Kilas Buku: Mata Hari (The Spy)



Seorang perempuan Belanda bernama Margaretha Zelle  menjadi penari eksotis di benua asalnya. Bukan hanya karena ia memang senang menari, melainkan juga untuk mencari kehidupan yang layak untuknya. Namanya diubah menjadi Mata Hari. Itu nama panggungnya. Nama yang berasal dari timur dan memang sesuai dengan tarian yang ia bawakan di panggung-panggung teater di Paris.

Mata Hari berjaya dengan cepat. Ia berhasil membius semua penontonnya, laki-laki ataupun perempuan. Hanya satu kesamaan di antara para penonton: mereka sama-sama berasal dari kalangan atas. Inilah yang menjadi sumber pundi-pundi perempuan itu. Ia pun semakin betah tinggal di Paris. Kota itu merupakan impiannya selama ini; nyaman, jauh dari perang, dan cocok dengan kehidupannya yang glamour.

Sayangnya kejayaan Mata Hari juga jatuh dengan cepat, seiring bertambahnya usia dan pudarnya kecantikannya. Tahun 1914 - 1917 adalah puncak masalah dari semua kesulitan yang pernah ia hadapi. Negara-negara di Eropa kala itu dilanda perang dunia. Semua pihak berada dalam kondisi saling curiga. Tiada yang tahu siapa lawan, siapa kawan. Mata Hari yang sangat membutuhkan uang untuk mengembalikan kehidupannya yang nyaman dulu bersedia menyetujui segala yang ditawarkan kepadanya dengan bayaran yang maksimal. Akhirnya ia mendadak ditugaskan menjadi agen rahasia oleh dua negara sekaligus. Cerdiknya, ia tak pernah menjalankan tugas itu sama sekali. Yang ia inginkan hanya uangnya. Status mata-mata yang disematkan kepadanya tinggallah nama.

Namun musuh membutuhkan seseorang yang dijadikan musuh bersama. Harus ada yang dikorbankan untuk menyudahi perang. Maka pada tahun 1917 Mata Hari ditangkap di hotel tempatnya menginap. Meski tidak ada bukti yang jelas, Mata Hari tetap tidak bisa lepas dari sangkaan sebagai mata-mata.

Siapa Mata Hari?

Saya rasa sudah banyak pembaca yang mengetahui tentang profil Mata Hari. Ia hanyalah perempuan biasa yang hidup sulit di masa mudanya. Ia sempat tinggal di Indonesia selama beberapa tahun karena menjadi isteri untuk seorang komandan Belanda, Rudolph MacLeod. Sayangnya pernikahannya pun juga tidak bahagia.

Paulo Coelho memang tidak menceritakan secara detil kehidupan Mata Hari sebelum ia menjadi penari eksotis. Walaupun sebenarnya Mata Hari mendapat inspirasi dan bekal ilmu tarian eksotisnya itu dari tarian tradisional Jawa yang ia pelajari sewaktu tinggal di Malang. Memang dia tidak menarikan tarian Jawa sewaktu di Eropa. Ia merekontruksi ulang tarian tersebut dengan imajinasinya sendiri dan menyebutnya tarian eksotis dari timur.

Paulo menulis kisah Mata Hari langsung ke inti masalah. Yang ia tekankan memang seluk beluk perempuan itu ketika terlibat ke dalam kehidupan pelik kalangan atas dan pemerintah. Berbekal fakta dan riset terkait kasus Mata Hari, Paulo berhasil menceritakan ulang dengan baik.

Kini Mata Hari menjadi kisah misterius yang terus dikenang zaman. Banyak tulisan baik itu sepotong artikel hingga buku yang menulis ulang sejarah Mata Hari. Seolah-olah dunia berduka dan menyesali diri sendiri yang tidak mampu melepaskan perempuan itu dari takdir buruknya.

Pada akhirnya buku ini layak dibaca mereka yang mencari fiksi alternatif yang berpadu dengan sejarah. Ah, sebut saja dengan fiksi sejarah. :D

Tiga bintang.

Data buku

Judul: Mata Hari (The Spy)
Judul asli: A Espia
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Lulu Wijaya
Tebal: 192 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats