Menjalani Hidup Lebih Baik dengan Bersikap ‘Bodo Amat’

38198823Judul : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun terbit : Kelimabelas, 2018
Tebal : 256 halaman
ISBN : 978-602-45-2698-6
Format: Paperback

Mark Manson membuka buku ini dengan menceritakan kisah seorang penulis ternama di dunia, Charles Bukowski, yang jauh dari bayangan kita mengenai kisah-kisah kesuksesan. Charles Bukowski telah menghadapi rentetan penolakan serta melalui masa-masa kelam dalam hidupnya. Namun, di nisannya justru tertulis, jangan berusaha’ (hlm. 3). Ini barangkali membuat kita bertanya-tanya. Apa hubungannya kesuksesan dengan pesan tersebut?

Di dunia yang kita tinggali dan era yang kita jalani sekarang, kita tidak bisa lepas dari pengaruh Internet. Sekian kanal media sosial yang kita miliki membantu kita untuk senantiasi terhubung dengan kehidupan orang lain. Si A yang baru wisuda, si B yang baru menikah, si C yang baru melahirkan anak pertama, dan si D yang baru saja membeli sepatu bermerk ternama. Belum lagi si E yang baru saja menginjakkan kaki di negara ke-100 yang ia kunjungi. Kesemua hal itu membuat kita tidak berhenti membanding-bandingkan kehidupan orang lain dan justru menjadikan mereka ‘standar kebahagiaan semu’ yang harus dikejar. Kita menjadi merasa rendah diri hanya karena pekerjaan kita biasa-biasa saja, misalnya. Bahkan, yang lebih buruknya, kita merasa kehidupan yang biasa-biasa ini adalah kehidupan yang buruk, yang harus sesegera mungkin diubah menjadi lebih baik.

Maka, untuk bisa benar-benar fokus dalam hal-hal yang bermakna dalam hidup, kita harus belajar untuk bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang tidak penting dan hanya memedulikan nilai yang kita anggap penting. Ini nasihat yang terdengar bagus, sederhana, sekaligus sulit karena memutarbalikkan bayangan yang sebagian besar kita miliki terhadap kesuksesan. Namun, penulis memaparkan cara-cara untuk bersikap bodo amat tersebut dalam bab-bab yang dibuat sederhana tetapi tetap sistematis.

Pertama, kita tidak bisa melepaskan kebahagiaan dengan masalah. Menurut penulis, baik menghindari penderitaan maupun menenggelamkan diri dalam penderitaan bukanlah cara untuk menjadi bahagia. Yang akan membawa kita kepada kebahagiaan adalah memecahkan masalah yang kita hadapi. Hal ini tidak akan terjadi jika kita enggan untuk terlibat dalam perjuangan dan usaha keras untuk memecahkan masalah dalam hidup.

Kedua, setiap kita bukanlah pribadi istimewa. Menganggap diri istimewa justru membuat kita merasa puas dengan kondisi yang kita alami sekarang, sehingga justru menjauhkan diri kita dari proses tak kenal lelah untuk memperbaiki diri. Lebih parah lagi, citra palsu tentang diri yang istimewa membuat seseorang merasa dirinya berhak diistimewakan dalam masalah, bahkan ketika dirinya berada di pihak yang bersalah.

Ketiga, menaruh nilai yang tepat untuk penderitaan. Kita perlu beranjak dari sekadar menentukan apakah suatu peristiwa membuat kita sedih atau tidak, menuju lapisan-lapisan ‘bawang kesadaran diri’ (hlm. 82) yang lebih dalam. Lapisan yang lebih dalam adalah mengetahui alasan dibalik perasaan yang kita alami (hlm. 83) dan mengetahui nilai yang tepat untuk menentukan apakah suatu peristiwa dianggap kesuksesan atau justru kegagalan (hlm. 84). Menaruh nilai yang tidak tepat terhadap suatu peristiwa dalam hidup akan menyebabkan seseorang tidak bahagia bahkan ketika ia telah mencapai kesuksesan di mata khalayak.

Keempat, bertanggung jawab dengan pilihan yang diambil. Setiap kita, sadar atau tidak sadar selalu membuat pilihan di setiap saat. Namun hari ini, banyak orang yang enggan bertanggung jawab dengan pilihan tersebut, dan justru melemparkan tanggung jawab kepada orang lain. Melemparkan tanggung jawab kepada orang lain memberikan kenikmatan yang cuma sementara, sekaligus sensasi menjadi orang yang benar/baik secara moral (hlm. 129). Hal yang seyogianya dilakukan dalam situasi ini tentunya adalah mengambil kembali tanggung jawab itu dan mulai melakukannya.

Kelima, beralih dari asumsi menuju sikap membuka diri. Tidak dapat dimungkiri, kita mengharapkan kehidupan yang stabil dan cenderung bebas dari penolakan serta masalah. Namun, asumsi pribadi kita seringkali berujung pada keyakinan bahwa diri kita akan ditolak, gagal, dan lain sebagainya. Keyakinan ini pada akhirnya akan menghilangkan kesempatan bagi kita untuk mencoba peran-peran lain dan terfokus pada definisi sempit yang kita buat sendiri. Sebaliknya, dengan membuka diri terhadap kesalahan dan kekeliruan, kita justru akan membuka diri untuk kesempatan-kesempatan yang baru, bahkan kemungkinan untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Keenam, kegagalan adalah jalan untuk maju. Berkebalikan dengan asumsi bahwa kesuksesan merupakan lawan dari kegagalan, sebenarnya kegagalan dibutuhkan untuk perkembangan jiwa. Penderitaan bukan selalu kondisi yang harus dihindari, sebaliknya, keduanya justru bagian dari proses yang harus dirasakan. Tidak cukup hanya menerima rasa sakit akibat penderitaan tersebut, kita harus melakukan sesuatu, tanpa menunggu datangnya inspirasi atau motivasi yang cukup. Karena aksi akan mendatangkan motivasi itu sendiri (hlm. 186).

Ketujuh, beralih dari kebebasan melakukan apa saja menuju komitmen pada hal-hal yang sangat penting. Ketidakmampuan kita untuk memilih justru menyebabkan kita terjebak dalam kehausan untuk mengejar pengalaman baru, tanpa menyelami kedalamannya. Sebaliknya, komitmen akan membantu kita untuk fokus pada sedikit sasaran dan menggalinya untuk mendapatkan hubungan yang sejati, entah itu dalam karier, gaya hidup, atau apa pun.

Kedelapan, kematian memberikan energi untuk kehidupan. Dengan menghindari topik kematian, kita disibukkan dengan hal-hal remeh yang anehnya, menghabiskan waktu. Sebaliknya, dengan menerima bahwa suatu saat kita pasti akan mati, kita akan beralih menuju pertanyaan yang jauh lebih penting: apa warisan Anda? (hlm. 238). Dengan secara konstan mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri, kita akan berhenti bersikap pongah, menganggap diri sebagai pusat semesta dan pusat segala peristiwa, dan mulai fokus untuk meninggalkan warisan yang lebih baik, tanpa ketakutan untuk ditolak, dicap gagal, dan ketakutan-ketakutan remeh lainnya. Karena seluruh ketakutan akan kehilangan artinya ketika disandingkan dengan kematian.

Bersikap memang bodo amat kerap diartikan sebagai sikap apatis, tidak peduli terhadap hal-hal di sekitar kita, dan berbuat seenaknya. Namun, melalui buku ini, Mark Manson memberikan perspektif lain kepada pembaca mengenai sikap bodo amat yang ia maksud. Bahwa bodo amat di sini bukan berarti apatis dan cuek terhadap semua hal, melainkan hanya mempedulikan nilai-nilai yang penting dalam hidup dan tidak mempedulikan hal-hal selain itu.

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats