Plastic Heaven

20393505_1916571295333745_8009473288113750016_n

Judul: Plastic Heaven – Bukan Cinta Jika Tak Meneteskan Air Mata
Penulis: Hilbram Dunar
Editor: Mirna Yulistianti
Proof reader: Dwi Ayu Ningrum
Layout: vtree_yuniar@yahoo.com
Desain sampul: Moelyono
Foto sampul dari Shutterstock.com
Tebal: xii +213 halaman
ISBN: 978-979-22-7808-8
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Bukan cinta namanya jika tak meneteskan Air Mata. itulah tagline buku “Plastic Heaven” karangan Hilbram Dunar. Buku kumpulan cerpen ini berisi tentang lika-liku cinta dan ceritanya. Terinspirasi dari cerita teman-temannya. “Tapi tak ada cerita khusus tentang seseorang, dan juga bukan cerita tentang Hilbram, tapi cerita yang dikarang oleh Hilbram,” tegasnya.

Djenar Maesa Ayu – cerpenis & sutradara film – @djenarmaesaayu:
Cinta adalah abadi, saya percaya. Maka saya tak akan berhenti mencinta, walau tidak dengan orang yang sama.

Anya Dwinov – presenter TV – @AnyaDwinov:
Cinta adalah lautan bagi jiwa. Yang bisa membuat banyak pengaruh di hidup seseorang. Seperti laut terhadap daratan dan kehidupannya.

Wanda Hamidah – politisi – @Wanda_Hamidah:
Love is oxygen in your life.. Keep you alive.. (Love is magic.. Make the impossible thing possible..)

Artasya Sudirman – penyiar Motion Radio – @MyArtasya:
Cinta adalah rasa paling keras yang jatuh ke hati manusia, dengan sederhana.

Aqi – vokalis Alexa – @Aqi_Alexa:
Cinta adalah lapangan parkir pertokoan di akhir pekan, PENUH! yang strategis dan enak udah ditempatin semua, terpaksa mutermuter dulu nunggu ada yang keluar. Makin dicari makin ga dapet, bisa-bisa ga parkir-parkir.. kalo ga dicari malah suka tau-tau ada, membingungkan..

Iwan Setyawan – penulis – @Iwan9S10A:
Cinta adalah keberanian memaknai luka dengan gagah. 

Review

Ada 50 cerita dalam buku ini. Yes, you guess it right. Dengan ketebalan segitu, bisa memuat 50 cerita. Berarti cerita-cerita yang ada di sini tuh pendek-pendek banget, hampir seperti flashfiction.

Tapi, nggak semua cerita punya ending meledak. So, ini bukan flashfiction.

Jadi, saya nggak akan bahas satu-satu ya. Hahaha. Banyak. 😛

So, kalau kamu sudah baca buku Mere Matkadevi punya Tulus Ciptadi Akib, maka kamu akan merasakan gaya yang sama. Eh, nggak tahu sih, yang mana yang lebih dulu terbit. Buku ini atau buku Mere. Yang pasti, gaya berceritanya mirip. Pun dua-duanya sama-sama berisi cerita-cerita super pendek.

Kalau punya Hilbram ini ada sih beberapa yang berbentuk puisi, or curhatan. Tapi it’s telling stories, jadi bukan sekadar kalimat indah.

Gaya berceritanya rada-rada tengil, menggoda, sedikit nakal, tapi sekaligus berima. Umumnya di buku-buku kumpulan cerpen, biasanya ada cerita yang memang sangat kuat dibandingkan cerita yang lainnya.

Tapi, cerita-cerita di Plastic Heaven ini saya merasakan punya kekuatan yang sama. Rata-rata. Makanya saya bisa maklum, kalau di Goodreads ada yang bilang kalau buku ini membosankan. Saya saja sempat berhenti di tengah-tengah cukup lama. Mungkin ya karena bosan itu tadi. Tapi akhirnya saya baca lagi sampai selesai.

Dan, karena kekuatannya rata-rata sama itu makanya kayaknya nggak ada cerita yang cukup nancep.

Kebiasaan saya adalah ketika saya akhirnya menutup buku selesai dibaca, biasanya saya kemudian akan flashback kembali. Apa saja yang bisa saya ingat dari buku tersebut?

Ternyata, kesannya langsung hilang begitu buku selesai habis dibaca.

Tapi, setelah saya buka-buka lagi, saya lalu ingat bahwa ada satu cerita yang saya suka, karena rada-rada surreal. Boulevard of Broken Dreams.

Keep on driving in a boulevard of broken dreams, you’ll never run out of road, you’ll just run out of hope.

If you continue driving in a boulevard of broken dreams, you might see me selling something, at least not like the rest of them whom selling you nothing.

“Hope for sale! Hope for sale! Hope for sale!” I scream ….

Yeah, I love it! Agak-agak satir, dan ada nuansa surreal di sana.

Cerita lain yang cukup unik adalah Perbincangan Otak Kanan dan Otak Kiri. Well, menariknya sih ini kisah tentang inner voice yang terjadi antara otak kanan dan kiri, yang selalu terjadi pada saya 😆

Nggak ada yang terlalu mengganggu, pun nggak ada yang terlalu berkesan. Yang cukup bikin saya kelilipan adalah bahasa selingkung Gramedia yang menulis ‘nafas’ alih-alih ‘napas’ 😆

So yeah, kalau kamu pengin bacaan yang ringan saja untuk menemani weekend, buku ini cocok. Karena mungkin kamu akan bisa segera menyelesaikannya.

Rating: 2/5

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats