Lawan Reverse Culture Shock dengan Daftar Buku-Buku Keinginan

Edited by Me

Tersisa kurang dari 40 hari lagi sebelum kembali ke Jakarta dan bersua lagi dengan keluarga, teman-teman, dan kolega. Bahagia bercampur haru dan khawatir adalah perasaan yang tak bisa ditangkis. Kekhawatiran itu muncul karena apa yang dinamakan dengan reverse culture shock—sebuah keadaan ketika aku harus mengalami perubahan kembali setelah pulang ke kampung halaman. Di sini, aku sudah terbiasa dengan berjalan di lajur sebelah kanan, menghitung uang menggunakan dolar, menggunakan microwave, sampai minum air langsung dari keran. Saat pulang nanti, tentu saja sebagian besar kebiasaan itu sudah tidak bisa diaplikasikan. Setidaknya, aku sedang berpikir untuk membeli microwave atau rice cooker di tempat tinggal baru nanti. Itu baru hal-hal kecil yang terlihat remeh. Ada yang lain lagi seperti khawatir tidak menemukan perpustakaan yang selengkap di sini dari buku-buku fiksi klasik, fiksi remaja, buku bergambar anak-anak, sampai kaset DVD film dari tahun 80-an sampai sekarang. Dari semua kekhawatiran yang kusebutkan itu, satu kekhawatiran terbesarku adalah melakukan rutinitas yang monoton setiap harinya—bekerja Senin sampai Jumat dari jam 9 pagi sampai 5 sore dan tidak berdaya pada akhir pekan. Aku tahu ini terdengar dungu tetapi aku ingin melakukan hal lain selain mencari uang untuk hidup.

Bruce LaBrack, direktur Pacific Institute for Cross-Cultural Training di University of the Pacific’s School of International Studies, menjabarkan sepuluh tantangan yang akan dihadapi siswa/siswi ketika pulang ke negaranya setelah mengenyam studi di luar negeri. Salah satunya adalah reverse “homesickness” di mana seseorang akan merindukan tempat mereka tinggal saat studi sebagaimana ia merindukan kampung halamannya saat awal-awal berada di negara tempatnya menimba ilmu. Perasaan kehilangan yang ia alami adalah “bagian integral dari perjalanan internasional yang harus diantisipasi dan diterima sebagai hasil alami dari belajar di luar negeri.” Salah satu tip untuk mengatasi reverse culture shock dari LaBrack adalah mempersiapkan proses penyesuaian—berpikirlah apa yang akan terjadi saat pulang nanti. Mengetahui tip itu, aku bertanya-tanya apa yang bakal kulakukan di Indonesia nanti. Lalu aku memutuskan: Oh, tentu saja beli buku!

Selama di sini, aku merasa tersiksa karena tidak bisa melihat buku-buku fisik berbahasa Indonesia. Aku membawa tiga buku dari Indonesia dan cuma satu yang berbahasa Indonesia yaitu “Seandainya Saya Wartawan TEMPO” karya Goenawan Mohamad. Aku masih punya akun Gramedia Digital dengan buku-buku bahasa Indonesia yang selalu update dengan karya terbaru. Namun, kegiatan ini-itu hanya memperbolehkanku menggunakan gadget untuk membalas pesan dan bermedia sosial. Intinya, aku rindu dengan tumpukan buku-buku tinggi berbahasa Indonesia di toko buku. Aku rindu mendengar pengunjung-pengunjungnya yang saling bercengkerama menggunakan bahasa ibu. Aku rindu membayar buku-buku dengan rupiah beserta diskon dua puluh persennya.

Jadi, untuk mempersiapkan reverse culture shock dan mengobati kerinduan akan buku-buku berbahasa Indonesia baik lokal maupun terjemahan, aku membuat daftar buku-buku yang akan aku beli (dan akan aku baca, tentu saja) sekembalinya pulang ke Indonesia sebagai berikut.

Karya Lokal

karya Ivan Lanin
terbit Juli 2018

Siapa yang tidak kenal Ivan Lanin? Aku betul-betul kesal karena aku ingat waktu terbit bukunya bersamaan dengan waktu aku terbang ke Amerika Serikat. Jadi, tidak sempat dibeli sebagai bekal untuk melanglang buana. Sebagaimana jutaan orang Indonesia lainnya, aku mengagumi beliau berkat kegigihannya menyebarkan virus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Buku ini menjadi langkah awal para penggemarnya yang betul-betul “bucin” alias budak cinta.

---

karya Ruhaeni Intan
terbit Maret 2019

Sesungguhnya, aku tidak tahu siapa itu Ruhaeni Intan. Dilihat dari nama sih sepertinya orang Sunda karena banyak nama-nama Sunda yang menggunakan gabungan huruf “ae” seperti Jaelani, Saepudin, dan Ruhaeni alias aku asal tebak saja. Namun, bukunya betul-betul bikin penasaran dengan sampul berwarna kuning kecokelatan dengan ilustrasi seperti ikan hias arwana. Setelah aku cari tahu, ternyata itu ikan arapaima yang juga merupakan judul bukunya. Aku penasaran ada hubungan antara ikan itu dan kisah di dalam novelanya.

---

karya Valiant Budi
terbit April 2019

Yo! Akhirnya Bang Vabyo menerbitkan buku terbarunya. Setelah membaca “Kedai 1001 Mimpi”, “Kedai 1002 Mimpi”, dan “Forgotten Colors”, aku penasaran dengan yang satu ini. Dalam wawancaranya dengan Jurnal Ruang tahun lalu sih Bang Vabyo bilang bakalan cetak ulang seri Kedai Mimpi-nya. Namun, yang hadir duluan malah buku barunya. Blurb-nya begini: “Tukar Takdir menceritakan perkara yang kita takuti dan pasti terjadi dalam 12 (dua belas) nasib yang salah satunya mungkin pernah, sedang, atau akan jadi milikmu.” Baca ulasan: seri “Kedai Mimpi” dan “Forgotten Colors”.


Karya Terjemahan

“The Burning Maze” (The Trials of Apollo #3)
karya Rick Riordan
terbit Juli 2018

Harus beli buku ini sesimpel karena “bucin” Rick Riordan sekaligus penasaran kisah selanjutnya dari Lester Papadopoulos dan Meg. Kenapa enggak beli yang bahasa Inggrisnya? Wah, semua karya Rick Riordan-ku berbahasa Indonesia. Tidak pas rasanya bila beli yang bahasa lain.

---

“Unsouled” (Unwind Dystology #3)
karya Neal Shusterman
terbit Desember 2018

Wah, buku ini ditunggu-tunggu banget sejak baca “UnWholly” (Unwind Dystology #2) dua tahun lalu. Aku berharap buku keempatnya segera diterbitkan juga karena ulasan teman-teman di Goodreads bilang bahwa buku ini menggantung. Aku merasa bahwa buku-buku Neal Shusterman itu penting karena isu yang diangkat kebanyakan sangat relatable. Rekomendasiku setelah seri ini adalah “Dry” yang merupakan karya kolaborasi Neal Shusterman dan anak laki-lakinya, Jarrod Shusterman. Baca ulasan: “Unwind” dan “UnWholly”.

---

“Gemina” (The Illuminae Files #2)
karya Amie Kaufman dan Jay Kristoff
terbit Februari 2019

Seri fiksi ilmiah yang dibawakan dengan unik ini tidak boleh terlewat. Setelah membaca membaca seri pertama terjemahan, aku harus melanjutkan kisah Ezra dan Kady. Baca ulasan “Illuminae” di sini.

---

karya Kazuki Kaneshiro
terbit April 2019

Pengin baca buku ini cuma gara-gara editor bahasa Indonesianya yang bilang buku ini bagus. Katanya sih “novel ini bukan sekadar kisah cinta.”

***

Cukup ya. Tujuh saja dulu. Jangan pakai “dulu”: Tujuh saja! Aku masih punya timbunan yang kutinggalkan di rumah bude dan timbunan lain yang akan kubawa ke Indonesia. Omong-omong timbunan, aku sempat berkicau tentang itu beberapa waktu lalu. Awal mulanya, aku sedang di kamar dan melihat tumpukan buku di meja samping tempat tidur dan tumpukan buku lain di lantai sebelah tempat tidur. Alih-alih khawatir tidak bisa membaca semua bukunya, aku malah merasa damai berkat buku-buku yang berada di sekitarku itu. Pada saat yang sama aku juga teringat ledekan rekan program yang aku selalu membeli buku tetapi tidak membacanya. Dari keadaan itu, berbuahlah twit berikut.


Nah, diharapkan daftar ini sedikit meringankan beban kekhawatiranku atas reverse culture shock yang akan segera kualami. Semoga tidak semengkhawatirkan itu. Selanjutnya, semoga buku-buku yang kusebutkan di atas juga bisa jadi opsi bacaan teman-teman yang bingung mau baca apa (walaupun kebanyakan novel terjemahannya itu bagian dari seri).

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats