My Brief History – Stephen Hawking

9786020300061_my-brief-history_sejarah-singkat-saya

Judul: My Brief History (Sejarah Singkat Saya)

Penulis: Stephen Hawking

Penerjemah: Zia Anshor

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2017 (Pertama terbit tahun 2014)

Halaman: 174

ISBN13: 9786020300061

Format: Paperback

Sinopsis:

My Brief History menceritakan perjalanan luar biasa Stephen Hawking, dari masa kecilnya di London sesudah Perang Dunia II sampai menjadi pesohor yang terkenal di seluruh dunia. Dilengkapi foto-foto yang jarang terlihat, buku singkat, kocak, dan cerdas ini memperkenalkan pembaca dengan seorang Hawking yang belum tampak di buku-buku terdahulu: anak sekolah yang ingin tahu dan dijuluki “Einstein” oleh teman-temannya; orang yang suka bercanda dan pernah bertaruh dengan temannya perihal keberadaan lubang hitam; serta suami dan ayah muda yang berjuang untuk mendapat tempat di dunia akademia. (Goodreads)

***

Saya awalnya hanya mengetahui Stephen Hawking sekilas dari acara televisi. Sosoknya yang selalu berada di atas kursi roda membuatnya menonjol dari ilmuwan jenius lainnya. Namun, masalahnya fisika bukan mata pelajaran yang saya sukai meski saya cukup penasaran dengan sejarah alam semesta. Maka nama besar Hawking hanya timbul tenggelam di pikiran saya, kalah saing dengan tokoh-tokoh di bidang Farmasi seperti DiPiro, Shargel, Bauer, dan lainnya.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 2016, saya menemukan nama Eddie Redmayne (yang awalnya saya ketahui dari poster film Fantastic Beast and Where to Find Them) juga memerankan Stephen Hawking dalam film The Theory of Everything. Saya suka film itu dan menjadi tertarik untuk mengenal lebih jauh sosoknya. Lalu, saya menemukan cover buku yang minimalis dan artistik ini dan bertekad untuk membelinya sesegera yang saya bisa.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, bahkan untuk pembaca yang memiliki ketertarikan sangat rendah (atau bahkan minus) terhadap Fisika. Yah, karena pertama, buku ini bergenre autobiografi; kedua, buku ini disertai foto-foto sebagai selingan teks; dan ketiga, Stephen Hawking menulis buku ini dengan gaya yang mengasyikkan, ringan, dan kadang-kadang humoris. Bukan humoris yang membuat tertawa terbahak-bahak, sih (setidaknya pada kasus saya), tetapi percayalah, Anda akan menemukan momen-momen yang menggelitik di dalam buku ini. Misalnya:

Saya lahir di Oxford, walaupun orangtua saya tinggal di London. Itu karena selama Perang Dunia II Jerman berjanji tidak akan mengebom Oxford dan Cambridge, sebagai balasan janji Inggris tidak akan mengebom Heidelberg dan Göttingen. Sayang perjanjian beradab macam ini tak diperluas ke lebih banyak kota.

Dari buku ini, saya baru tahu bahwa Stephen Hawking berasal dari orang tua yang berpendidikan baik, bahkan bisa dikatakan akademisi. Saya juga baru tahu bahwa beliau menyelesaikan pendidikan sarjana di Oxford (yang katanya super santai) sebelum melanjutkan studi pascasarjana di Cambridge. (Dua-duanya universitas tertua dan prestisius di Britania Raya). Beliau juga lebih menyukai fisika teoritis daripada fisika eksperimental (dan sains eksperimental lainnya) serta menguraikan proses penemuan teori-teori yang dulunya masih misteri. Misalnya mengenai bagaimana permulaan alam semesta, teori lubang hitam, bahkan mengenai perjalanan menembus waktu. Jadi jangan heran jika dalam buku ini Anda akan menemukan beberapa konsep fisika, khususnya yang terkait relativitas umum dan sedikit singgungan soal fisika kuantum, tetapi tetap dijabarkan dengan ringan dan bahasa bergaya populer.

Nah, sosok Stephen Hawking tentunya tidak dapat dilepaskan dari penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)/penyakit neuron motor/Lou Gehrig disease. Beliau didiagnosis mengidap penyakit tersebut pada usia 21 tahun, pada awal-awal masa studinya di Cambridge. Namun, terlepas dari kesulitan yang dihadapinya, Stephen Hawking justru mengambil sisi positif dari penyakit yang dideritanya. Hari-harinya yang santai di Oxford berubah menjadi lebih sibuk dan lebih terarah karena menyadari ada banyak hal yang harus dilakukan.

Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang kita ingin lakukan.

Selain itu, meski berprofesi sebagai ilmuwan yang mendedikasikan dirinya untuk ilmu pengetahuan, sosok keluarga dan orang-orang terdekat menjadi porsi yang cukup penting dalam buku ini. Sehingga saya tidak melihat si jenius antisosial dari kisah hidup beliau, melainkan sosok suami dan ayah yang berjuang dan membangun hubungan yang baik dengan anggota keluarganya.

Ketika saya berumur dua puluh satu dan mulai menderita ALS, saya merasa itu sangat tidak adil. Mengapa harus terjadi pada saya? Waktu itu, saya merasa hidup saya sudah berakhir dan saya tak bakal mencapai potensi yang saya rasa saya miliki. Tapi sekarang, lima puluh tahun kemudian, saya bisa puas dengan hidup saya.


Rating: 4/5
Cara saya mendapatkan buku ini: membeli di toko buku (harga Rp 66.000,00)

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats