[Book Review] The Reptile Room by Lemony Snicket

The Reptile Room The Reptile Room by Lemony Snicket (A Series of Unfortunate Events #2)
My rating: 4 of 5 stars
Published September 30th 1999 by Scholastic, Inc. (first published August 30th 1999)
E-book, 192 pages

Blurb:
Dear Reader,

If you have picked up this book with the hope of finding a simple and cheery tale, I'm afraid you have picked up the wrong book altogether. The story may seem cheery at first, when the Baudelaire children spend time in the company of some interesting reptiles and a giddy uncle, but don't be fooled. If you know anything at all about the unlucky Baudelaire children, you already know that even pleasant events lead down the same road to misery.

In fact, within the pages you now hold in your hands, the three siblings endure a car accident, a terrible odor, a deadly serpent, a long knife, a large brass reading lamp, and the appearance of a person they'd hoped never to see again.

I am bound to record these tragic events, but you are free to put this book back on the shelf and seek something lighter.

With all due respect,

Lemony Snicket

Ulasan:
Buku ini lebih bagus daripada buku pertamanya. Akhirnya Baudelaire bersaudara dapat bernafas lega karena sudah terlepas dari Count Olaf. Mereka juga mendapatkan 'guardian' baru.

Karena pengalaman buruk mereka dengan Count Olaf, anak-anak Baudelaire menaruh curiga pada Paman Monty. Apalagi pekerjaannya adalah herpetolog, peneliti yang mempelajari tentang herpetofauna atau hewan reptil dan amfibi. Tapi Paman Monty bukan orang jahat. Malah, beliau adalah 'guardian' terbaik yang pernah anak-anak Baudelaire dapatkan.

Sayangnya, Count Olaf masih belum menyerah mengganggu anak-anak Baudelaire. Anak-anak sudah memperingatkan Paman Monty sampai putus asa kalau asisten baru mereka, Stefano, adalah Count Olaf yang menyamar. Paman Monty malah mengira Stefano adalah mata-mata herpetolog yang menyamar. Duh, bikin gregetan.

Sampai kemudian, terjadi suatu musibah yang membuat anak-anak Baudelaire sangat terpukul. Saya juga jadi sedih membacanya. Paman Monty adalah figur orang tua yang ideal bagi anak-anak Baudelaire. Dan sekali lagi kebahagiaan mereka direnggut.

Yah, mau bagaimana lagi. Lemony Snicket, atau sang penulis yang memakai nama samaran ini, sudah memperingatkan pembaca kalau cerita ini bukan cerita bahagia. Tapi aku tetap menyukai cerita ini. Paling tidak, anak-anak Baudelaire sempat merasa bahagia. Walaupun harapan mereka dihempaskan lagi ke jurang kesedihan oleh penulisnya. Kasihan amat ya...

Mari lanjutkan baca buku selanjutnya. Mungkin anak-anak Baudelaire akan menemukan kebahagian lagi.

Itulah yang terlintas di benak saya ketika pertama kali membaca buku ini. Tapi ini adalah yang kedua kalinya saya membacanya, jadi saya tahu apa yang terjadi selanjutnya. Karena itulah, saya merasa buku kedua seri ini adalah yang terbaik.

Untuk kali kedua saya membacanya, saya membaca versi Bahasa Inggrisnya. Kesan yang didapat masih sama seperti ketika saya membacanya untuk pertama kalinya dalam versi Bahasa Indonesia. Padahal sudah bertahun-tahun berlalu. Ini adalah bacaan berseri yang mengantarkan saya tumbuh besar dan memberikan pandangan baru bahwa hidup itu dinamis.

View all my reviews

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats