Giveaway: Filosofi Teras


Di tengah maraknya kampanye pasangan calon presiden-calon wakil presiden yang sudah terasa sejak akhir tahun lalu, rasanya kita menjadi "penuh." Bahkan, akibat rasa "penuh" tersebut, kita menjadi lebih mudah tersulut, merespon tanpa memikirkan implikasi selanjutnya. Ujung-ujungnya, stress sendiri. Lalu, kita bisa berbuat apa?


Di bulan November tahun lalu, sebuah kecelakaan tunggal terjadi. Menyebabkan adanya dislokasi tulang yang memengaruhi mobilitas sehari-hari. Di saat yang seperti itu, sebenarnya sudah tersedia pilihan: mau mengutuk keadaan atau menerimanya, mengikuti pergerakan alam/semesta. 

Jika memilih opsi pertama, imbasnya bisa jadi malah semakin mengeluh dan menyalahkan hal-hal eksternal. Sedangkan, jika memilih opsi kedua, pikiran dan diri menjadi lebih ringan. Sebab, sudah tahu bahwa dislokasi tulang terjadi dan memang butuh bantuan medis (hingga hasil akhir untuk tidak beraktivitas selama waktu tertentu).

Kejadian kecelakaan motor tersebut sudah pernah aku bahas dalam ulasanku terhadap buku Filosofi Teras di Jurnal Ruang. Sebuah buku yang ku tunggu sejak akhir tahun 2018 dari salah satu penulis favoritku: om Henry Manampiring. 


Filosofi Teras
Penulis: Henry Manampiring
Tahun terbit: 2018
Penerbit: Buku Kompas
Halaman: 344 halaman
Rating Goodreads: 4.24/5
Sinopsis:

"Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? baperan? susah move-on? mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?

Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini."


Filosofi Teras, atau kemudian juga dikenal dengan Filsafat Stoikisme, adalah ilmu filsafat yang digunakan sebagai laku hidup (way of life). Bagaimana menerapkan Stoikisme dalam kehidupan individu sehari-hari agar lebih bahagia. Di sini, yang dimaksud bahagia ialah ketiadaan terhadap masalah/problematika. 

Bagaimana bisa?

Om Piring selanjutnya menuliskan konsep dari Stoikisme: dikotomi kendali. Para pelaku Stoikisme menyadari betul bahwa di dunia ini ada hal yang bisa kita kontrol dan yang tidak bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol adalah pikiran kita sendiri, jiwa kita, emosi kita sebagai manusia. Maka dari itu, mau keadaan eksternal kita seburuk apapun, hanyalah pikiran kitalah yang masih merdeka. Kita sangat bisa membuat "doktrin" untuk diri kita sendiri.

Dikotomi kendali ini menjadi elemen yang cukup penting. Mengapa? Dengan begitu, kita sebagai individu diajari untuk tidak terlalu mengambil pusing hal-hal yang memang bukan kendali kita. 

Misalnya saja dalam kasus kecelakaan motor itu tadi: aku tidak bisa mengendalikan keadaan tubuhku ketika sudah mengetahui bahwa ada dislokasi tulang. Tapi aku bisa mengendalikan pikiranku untuk lebih menerima keadaan dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai cara belajarku terhadap pentingnya memiliki asuransi kecelakaan. 

Itu masih satu hal yang dijelaskan dalam Filosofi Teras. Masih ada banyak aspek dan konsep yang sebenarnya masih relevan jika diaplikasikan saat ini. Apalagi ketika lingkungan sekitar kita (termasuk informasi yang kita terima melalui media) semakin membuat kita "penuh" atau "ribet." Meskipun, spektrum dari Filsafat Stoikisme masih ada yang lebih luas dari yang dibahas dalam buku Filosofi Teras.

Kekagumanku terhadap Filosofi Teras berawal karena Om Piring bisa membawakan materi Filsafat dengan cara yang lebih ringan. Jauh lebih ringan ketimbang bacaan filsafatku di zaman kuliah dulu. Padahal, kalau diingat, aku bukanlah mahasiswa yang menggemari kelas filsafat. Namun, karena om Piring-lah, aku menjadi tertarik untuk mengulik lebih jauh tentang filsafat, dan itu disebabkan oleh Filosofi Teras. 

Om Piring menyampaikan Filsafat Stoikisme melalui kisah-kisah personalnya. Ditambah, contoh kasus yang relevan dengan kehidupan pembaca membuat pembaca menjadi lebih mudah untuk memahami pesan inti buku ini. Oh ya, tidak lupa juga ilustrasi ciamik dari Levina Lesmana yang membuat buku ini enak untuk dinikmati. 

Secara keseluruhan, aku sungguh puas dengan Filosofi Teras. Aku bahkan mengusahakan untuk terus merekomendasikan buku ini kepada rekan-rekanku. Di satu sisi, aku masih terus berlatih untuk menjadi kaum Stoa, menjadi individu yang bisa mengelola emosinya dengan baik.



Kembali pada topik pemilu dan kampanye, Filsafat Stoikisme sangat bisa diaplikasikan pada kasus tersebut. Kita tidak perlu ambil pusing terhadap hasil akhir: siapa yang menjadi presiden. Toh, itu sudah berada di luar kendali kita. 

Namun, jika kamu berhasil mendapatkan 1 eksemplar buku Filosofi Teras dan berkenalan dengan Filsafat Stoikisme, kira-kira kekhawatiran apa yang ingin diselesaikan?

Silakan tulis jawabanmu di kolom komentar bawah ini dengan mencantumkan akun Twitter/Instagram dan domisili ya!

Jawaban akan ditunggu hingga tanggal 17 April 2019 pukul 20:00 WIB. Satu orang pemenang akan dipilih dan akan aku hubungi melalui Twitter/Instagram. Apabila masih ada yang ingin ditanyakan, silakan colek di Twitter @hzboy atau di Instagram @hzboy1906

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats