Gadis Roma yang Hilang



Psikologis, adalah tema besar yang diangkat penulis sepanjang kisah penyelidikan berbagai pembunuhan sadis. Dimulai dari hilangnya Lara, mahasiswa Arsitektur, yang merupakan korban kesekian dari hilang dan matinya beberapa gadis seusianya. Jeremiah Smith adalah pelaku pembunuhan gadis-gadis yang hilang tersebut, tapi sayangnya, Lara tidak dapat ditemukan karena Smith terkena serangan jantung dan mengalami koma.

Marcus, seorang pendeta yang mengalami amnesia, ditunjuk untuk menemukan Lara, korban yang diperkirakan masih hidup. Penyelidikan banyak mengambil sisi psikologis, Marcus mencoba mengenali Lara lewat apartemennya dan juga menganalisa sosok Jeremiah, seorang pria penyendiri yang terasa mustahil membuat para gadis bersedia tanpa ragu untuk mengikutinya. Hal-hal ganjil, anomali, menjadi perhatian besar Marcus setiap kali menelusuri setiap kasus.
“... pembunuh berantai memang menikmati apa yang mereka lakukan. Artinya mereka ingin terus melakukannya selama mungkin. Mereka tidak tertarik dengan ketenaran, itu hanya menjadi penghalang, tetapi mereka kadang-kadang meninggalkan tanda-tanda. Bukan untuk berkomunikasi, tetapi untuk berbagi.” ~ h.84
Kasus Lara, bukanlah satu-satunya kasus yang harus dihadapi Marcus. Pembunuhan Valeria Altieri dan kekasih gelapnya dengan simbol, lalu penusukan-penusukan sadis para gadis yang dilakukan dengan gunting oleh sosok misterius yang disebut Figaro, dan kematian Alberto Cantrieri yang menuntun pada kasus penculikan seorang anak. Ketiganya mempertontonkan tugas besar Marcus sebagai seorang penitenziere, peran terwujudnya pengadilan jiwa, pengadilan yang menghakimi dosa-dosa manusia.

Di sisi lain, Sandra, photografer forensik yang sejak lima bulan lalu kehilangan suaminya, akibat jatuh dari lantai lima, gedung tak berpenghuni. Saya suka bagaimana penulis menggambarkan rasa kehilangan Sandra melalui keinginannya mempertahankan aroma sabun cukur dan rokok adas manis David di dalam rumah mereka. Kesedihan dan keputusasaannya terusik ketika sebuah telepon dari Schalber, yang mempertanyakan barang-barang peninggalan David, sekaligus menggiring Sandra untuk menyelidiki kematian suaminya.

Marcus dan Sandra menjadi dua alur cerita penyelidikan dengan gaya analisis yang hampir sama, tapi dengan urutan yang berbeda. Hanya saja, alur Marcus lebih komplek karena dia juga harus bergulat dengan kekosongan masa lalu dan mimpi-mimpi buruknya. Status penitenziere yang dibebankan kepadanya pun tak pelak semakin menjadi kemelut dalam dirinya, ketika perasaan menjadi perantara terwujudnya balas dendam dalam hampir di setiap penutup kasus.

Ketiga alur cerita ini berjalan selang-seling dengan bab yang berjalan mundur, agak bingung awalnya dengan alur mundur ini, dan ternyata titik mulanya berada di ujung cerita, yang berjudul HARI INI.
Si pemburu, tokoh ketiga yang memiliki alur cerita tersendiri meski kelak akan memiliki keterkaitan. Pemburu mencari mangsa dengan melakukan penyelidikan pada diri seorang yang didiagnosa memiliki kelainan psikologis yang disebut Sindrom Bunglon. Sindrom ini membuat si mangsa berubah menjadi seseorang yang ditirunya.
‘... "Dia tidak punya identitas sejati, itulah sebabnya dia terus menerus meminjam dari orang lain. Dia contoh yang unik, sebuah kasus kejiwaan yang sangat langka. Seorang transformis pembunuh berantai." Pemburu ~ h.185
Pengejaran pemburu mengantarnya pada sebuah penelitian terlarang dan mengubah si pemburu menjadi mangsa. Alur si pemburu inilah yang ujungnya akan menjadi penutup yang fantastis dan membuat pembaca memutar-ulang keseluruhan cerita. Saat antagonis dan protagonis kembali dipertanyakan.

Judul: Gadis Roma yang Hilang | Judul Asli: The Lost Girl of Rome | Penulis: Donato Carrisi | Penerjemah: Adi Toha | Penerbit: Alvabet | Terbit: Januari 2016 | Tebal: 558 hlm | Harga: Rp. 89.000 (harga diskon di www.parcelbuku.net) | Bintang:4/5

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats