Pesona Akhlak Nabi Karya Ahmad Rofi’ Usmani

cover Pesona Akhlak Nabi.jpg

Hidup Mewangi Bersama Nabi

Judul                            : Pesona Akhlak Nabi

Penulis                          : Ahmad Rofi’ Usmani

Editor                           : Yadi Saeful Hidayat

Penerbit                       : Mizania

Tahun Terbit                : Pertama, November 2015

Jumlah Halaman          : 392 halaman

ISBN                           :  978-602-1337-36-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Rasulullah diutus oleh Allah, untuk menyelamatkan manusia dari siksa neraka, yaitu dengan jalan Islam dan akhlak yang mulia. Kaum Muslim saat ini, memang memiliki jarak yang jauh dari saat Rasulullah masih hidup. Namun, dalam hati setiap Muslim selalu ada Rasulullah sebagai pemberi syafaat kelak di hari kiamat.

Setiap menjelang hari kelahiran beliau setiap Muslim memiliki banyak cara untuk merayakannya, ada yang dengan shalawatan juga pengajian. Ini menjadi penanda bahwa beliau adalah insan utama, yang tidak hanya dikenang tetapi wajib diikuti jejak hidupnya oleh setiap Muslim.

Ada banyak kisah teladan Rasulullah, yang semestinya dibaca, direnungi, diamalkan, dan diajarkan kepada orang lain. Berkaitan dengan era teknologi dan media sosial saat ini, banyak informasi berdatangan tak bisa dibendung. Di antaranya adalah informasi yang tidak benar atau hoax.

Nah, kewajiban setiap Muslim adalah berhati-hati dalam mengambil dan menyebarkan informasi di era cyber. Jika tidak berhati-hati, maka akan berbahaya bagi diri sendiri dan juga membahayakan orang lain. Karenanya, ada kewajiban dalam Islam untuk berlaku jujur dalam menyebarkan informasi.

Tentang wajib jujur dalam menyebarkan informasi, ada dalam kisah ketika  Rasulullah sedang berada di bilik Ummu Salamah. Ketika itu, keduanya mendengar keributan di luar.  Mereka meributkan suatu persoalan yang sebelumnya telah mereka tanyakan pada Rasulullah. Tetapi, mereka masih mempermasalahkan keputusan Rasulullah, karena alasan ini dan itu.

Karena perdebatan semakin tidak terkendali, beliau keluar dari bilik Ummu Salamah. Kemudian beliau bersabda, “Wahai sahabatku! Aku hanyalah seorang manusia dan orang-orang datang kepadaku meminta pengadilan. Mungkin, sebagian di antara mereka lebih pandai berbicara daripada yang lain. Akibatnya, aku menyangka ia di pihak yang benar dan memenangkannya dalam putusan pengadilan dengan merugikan hak Muslim yang lain. Tapi, sejatinya tindakannya yang demikian itu merupakan sepotong api neraka. Karena itu, terserah baginya apakah ia akan membawa api neraka itu atau meninggalkannya.” (halaman 252)

Media sosial memang seperti pisau, bermanfaat atau mencelakai. Bisa dipakai untuk menyebarkan kebaikan,  namun tetap dilakukan dengan cara yang bijak. Seperti Rasulullah mengutus ahli halal dan haram kala itu, Mu’adz bin Jabal untuk bertemu dengan raja-raja di Yaman (halaman 246).

Selain itu, meskipun di dunia maya. Maka, etika dan adab Islam tidak boleh terlupa. Rasulullah sebagai manusia termulia karena akhlaknya yang begitu tinggi, tidak pernah berkata kasar, mencaci, selalu ramah dan santun. Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Wahai sahabat-sahabatku, menurut kalian, siapakah orang yang mengalami kepailitan di antara umatku?”

Mereka menjawab, “Wahai Rasul, orang yang mengalami kepailitan adalah yang tidak memiliki dirham dan harta benda.” Namun, Rasulullah menjawab, “Orang-orang yang mengalami kepailitan adalah kalangan dari umatku  yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Tetapi, pada saat yang sama ia membawa dosa mencaci si anu, menuduh zina si anu, memakan harta si anu, menumpahkan darah si anu, dan memukul si anu. Akibatnya, sebagian kebajikannya diberikan kepada si anu, sebagian lagi pada si anu. Dan, manakalanya kebajikannya telah habis sebelum dia membayar kesalah-kesalahannya, diambillah kesalahan-kesalahan orang-orang itu dan dilimpahkan kepadanya. Selanjutnya, ia pun diempaskan ke dalam neraka.” (halaman 141)

Sejarah lain yang tercatat adalah mulianya akhlak Nabi ketika dibersamai oleh Anas bin Malik. Suatu ketika Rasulullah menyuruh Anas untuk suatu keperluan dan Anas langsung melakukan. Ketika itu Anas masih berumur belasan tahun, di tengah jalan Anas  bertemu dengan teman-temannya yang sedang bermain. Dia pun segera bergabung dan terlupa dengan perintah Nabi. Dia baru teringat ketika Rasulullah menepuk pundaknya dan tersenyum, “Wahai Unais (Anas kecil)! Apakah permintaanku telah engkau laksanakan?”

“Ya, aku akan pergi, wahai Rasul,” Anas menjawab dengan kaget dan malu. Rasulullah ternyata tidak marah atas apa yang dilakukan Anas. Inilah sebagian kisah akhlak mulia Rasulullah dalam buku Pesona Akhlak Nabi karya Ahmad Rofi’ Usmani. Sangat direkomendasikan untuk dibaca, dengannya semoga menjadikan setiap Muslim menjadi wangi seakan bersama Rasulullah dan di akhirat bersama Nabi, karena berakhlak dengan akhlak mulia Sang Nabi. Semoga!

**Ingin memesan buku? Ke Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085933138891
gabung juga di grup
 di http://bit.ly/TokoBukuHamdalahWhatsApp dan http://bit.ly/TokoBukuHamdalahTelegram

***Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku, bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia : t.me/bukabukubukadunia

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats