunung pernah singgah dan mendirikan kemakmuran disana. Jika diibaratkan, kerajaan Gilingwesi memberikan kemakmuran dan peradaban pada rakyatnya, termasuk kerajaan-kerajaan taklukannya. Selama perjalanan dalam ketakjuban itu, selama itu pula pertanyaan tentang bagaimana menghabisi penguasa Gilingwesi terlintas dalam pikiran Sungu Lembu. Pertanyaan lainnya yang tak kalah mengganggu adalah apakah menghabisi Prabu Watugunung adalah hal yang benar?

Pertemuannya dengan Raden Mandasia mengubah jalan hidup Sungu Lembu. Perjalanan menuju kerajaan Gerbang Agung bersama Raden Mandasia menjadikan Sungu Lembu kaya akan pengalaman. Gemblengan keras dari sang paman membuatnya bertahan, termasuk dalam peperangan besar antara kerajaan Gilingwessi dan Gerbang Agung.

Membaca novel fiksi ini pertama saya merasa dejavu dengan cerita silat khas Kho Ping Ho atau penulis cersil lainnya. Sebuah kerajaan yang berperang melawan kerajaan lainnya, dibumbui dengan pertarungan seru para jagoan--minus nama-nama jurus-jurus sih-- dan tentu saja petualangan dengan para perempuan penghibur. Awalnya agak shock juga sih ketika Sungu Lembu berada di rumah dadu Nyi Manggis. Tapi ternyata itu belum seberapa, kegilaan penulis dilanjutkan di banyak tempat, termasuk perjalanan di kapal, di gurun dan tentu saja saat berperang. Ada beberapa kata yang bisa terasa vulgar menggambarkan situasi xxx itu, tapi si penulis menggunakan diksi berbeda hingga pembaca seperti saya sedikit teralihkan, alih-alih membayangkan adegan XXX yang brutal, saya jadi sibuk mencari padanan kata yang digunakan penulis hahahaha…

Mengikuti perjalanan Sungu Lembu bagi saya, seperti mengikuti satu kisah drama seru dengan plot yang tiba-tiba berubah arah tapi dengan kekuatan plot yang sama. Perasaan Sungu Lembu yang berubah-ubah sedikit banyak bisa dimengerti.
‘Banyak Wetan tertawa lebih keras lagi. “Ia (Raja) kadang tak perlu senjata dalam pengertian sesungguhnya. Musuhnya sangat dekat. Ada di dalam dirinya sendiri.”
“Paman, aku tidak paham dan aku ingin tidak mempan dibacok atau ditombak orang. Kebal itu hebat,” kataku saat itu. (hal 84)
Perasaan Sungu Lembu yang akan merasa hebat jika kebal pastilah akan berubah seiring dengan bertambahnya usia. Seperti nasehat paman Banyak Wetan kepada dirinya. Nasehat yang bisa untuk siapa saja, pembaca buku ini. Novel yang mengambil khazanah cerita lain dari masa yang berbeda, di beberapa bagian akan mengingatkan pembacanya akan cerita ini dan itu. Belum lagi nama-nama karakternya, terkadang terasa asing tapi terkadang terasa dekat, terutama bagi pembaca dari Jawa seperti saya. Beberapa nama membuat saya tertawa, beberapa nama lain benar-benar mengingatkan saya akan cerita silat berpuluh tahun yang lalu . Novel sangat layak mendapatkan penghargaan sebagai pemenang kategori prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2016.

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats