Everything is F*cked



Sukses dengan buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck, 3 tahun kemudian Mark Manson barulah melanjutkan tulisannya melalui Everything is F*cked. Buku yang sepertinya sudah ditunggu-tunggu oleh sebagian besar pembaca setianya ini lebih fokus membahas tentang hope atau harapan.



Everything is F*cked
Penulis: Mark Manson
Jumlah halaman: 288 halaman
Tahun terbit: 2019
Penerbit: Harper
Format: paperback
Rating Shiori-ko: 3/5
Sinopsis:


Now, in Everthing Is F*cked, Manson turns his gaze from the inevitable flaws within each individual self to the endless calamities taking place in the world around us. Drawing from the pool of psychological research on these topics, as well as the timeless wisdom of philosophers such as Plato, Nietzsche, and Tom Waits, he dissects religion and politics and the uncomfortable ways they have come to resemble one another. He looks at our relationships with money, entertainment and the internet, and how too much of a good thing can psychologically eat us alive. He openly defies our definitions of faith, happiness, freedom—and even of hope itself.

With his usual mix of erudition and where-the-f*ck-did-that-come-from humor, Manson takes us by the collar and challenges us to be more honest with ourselves and connected with the world in ways we probably haven’t considered before. It’s another counterintuitive romp through the pain in our hearts and the stress of our soul. One of the great modern writers has produced another book that will set the agenda for years to come.

***

"The fact is that we require more than willpower to achieve self-control. It turns out that our emotions are instrumental in our decision making and our actions. We just don't always realize it."

Masih khas ala Manson, semuanya dibuka dengan kisah dan bahkan tragedi. Kekuatan story telling yang apik membuat pembaca bisa memahami konteks sebelum akhirnya Manson masuk ke dalam materi. Uniknya, Manson membagi buku ini menjadi dua bagian yang cukup kontras. Tentu saja, masih tentang bagaimana kita merespon kejadian-kejadian dalam semesta kita sendiri.

Bagian pertama adalah tentang harapan. Bahwa manusia hidup memang dalam yang namanya Uncomfortable Truth. Ada masa-masa dalam perjalanan kita yang membuat kita tidak nyaman, tapi itu tetap harus dijalani karena memang begitulah keadaannya. Semua manusia pasti mengalami Uncomfortable Truth tetapi jangan malah menjadi hilang harapan. Sebab, karena harapan, manusia jadi memiliki semangat untuk berjuang dan berusaha keras.


Uniknya, pada bab yang membahas How to Make All Your Dreams Come True, Manson menggunakan analogi agama/kepercayaan. Baginya, manusia meyakini sesuatu yang ada di luar kuasanya (meski Manson sendiri adalah seorang Atheis, ia mengakui hal tersebut) dan apabila diolah sedemikian rupa, agama/kepercayaan bisa menjadi senjata sekaligus semangat menuju harapan. Manson pun menuliskan beberapa tahapan jika ingin membuat mimpi kita terwujud melalui analogi uniknya itu.

Misalnya:

"Because, as we'll see, religion is all about emotional attachment. And the best way to build those attachments is to get people to stop thinking critically."

Sebuah satir halus namun cukup mengena.

Masuk ke bagian kedua: Everything is F*cked, Manson mengajak pembaca untuk tidak memiliki harapan dan ekspektasi. Bagi Manson, memiliki harapan dan ekspektasi malah membuat rasa kecewa kita semakin besar jika hal itu tidak sesuai/tidak tercapai.

Jika bagian satu Manson menggunakan banyak kisah bahkan menggunakan analogi agama/kepercayaan, di bagian kedua Manson cukup banyak mengutip cara pandang filsafat seperti Nietzsche dengan narasi "God is dead." Bahkan Manson juga mengutip cara pandang Stoa tentang bagaimana manusia menjalani hidup tanpa berekspektasi.

Ada pula satu bab yang khusus membahas soal Pain, soal luka dan sakit. Bagi Manson, pain bukan untuk dihindari karena ia akan selalu ada. Pain hendaknya dirangkul sebagai suatu konstanta. Ia pasti ada dalam setiap fase.


Secara keseluruhan, aku hanya sanggup memberikan 3 bintang. Meski cara penyampaiannya unik dan khas Manson, tapi dalam beberapa bab aku terkadang merasa jenuh dengan inti cerita yang sebenarnya masih sama dengan bab yang ada di depannya. Manson melalui buku ini memainkan peran sebagai pengingat, karena semua orang sebenarnya juga tahu tentang harapan dan ekspektasi.

"The only true form of freedom, the only ethical form of freedom is through self-limitation. It is not the privilege of choosing everything you want in your life, but rather choosing what you will give up in your life."

Ohiya, Manson juga memperkaya tulisannya dengan studi kasus dan data-data pendukung, termasuk bukunya Jonathan Haidt. Tulisannya bukan sembarangan hanya opini Manson semata membuat buku ini memiliki standing point sendiri.

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats