[BlogTour] Review: The Perfect Catch by Chocola

Sekarang kita masuk ke postingan ke-2 yaitu resensi novel THE PERFECT CATCH. Kalau ada yang belum baca isi wawancara singkat saya bersama sang penulis, monggol lho kalau mau cek dulu ke postingan sebelumnya. Kalau sudah baca, silakan di simak resensi dari saya berikut ini. 🙂

Judul: The Perfect Catch
Penulis: Chocola
Penerbit: Roro Raya Sejahtera
Editor: Prisca Primasari
Proofreader: Rinandi Dinanta
Desainer Sampul: Ade Ismiati Hakimah
Penata Letak: Ade Ismiati Hakimah
Cetakan: Pertama
Terbitan: September 2018
Tebal: vi + 218 hlm; 14×20 cm
ISBN: 978-602-5903-03-8
Genre: Romance (Novel Remaja, 13+)
Harga P. Jawa: Rp 65.000,00

TAGLINE

Biarkan luka mempertemukan kita dengan cinta

BLURB

Mungkin kamu memang perlu mengalami jatuh cinta pada orang yang salah. Karena biasanya, ketika mengetahui pilihanmu keliru pun, masih saja kamu mencoba menyangkal, membuat alasan, dan akhirnya benar-benar menjauh dari kebenaran. Kamu juga tega membohongi diri sendiri sehingga lupa, cepat atau lambat, cinta yang salah akan membuatmu merasa lebih kesepian daripada sebelumnya.

Meskipun begitu, cinta yang salah juga membuatmu menyadari apa yang sebenarnya kamu cari selama ini. Kekecewaan mendorongmu menemukannya lebih cepat. Patah hati membuatmu lebih menghargai orang yang balas mencintaimu sama besarnya.
Siapa pun dia, suatu saat akan membuatmu mendongakkan kepala, lalu balas tersenyum ke arahnya.
“Ini dia,” katamu dengan suara bangga. “Ini dia yang membuatku berhenti mencari.”

REVIEW

Dinda, Fitri, Vina, dan Rena merupakan sekelompok sahabat yang tergabung dalam satu kelas. Kini mereka duduk di kelas XI. Hampir seluruh cewek di SMA Pelita mengidolakan Arga, tak terkecuali 4 cewek ini. Arga itu cowok tampan yang jago banget main basket. Arga punya banyak fans, sehingga tiap kali Arga akan main basket pastinya sudah ditunggu dan sampai-sampai lapangan basket sudah penuh dikerumuni oleh siswa lainnya yang mau menonton aksinya.

Tentu saja kebanyakan gadis lain akan memilih lelaki sempurna seperti Arga, kan? Yang punya segudang prestasi di bidang akademik, mantan ketua OSIS, punya sopan santun dan pembawaan yang ramah. — (hlm.125)

Bukan hanya Arga yang jadi bintang lapangan. Ada pun Gilang yang merupakan sahabat baik Arga belakangan ini. Mereka ini tidak hanya teman sekelas di kelas XII, tapi juga sebagai sparing basket. Kebolehan Gilang mengolah bola basket tidak kalah jago dengan Arga. Bedanya, Arga banyak fans karena reputasinya sangat baik di sekolah. Sedangkan Gilang adalah salah satu siswa yang paling suka bolos.

Suatu kali saat Arga dan Gilang sedang tanding basket dan ditonton seluruh siswa, kaki Arga cedera sehingga Dinda yang anggota PMR langsung sigap membantu menangani cedera itu. Sebagai salah satu pengagum berat Arga, Dinda sangat senang karena dari peristiwa itu Arga mengenal dirinya aecara langsung dan berterima kasih atas bantuan dirinya. Dengan keberanian yang ia punya, Dinda menanyakan nomor telepon Arga pada Gilang.

Sejak perkenalan Arga dan Dinda, Arga semakin gencar mendekati Dinda. Bahkan menawarkan mau mengantar Dinda pulang yang ternyata dibawa ke rumahnya dulu dan dikenalkan pada mamanya. Bagai rezeki nomplok bagi Dinda dikarenakan Arga sepertinya suka padanya, ditambah mama Arga sangat welcome. Apakah ini jadi jalan mulus bagi Dinda untuk jadi pacar Arga?

Namun, suatu kali Dinda mendapat dua surat. Surat pertama berisi ajakan nonton film dari Arga, sedangkan satunya lagi adalah surat ancaman yang menyuruh Dinda menjauh dari Arga. Tanpa terlalu memikirkan ancaman itu, Dinda tetap pergi ke bioskop namun Arga sama tak muncul dan tak bisa dihubungi. Dinda pun pulang hampir tengah malam dengan motor dan diikuti oleh motor lain yang tampak mencurigakan. Satu-satunya yang terpikir olehnya saat itu untuk dihubungi dan membantunya keluar dari situasi mencekam ini adalah Gilang.

Sejak kehadiran dan bantuan Gilang pada malam itu malah memberi pandangan dan perasaan lain pada diri Dinda. Apakah itu hanya perasaan utang budi, atau jangan-jangan perasaan suka? Tapi, bukankah Dinda sukanya pada Arga? Benarkah ia jatuh cinta pada Gilang? Pada siapakah akhirnya Dinda memilih menambatkan hatinya?

LET’S PEEL IT…

Awalnya saya mengira bahwa dunia basket akan mengambil alih banyak porsi di novel ini. Bahkan tadinya saya memprediksikan bahwa di sini akan ada banyak pertandingan basket semisal turnamen antar sekolah dan semacamnya. Tapi, dugaanku salah besar dikarenakan telah terkecoh oleh kavernya yang ‘anak basket’ banget hehehe. Novel remaja yang satu ini masih mengusung genre romance dan persahabatan meski tetap ada unsur basketnya yang tidak begitu dominan.

Khasnya remaja dan anak muda, gaya bahasa yang dipilih oleh penulis di novel ini dengan sapaan “lo-gue” dan diksi yang mudah dipahami. Meski saya menemukan ketidak konsistenan pada tokoh Dinda yang kadang menyebut dirinya dengan kata “aku” tapi kadang juga menyebut “Dinda” untuk menyebutkan dirinya sendiri.

Untuk penokohan, pendeskripsian Dinda sebagai cewek yang ceria dan berani sudah cukup tersampaikan dengan baik. Saya salut pada karakter Dinda yang tidak menyimpan rasa dendam dengan siapa pun yang sudah berusaha menyakitinya. Dinda juga sangat sayang pada sahabat-sahabatnya. Kalau tokoh Arga, dia itu dibuat hampir sempurna. Agak sulit mencari kekurangannya apa, bahkan saya sendiri tidak menemukannya. Ganteng, baik, pinter, perhatian, jago basket, mantan ketua Osis, ramah, berwibawa, bijaksana, anak dokter, bagian dari keluarga yang bahagia, hmmm apa lagi ya? Is he too good to be true? Sedangkan untuk Gilang karakternya tuh dingin, misterius, jahil, cuek, tapi punya jiwa menolong yang sangat tinggi. Gilang rela lalukan apa saja demi melindungi orang lain, apalagi orang yang ia sayangi.

Namun, rasanya masih ada yang kurang dari para tokohnya, seperti masih ‘abu-abu’ buatku. Misalnya, apa hanya Arga yang jadi teman Gilang di sekolah? Sebabnya saya tak mendapati Gilang berinteraksi dengan cowok lain selain Arga. Benar tidak sih Gilang rajin bolos dan berpenampilan urakan? Kapan sih Arga bersikap ramah pada yang lain? Adakah momen di mana Arga bersikap bijaksana? Karena saya tidak merasakan itu selama membaca novel ini. Beberapa poin dari penokohan karakternya itu hanya dari ‘telling’, bukan ‘showing’.

Manusia memang layaknya bawang. Punya berlapis sisi tersembunyi yang akan terlihat jika telaten mengupas lapis demi lapis. — (hlm.74)

Konfliknya sudah bagus. Bukan hanya cinta segitiga dari tokoh-tokoh utamamya, namun disajikan juga masalah di keluarga Gilang dan persahabatan Dinda dkk. Kalau saya pribadi justru lebih tertarik dengan masalah di keluarganya Gilang yang melatarbelakangi karakter Gilang seperti sekarang. Hal itu yang membuatku paling penasaran karena penulis menyimpannya rapat-rapat sebelum semua terungkap dengan sendirinya menjelang akhir cerita.

Ada bagian yang kuduga penulis ingin membuat plot twist yang berkaitan dengan konflik persahabatan Dinda dkk. Entah itu memang ditujukan sebagai plot twist atau bukan. Kalau memang iya, sayangnya itu sudah mudah tertebak sejak halaman awal dikarenakan diksinya sangat ‘transparan’ dan gampang disimpulkan. Dan kalau pun tidak dimaksudkan sebagai plot twist, ya sayang juga karena di titik itu bisa menjadi kejutan besar jika saja bisa di-disguise lebih baik.

Secara keseluruhan, aku tetap suka cerita cinta segitiga ini. Konfliknya itu dibilang ringan nggak juga, berat pun tidak. Sedang-sedang saja. Aku yakin pembaca remaja pasti pada suka dan gregetan karena akan dibuat galau selayaknya Dinda dalam memilih Arga atau Gilang. Ada Arga yang serba sempurna dan membalas perasaan, tapi di sisi seberang ada Gilang yang misterius tapi perhatiannya minta ampun. Cewek abege mana yang nggak bingung, kan? 😆

FAVORITE QUOTES

“Semua pekerjaan pasti ada risikonya, Kak. Aku tahu jadi dokter itu memang berkaitan sama nyawa manusia. Makanya sejak putusin mau nempuh jalan ini, Dinda selalu serius buat belajar. Kita emang nggak bakal tahu apa yang terjadu di masa depan, tapi Dinda hidup buat masa sekarang. Khawatirin apa yang belum dan mungkin nggak bakal terjadi itu terlalu buang-buang waktu.” — Dinda (hlm.80)

Satu sahabat lebih berarti daripada ratusan teman, karena teman biasanya datang demi kebutuhan. Sahabat berbeda—dia akan selalu ada di sana, di saat terbaik atau pun terburuk. — (hlm.116)

Mendamaikan dua kubu bertikai memang tak pernah mudah. Jika pertikaian bisa gampang diakhiri, tidak akan ada perang berkepanjangan di dunia ini. — (hlm.116)

Dinda yakin apa pun masalahnya, selama mereka kau duduk bersama, mengeluarkan uneg-uneg, saling berlapang dada memahami situasi satu sama lain, semua permasalahan dapat diselesaikan tanpa mencederai persahabatan yang sudah lama mereka jalin. — (hlm.118)

Orang bilang, cara melupakan cinta yang sudah berlalu adalah dengan cara menjalani cinta yang baru. — (hlm.138)

Dinda bisa menyimpulkan bahwa dianggap tidak ada itu beribu kali lebih menyakitkan daripada terlibat adu mulut seperti tempo hari. Seakan kebersamaan yang sudah mereka berdua lalui tidak ada maknanya… — (hlm.152)

OVERALL RATING
★★★☆☆



PHOTO CHALLENGE

Seperti biasa, kalau di blog tour bersama penerbit Roro Raya Sejahtera pasti selalu ada photo challenge untuk setiap host-nya. Kali ini tantangannya – untungnya – nggak susah hehe. Host hanya diminta berfoto bersama novel THE PERFECT CATCH. And this is me with the book…



Setelah postingan resensi ini, akan saya buka postingan giveaway-nya yang selalu paling kalian tunggu. Sembari menunggu, kalian bisa mampir ke blog lain untuk ngepoin wawancara, resensi, dan giveaway-nya juga. Jadwal dan alamat blog mereka tertera di bawah ini.

7-16 Nov 2018 at this blog

23 – 26 OKTOBER 2018: AFIYATUL FUTHONA 
https://mybooklicious.blogspot.com

27 – 30 OKTOBER 2018: SINTIA ASTARINA
https://www.sintiaastarina.com

31 OKTOBER – 3 NOVEMBER 2018: SEFFI SOFFI
https://seffisoffi.blogspot.com

3 – 6 NOVEMBER 2018: FITRA AULIANTY
https://mydreamlandstories.blogspot.co.id

7 – 10 NOVEMBER 2018: AYA MURNING
https://murniaya.wordpress.com

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats