Enam Tahun, Kilas Balik, dan Bagi-Bagi Buku

Edited by Me

tak ada yang lebih arif // dari hujan bulan Juni // dibiarkannya yang tak terucapkan // diserap akar pohon bunga itu

Bila ada satu hal penting tentang bulan Juni, para penggemar sastra mungkin tidak perlu berpikir lama-lama untuk menunjuk puisi karya Sapardi Djoko Damono. Walaupun baca beberapa karya sastra, aku bukan penggemar sastra, dan aku sengaja mencantumkan kutipan puisi “Hujan Bulan Juni” di atas agar terlihat molek. Bukankah salah satu unsur penting dalam karya sastra adalah estetika? Lagi pula ini bulan Juni, jadi kenapa tidak? Berbeda dengan para penggemar sastra, hal penting tentang bulan Juni bagiku adalah menciptakan blog buku ini—yang selanjutnya kusebut blog Bibli. Tahun 2013 bisa dibilang menjadi masa suksesnya blog buku. Kala itu, aku yang hanya mengulas buku-buku yang kubaca di akun Goodreads-ku coba memindahkan ulasan-ulasannya ke blog Bibli. Selain itu, aku juga ingin membagikan hasil pikiranku atas buku yang aku baca sekaligus memberikan rekomendasi bacaan kepada siapa saja. Hal lain yang membuatku buru-buru membuat blog buku adalah salah satu komunitas bergengsi Blogger Buku Indonesia (BBI) kala itu sedang membuka pendaftaran member yang syarat utamanya tentu saja memiliki blog buku. Jadi, dengan niat mulia dan dorongan masuk ke komunitas besar, aku menciptakan blog Bibli.

Beberapa orang—dan mungkin juga—bertanya-tanya kenapa aku menamai blogku dan kenapa namanya Bibli. Perlu diketahui bahwa ada tiga terma seputar blogku: Bibliough (alamat blog), Ough, My Books! (nama blog), dan Bibli (persona atau mascot blog). Alamat blog Bibliough aku baurkan dari kata “biblio” yang dalam bahasa Yunani kuno berarti buku dan “ough” yang merupakan bentuk alay kata “oh” yang merupakan kata seru yang menyatakan banyak hal alias penuh kejutan. Secara kesatuan, Bibliough berarti blog penuh kejutan tentang buku-buku. Ough, My Books! adalah term lain dari Bibliough. Bibli adalah persona khayalan teman Raafi. Ia tinggal di blog Bibliough dan sempat menulis beberapa artikel juga. Karakteristiknya ceplas-ceplos, lucu, dan menyenangkan. Raafi dan Bibli sempat punya rubrik R&B yang merupakan ulasan berbentuk percakapan. Salah satu artikelnya yang populer adalah ulasan “Harry Potter dan Batu Bertuah”. Artikel yang dibuat Bibli antara lain: "3 'Keanehan' dalam Miss Peregrine's Home for Peculiar Children"  dan "Masha: Karya Supernatural Lokal Tanpa Mengekor Fantasi Luar?".

Lalu, coba perhatikan jumlah artikel yang tayang setiap tahun di blog Bibli. Grafiknya seperti bentuk gunung sederhana yang kerap kugambar pada waktu kecil. Pada tahun pertama tercipta, jumlah artikel di blog adalah 17. Puncaknya terjadi pada 2015 dan 2016 dengan masing-masing berjumlah lebih dari 90 artikel dan terlihat menurut pada 2017 apalagi 2018 yang hanya bertotal 14 artikel saja. Dulu, saat belum punya banyak urusan, saat belum merasa sok sibuk, dan saat negara api belum menyerang, aku sempat berpedoman untuk mengulas setiap buku yang kubaca di blog. Aku sempat berhasil pada rentang 2015 dan 2016 itu. Aku lalu terseok-seok pada 2017 dan merasa tidak becus dengan taklimatku sendiri pada 2018 dan sempat hiatus selama beberapa waktu.

Seperti apa yang disampaikan Reza Nufa dalam cuitannya, “Pada usia di bawah 25, hidup memang kelihatan genting banget. Segala macem pengen dihandel. Setelah usia itu, perlahan jadi ‘oke, huuh, halah, bebas, serah deh.’” Walaupun terseok-seok, aku merasa bersyukur karena masih bisa menghidupkan blog Bibli ini. Salah satu keinginan spesifikku perihal blog Bibli adalah membuat come back rubrik R&B. Keinginan umum tentu saja tetap setia menulis untuk blog Bibli sampai akhir hayat atau sampai perubahan iklim mencapai puncaknya dan menghantam dunia.

***


Dalam naungan rasa syukur kepada pemilik semesta, aku adakan giveaway atau bagi-bagi buku kepada teman-teman pengunjung blog Bibli. Buku-bukunya adalah bukti terbit karya-karya yang sudah kukerjakan dan diterbitkan dalam rentang tahun lalu dan tahun ini. Mereka adalah: “Goodbye Days” karya Jeff Zentner terbitan Penerbit Spring, “The Wrong Side of Right” karya Jenn Marie Thorne terbitan Penerbit KPG, dan “A Bad Boy Stole My Bra” karya Lauren Price terbitan Penerbit Spring. Caranya: Luangkan tiga menitmu untuk mengisi formulir yang sudah kubuat di bawah ini. Kutunggu sampai Selasa, 25 Juni 2019. Semoga beruntung!


***

Bagi kamu yang bingung mau pilih buku yang mana, berikut ulasan singkat tentang ketiganya.

“Goodbye Days” karya Jeff Zentner

Kalau kamu suka cerita sendu dan membuatmu berderai air mata, pilihlah "Goodbye Days"! Novel remaja ini bercerita tentang seorang pemuda yang kehilangan tiga sahabatnya dan, parahnya, dia merasa dirinyalah penyebab kematian mereka. Salah satu buku yang membuat air mataku menderas dan salah satu novel remaja terbaik yang kubaca. Aku sempat menulis ulasannya untuk Jurnal Ruang bertajuk “Belajar Atasi Duka bersama Goodbye Days”.

“The Wrong Side of Right” karya Jenn Marie Thorne

Kalau kamu suka cerita romansa remaja nan manis dan berbalut politik, pilihlah "The Wrong Side of Right"! Karya kontemporer ini bercerita tentang seorang gadis yang ternyata adalah anak calon presiden Amerika Serikat dari partai Republikan. Ia tidak sengaja bertemu dengan anak laki-laki presiden bertahan dari partai Demokrat. Seiring waktu, keduanya memiliki hubungan diam-diam yang riskan. Novel berwawasan penuh dengan intrik dan permasalahan remaja.

“A Bad Boy Stole My Bra” karya Lauren Price

Kalau kamu suka cerita romansa picisan dengan karakter menyebalkan, pilihlah "A Bad Boy Stole My Bra"! Kekonyolan novel ini sudah dimulai sejak awal ketika seorang laki-laki tiba-tiba menyelinap ke kamar seorang gadis melalui jendela dan mencuri branya pada tengah malam. Orang tua laki-laki itu baru pindah dan menjadi tetangga pinggir rumah orang tua sang gadis. Novel remaja yang absurd, sedikit “kotor”, namun bikin geregetan.

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats