Fallega – Dana Fazaira

Judul : Fallega
Penulis : Dana Fazaira
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal dan Tahun Terbit : 336hal ; 29 Oktober 2018
Sinopsis : Fallega
Review :
Di tahun 2005 Fallega Dinata diasingkan oleh orangtuanya ke Sydney. Fallega dianggap sudah mencoreng nama baik keluarga besar Dinata. Bukan tanpa sebab ia diasingkan. Fallega dikhianati, ditolak dan dicemooh habis - habisan oleh orang - orang terdekatnya. Sejak video bermesraannya dengan pacarnya Aji tersebar luas, tidak ada yang mau berteman dengannya lagi. Tidak Aji, tidak juga gengnya yang terdiri dari Indah, Dhini dan Icha. 

"Lo semua sahabat gue. Kenapa saat gue butuh pelindung lo semua nggak ada?"
"Friendship is nothing. Yang gue sama Dhini butuhin itu adalah hubungan yang saling menguntungkan. Dan lo udah nggak bisa nguntungin kami lagi. Lo cuma sampah."

Di tahun 2008, Fallega kembali ke Jakarta untuk membalas dendam pada semua orang yang sudah menyakiti dan mempermalukannya. Tidak tanggung - tanggung, semua sudah direncanakannya secara matang. Fallega tidak lagi feminim seperti dulu. Kini ia tomboy, dingin, dan penuh dendam. 

Untuk mempermudah misi balas dendamnya, Fallega memperalat Rani, gadis biasa yang cantik dan polos untuk menjadi temannya. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki keluarganya, tak ada yang tak bisa dilakukan Fallega. Terlebih ketika benci dan dendam sudah merasuki pikiran dan hatinya, tak ada lagi ruang untuk berdamai, tidak untuk orang lain, tidak juga untuk dirinya sendiri.

Sinopsis dan covernya menggambarkan segalanya. Menurutku cerita sih gila. Maksudku rencana - rencana Fallega sudah tertata dengan rapi dan tak bercela. Salahkah dia yang berniat balas dendam? I'm not in a position to judge, though. Bagi aku semua orang punya caranya masing - masing untuk menyalurkan hasrat yang ada di dalam diri mereka. Ada yang hanya akan berdoa semoga Tuhan membalas perbuatan orang yang menjahati mereka, namun ada juga yang berusaha berperan sebagai Tuhan dan membalas dendam, salah satunya adalah Fallega. 

Bagiku sendiri, dendam tidak akan menyelesaikan segalanya. It won't give you peace. Malah menurutku dendam hanya akan membuat kita jauh. Jauh dari orang - orang yang kita sayangi dan jauh dari Tuhan. Selain itu, percaya nggak sih kalau dendam itu bisa membuat kita stress lalu jatuh sakit. Untuk jasmani dan rohani kita, dendam itu nggak ada bagus - bagusnya. Do you believe in karma? Because I do. Biarkan saja karma yang membalas mereka. Kalau zaman dulu, karma itu akan datang setelah tujuh turunan (kata orang dulu), tapi karma di zaman sekarang berbeda. It comes instantly to you right after you did something bad. Jadi nggak usah capek hati dan pikiran, karena aku percaya, Tuhan tidak tidur. 
"Dendam malah akan membuat kamu sakit. Dendam itu nggak bisa buat orang yang kita dendam berubah, justru dendam yang bakal ngerusak organ kita karena yang sakit malah orang yang mendendam. Jadi apa gunanya mendendam?"
"Kalau mau marah, marah aja. Nggak usah dendam. Kalo mau nangis, nangis aja. Jangan dipendam. Itu semua malah buat kamu sakit. Setiap orang akan dibalas perbuatannya, jadi kamu nggak perlu ngerasa kamu yang harus nyadarin mereka. Tuhan punya caranya sendiri."
Baca buku ini sih nggak perlu waktu lama karena alurnya cepat dan ceritanya bagus. Karakter utamanya punya segudang ide - ide yang gila dan gokil, dan insight yang bisa kita ambil hikmahnya itu buanyakkk banget. 


Rating : 4/5


Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats