Masa Kecil dan Kedewasaan–mengulik sepenggal cerpen Paradisa Apoda karya Eko Triono



“Bukankah benar masa kecil adalah orang tua bagi manusia dewasa?”—Paradisa Apoda


Pada sebuah percakapan dengan kakak beberapa waktu lalu, setelah melihat beberapa kasus di media sosial mengenai bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, saya teringat kalimat dari Eko Triono tersebut.

Di antaranya, mengenai mahasiswa yang mengerjai rekan sesama mahasiswa, dan anak SMP yang bawa genk-nya untuk menekan salah satu anak seumuran mereka.

Mereka melakukannya menurut saya karena mereka tidak merasa bahagia dengan diri mereka sendiri. Mereka merasa bisa mendapatkan kebahagiaan dengan menindas orang yang mereka anggap lemah—dan tampak lebih bahagia daripada mereka. Kadang, dengan berbuat demikian, mereka merasa "ada". Karena bisa jadi, mereka tidak dianggap ada bahkan oleh orang-orang terdekat mereka. 
Dan kenapa bisa muncul tabiat demikian pada anak-anak muda?
Penyebabnya adalah kita semua. Baik sebagai ibu, guru, atau sesama manusia.

***

Kalimat Eko Triono itu membuat saya tertegun cukup lama ketika dulu pertama kali membaca. Dan ternyata saya hafal di luar kepala.
Saking terasa kebenarannya.
Benar sekali!

Sebenarnya, bekal kita untuk menjalani kehidupan sebagai manusia dewasa justru terbentuk ketika kita masih kecil. 


Banyak ahli psikologi anak sudah membuktikannya.
sumber 

Anak yang dibesarkan dengan sering dimarahi, atau dikecilkan, atau dibandingkan, akan berbeda dengan anak yang dibesarkan dengan pengertian akan kelebihan dan kekurangan masing-masing.




Berapa banyak anak yang menjadi korban orang tua hanya agar “seperti kawan-kawanmu”.
"Kok kamu belum bisa baca, to? Si anu sudah."
"Kayak si itu, lho. Nggak pernah rewel kalo disuruh berangkat sekolah."
"Kamu kok masih nggak bisa perkalian, to? Anak itu, lho, sudah pintar pembagian."


Itu sebagian kecil. Dan dilakukan dalam lingkup pertama. Rumah.
Belum lagi sekolah. Belum lagi sekitar rumah.


sumber
Pernah mendengar sekumpulan orang yang menggosipkan ayah atau ibu seorang anak di hadapan anak tersebut? Seakan anak itu tuli dan buta, tak memiliki rasa? Alasannya, dia kan anak-anak, masih belum ngerti. 

Padahal, anak-anak—dan orang berusia yang jiwanya tidak beranjak dewasa—justru menjadi spons terkuat. Ia akan menyerap tiap kata dan gesture merendahkan yang ditujukan kepada keluarganya, kepada dirinya.

“Lalu, mengapa kita hanya memberi mereka kereta kelinci yang berjalan dengan roda mobil dan mengalah di perlintasan? Sebaiknya jangan membuat arwah penemu kereta api merasa sedih.”

Lalu mengapa kita berusaha membatasi ruang anak-anak--dengan memberinya kereta-keretaan, dan bukannya mengajak naik kereta api sungguhan--?

Kenapa kita melindungi anak-anak tersebut dengan perumpamaan-perumpamaan, dan kadang amarah, ketika ada pertanyaan anak yang ajaib? Kenapa tidak berusaha memberi penjelasan sebisanya? Dan akui ketika kita juga ternyata sama tidak mengetahuinya dengan dia.


Tiap bulan pemerintah mengumpulkan data guru yang tidak menyenangkan untuk dibina atau dipecat, sebab merusak generasi.


Ini arena Eko untuk unjuk kegelisahan—meskipun saya tidak bulat sepakat. Karena, guru yang tidak menyenangkan itu berbeda persepsi bagi tiap personal.

Kenapa murid yang sering disalahkan? Kenapa tidak para guru juga melakukan introspeksi diri? Ketika tanpa sengaja memandang remeh kemampuan akademis murid yang berisik, misal?


Kereta Paradisa Apoda mulanya akan mengganggu jalur kereta lain. Sebelum kemudian keluar kota dan mengambil jalurnya sendiri; melintasi kebun-kebun, perbukitan, lembah, dan daerah perbatasan dengan tidak tergesa-gesa, tidak tergesa-gesa.
 (italic ditambahkan oleh saya).

Ketika membaca ulang cerpen "Paradisa Apoda" di buku Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?, sebelumnya buku ini pernah saya bahas, saya masih belum mengerti maksud Eko memberi nama kereta tersebut Paradisa Apoda, nama cendrawasih kuning-besar—yang menurut Google-Wiki memiliki arti “cendrawasih tak berkaki”.

Apakah semacam ironi untuk menunjukkan keindahan yang tak mungkin digerakkan?
Keinginan penulis untuk menunjukkan beberapa alternatif jalan keluar—salah satunya tentang anak-anak tadi—namun sekaligus menunjukkan bahwa jalan tersebut tak dapat dijalankan?

Jika pemahaman saya tersebut keliru, tak mengapa.
Kadang saya masih keceplosan memperlakukan Kira dengan tidak adil. Membaca kalimat itu akan mengingatkan saya, bahwa saat ini adalah masa Kira mendapatkan orang tuanya, untuk bekalnya kelak. Agar tidak mencari kebahagiaan dengan cara menindas orang lain. Karena masing-masing dari mereka spesial. 
Kelak, jika perjalanan hidup saya lebih luas, bisa saja bisa memahami maksudnya. Saat ini, mengerti secupliknya saja membuat saya mendapat pelajaran berharga.

Dan saya mensyukurinya.

Note: Semua kalimat warna biru merupakan kutipan dari cerpen "Paradisa Apoda" karya Eko Triono. 



Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats