Mendefinisikan Ulang Takdir dalam Tukar Takdir

Edited by Me

Takdir kadang lucu. Setelah menunggu sekian lama, jodohmu akhirnya muncul—seseorang yang kamu temui di acara resepsi pernikahan sepupu, di halte bus, di kantin basemen sebuah gedung perkantoran, atau di aplikasi cari jodoh. Kamu menjalin ikatan dengannya, mempererat talinya sehingga kamu makin yakin bahwa dialah “orang”-nya. Kamu berdoa kepada Tuhan tentang dirinya yang makin hari makin kamu sayang dan selalu menghiasi pikiran. Kamu membahas masa depan bersamanya; menikah di sebuah lokasi privat yang sederhana nan membahagiakan, beranak dua seperti yang dianjurkan oleh BKKBN, dan membagi tugas-tugas rumah tangga. Kalian berdua sepakat tetap bekerja meskipun sudah memiliki anak agar dapur tetap ngebul dan tabungan untuk membeli rumah terkumpul. Kalian bahkan berdiskusi tentang mengumpulkan dana pensiun untuk hari-hari tua kalian. Kontrak imajiner tertulis dengan rapi dan sudah ditandatangani kedua belah pihak secara sadar dan tanpa paksaan.

Namun, hari itu datang. Hari melelahkan yang kamu harap tidak ada itu mengacaukan segalanya. Hari kamu bersitegang dengannya—seseorang yang dulu kamu temui di acara resepsi pernikahan sepupu, di halte bus, di kantin basemen sebuah gedung perkantoran, atau di aplikasi cari jodoh. Bagai ombak menyapu bersih kastil pasir pantai yang kamu buat dengan susah payah—melenyapkan kontrak imajiner itu. Semuanya kandas sudah. Seseorang yang kamu kira jodohmu ternyata bukan jodohmu. Dan kamu harus menunggu lagi. Takdir kadang selucu itu—semenyakitkan itu.

Takdir membawaku bertemu dengan Vabyo pada acara peluncuran bukunya di Jakarta, Jumat (24/5) lalu. Jauh sebelum acara, aku berencana untuk buka puasa dengan tahu gimbal. Sayangnya, sesampainya di warung makan tenda di kawasan Menteng Raya, menu tahu gimbalnya habis. Harapan itu kandas sudah. Takdir menyakitiku walaupun tidak semenyakitkan bertemu seseorang yang kamu kira jodoh. Aku memutuskan memesan nasi goreng telur yang ternyata enak juga. Setidaknya, makan nasi goreng telur membuat lupa kekecewaanku atas habisnya tahu gimbal sehingga aku masih bisa fokus mendengar Vabyo berceloteh tentang karya terbarunya, “Tukar Takdir”.

Judul : Tukar Takdir
Pengarang : Valiant Budi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2019
Dibaca : 26 Mei 2019
Rating : ★★★

"Bagaimana rasanya mati di tangan idola yang kamu kagumi?" (hlm. 171)

“Tukar Takdir” adalah karya teranyar Valiant Budi berisi 12 “takdir” berbeda dengan tokoh dan jalan cerita yang berbeda pula. Sebetulnya, kedua-belasnya adalah cerita-cerita pendek yang diubah konsepnya menjadi takdir-takdir. Cerita-ceritanya terkesan rumit, dalam, dan serius yang sepertinya bila dituturkan oleh pengarang lain bisa jadi membosankan dan penuh kuap. Untungnya, ini Vabyo! Ia takkan meninggalkan kedalaman cerita tanpa bubuk canda. Pada beberapa bagian, aku mesam-mesem dan kadang sampai tergelak. Membaca tiga karya Vabyo sebelumnya membuatku berekspektasi kelakar-kelakar yang kadang garing tapi sering kali jenaka. Tidak sulit menemukannya dalam buku ini.

Buku ini menjadi buku ke-13 Vabyo dan buku pertamanya yang digandeng bersama Gramedia Pustaka Utama. Dalam acara peluncuran bukunya, Vabyo membeberkan inspirasi yang membuatnya menulis cerita-cerita pendek pada buku ini. Secara umum, Vabyo menyampaikan bahwa karya-karyanya memang terinspirasi dari kisah nyata. Sebagai pengarang, ia bertugas mengeksplorasi dan merekayasa. Ia pun menceritakan latar belakang dari beberapa takdir dalam “Tukar Takdir”. Dari kesemuanya, cerita paling awal yang ditulisnya adalah “Takdir 11” yang terinspirasi dari sebuah toko barang bekas di Bandung yang pernah ia kunjungi. “Takdir 5” terinspirasi dari anak temannya dan menjadi cerita favoritnya. “Takdir 10” merupakan kisah terberat dan paling monumental bagi Vabyo.

Dari judulnya, aku beranggapan “Tukar Takdir” itu seperti “Tukar Nasib”, acara reality show populer pada tahun 2000-an. Pada setiap episodenya, sebuah keluarga miskin akan bertukar nasib selama sehari dengan sebuah keluarga kaya. Yang miskin akan merasakan gelimangan harta yang kaya—sebaliknya, yang kaya akan merasakan kesusahan hidup yang miskin. Dan tidak, “Tukar Takdir” tidak menceritakan hal semacam itu. Aku yakin Vabyo tidak sebodoh itu menjadikan sebuah acara reality show sebagai inspirasi tulisannya. Hal yang juga menguntungkan bagiku karena bila berplot seperti itu, memoriku akan menghadirkan masa remajaku yang ditipu oleh acara-acara reality show—acara-acara yang memang dibuat untuk “membodohi penonton” itu. Baca artikel dari Remotivi ini deh: Menebar Remah di Kolam "Reality Show".

Membaca buku ini, aku diingatkan bahwa takdir itu tidak hanya tentang menerima apa yang diberikan oleh Tuhan atau semesta atau apa pun yang kamu percayai, tetapi juga tentang pilihan-pilihan yang dapat kamu pilih sebelum takdir itu menimpamu. Sederhananya begini: kamu sedang mengendarai sebuah mobil dengan tujuan sebuah kota yang belum pernah kamu datangi sebelumnya. Kamu dihadapkan pada dua opsi rute: melalui jalan tol atau melalui jalan arteri. Kota tujuanmu itu adalah takdirmu dan opsi rute itu adalah pilihan untuk mencapai takdirmu. Kamu tidak hanya menerima takdir dengan berpangku tangan—tentu saja tidak. Kamu harus berusaha mencapainya dan kamu harus memilih jalan untuk mencapainya. Seperti aku yang memiliki takdir tidak makan tahu gimbal diberi opsi makanan lain, dan nasi goreng telurlah yang kupilih. Tujuannya sama: kenyang.

Takdir favoritku adalah “Takdir 11” yang berlatar sebuah toko barang bekas. Aku tidak akan mengekspos plotnya. Aku hanya perlu bilang: Berani-beraninya Vabyo memasukkan karakter yang merupakan “makhluk lain” ke dalam cerita yang ternyata plot twist ini. Namun, takdir paling relevan denganku adalah “Takdir 1” yang bercerita tentang detik-detik pesawat jatuh. Narasinya betul-betul bikin tidak nyaman dan membuatku teringat pada penerbangan terakhir yang aku alami saat pulang ke Indonesia beberapa waktu lalu. Pesawat yang membawaku ke Jakarta dari Tokyo mengalami turbulensi kuat yang lama. Aku komat-kamit berharap penerbangan itu bukan medium kematianku. Rasa waswas tak lenyap sampai pesawat mendarat.

Aku senang bisa membaca “Tukar Takdir”. Buku ini mengingatkan kembali definisi takdir dan bagaimana takdir itu bekerja. Ada juga bahasan tentang konsepsi reinkarnasi yang menarik untuk disimak. Aku juga senang akhirnya takdir mempertemukanku dengan Vabyo. Setelah membaca seri “Kedai 1001 Mimpi” dan “Forgotten Colors”, juga mewawancarainya via daring untuk Jurnal Ruang, aku bisa melihat Vabyo sebagai sosok yang menyenangkan. Sayangnya, waktu bertemu kemarin aku belum seratus persen “sadar” karena masih sedikit jetlag. Oh satu hal yang kutunggu-tunggu dari Vabyo, dalam wawancara kami, dia menyebutkan akan mencetak ulang seri "Kedai 1001 Mimpi"-nya: Kapan nih? Semoga segera ditakdirkan ya. Hehehe.

"Tubuhku pun melingkar-lingkar melaju mendekati portal sembari bertanya-tanya, apakah aku akan terpental?" (hlm. 219)

Baca juga:
Kedai 100X Mimpi: Kisah 1001 Malam yang Gagal
Merawat Kenangan Bersama Forgotten Colors

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats