[BLOGTOUR] REVIEW Besali + GIVEAWAY

Kadang kita terluka bukan oleh orang lain. Tapi oleh pilihan-pilihan kita sendiri. (hlm. 41)

Ketika hujan reda menjadi gerimis lembut, Lohita sungguh tak menyangka secepat itu harus mengantar ayahnya ke pembaringan terakhir ayahnya. Seperti ibunya, tugas lelaki itu pun telah usai. Ia tahu, kewajibannya kini adalah mendoakan sebanyak-banyaknya. Tetapi, bukan hanya musim berbeda yang mengantar kepergian keduanya. Tidak seperti ibunya yang tak meninggalkan pesan apa-apa, ayahnya justru menuliskan permintaan yang membuatnya bimbang.

Surat itu lusuh dengan jelas tertuju padanya. Hanya namanya yang tertulis di sana, bukan nama kakak-kakanya. Kenyataan itu semakin menambah pilu hari berkabungnya. Sepanjang hidup Lohita bisa merasakan besar cinta ayahnya. Lelaki hebat itu memberinya kebebasan meski dengan batasannya. Tak menuntutnya meski mengatakan harapannya. Tak menghakiminya tetapi menunjukkan mana yang sebaiknya dilakukannya.

Satu-satunya permintaan ayahnya tertulis dalam surat dengan kalimat, ayah mohon yang bagi Lohita menjadi satu-satunya permintaan yang harus diwujudkan, namun sayangnya tidak mudah menjalankan wasiat lelaki yang dikaguminya itu.

“Tetapi Lohita. Ayah tidak melarang jika kau menemukan orang yang mampu dan kau percaya.” (hlm. 17)

Besali. Bangunan persegi itu berdiri dengan tiang besar di sudut-sudutnya. Atapnya dari genteng tanah, kehitaman. Dindingnya hanya separuh. Dicat setahun sekali dengan warna putih dan selalu kusam oleh cuaca serta cipratan-cipratan noda.

Sejak Lohita mengantarkan ayahnya ke pembaringan terakhir seminggu yang lalu, ia tahu, semua tak lagi sama. Suara palu, gesekan besi, cipratan api, berisik ampelas dan tawa ayahnya, bahkan aroma udara, seakan ditelan oleh keheningan yang pekat.

Sewaktu ibunya berpulang empat tahun yang lalu, dalam hari-hari berkabung, ayahnya mengatakan bahwa hidup dan mati seperti musim yang datang dan pergi, bisa lebih lambat atau lebih cepat. Tidak ada yang tahu, tak bisa diramalkan tapi sudah menjadi suatu kepastian.

“Jika ayah pergi dulu suatu hari nanti, kamu nggak perlu menabur bunga setiap hari Jumat. Ayah dan ibu hanya butuh doa.” (hlm. 19)

Bagi seseorang, kehilangan memang tidak mudah. Begitu juga dengan Lohita. Setelah kehilangan ibu, beberapa tahun kemudian ayahnya menyusul kepergian ibu untuk selama-lamanya. Hidup Lohita terasa makin sepi karena semua kakak-kakaknya telah menikah dan tinggal di luar kota. Ditambah lagi, ayahnya menuliskan pesan agar Lohita menjaga Besali, bukan pada kakak-kakaknya.

Lohita yang sebenarnya lebih menyukai aroma buku-buku dibandingkan suara besi dan api yang beradu, menjaga Besali bukanlah perkara mudah. Sampai tiga bulan, Besali tutup, sementara pelanggan tetap Besali sudah mulai menanyakannya.

Waktu baca blurbnya, langsung tertarik. Besali, sebuah tempat yang jarang terekspos. Sepertinya ini kali pertama baca novel bercerita tentang pande besi. Tak sembarang orang bisa menjadi pande besi, ada semacam ke-klik-an hati dengan pekerjaan ini. Sapta salah satunya, yang dulu bekerja di Besali, membantu ayahnya saat masih ada. Masalahnya adalah hubungan Sapta dan Lohita kurang hormanis karena suatu sebab. Jalan mana yang akan dipilih Lohita, menghubungi Sapta untuk meneruskan usaha ayahnya ini di Besali sesuatu amanat ayahnya itu atau mencari orang lain?

Meski tidak detail, kita akan mengetahui dunia pande besi lewat buku ini. Misal, tidak sembarangan menerima besi dari penadah, harus jelas sumber besi itu dari mana. Ada beberapa barang yang tidak boleh sembarangan dibuat. Dan yang pasti, sudah jarang sekali orang yang melakukan profesi ini. Bisa dikatakan profesi langka.

Tidak hanya seputar dunia besi, buku ini juga dipenuhi aroma-aroma buku. Lohita, memiliki sebuah toko buku kecil. Melayani pembelian secara langsung maupun online. Lohita tipikal menjalani bisnis sesuai yang ia suka alias hobinya memang suka membaca buku. Jadi, dia paham dengan buku-buku yang dijualnya. Misal, ada segerombolan anak berseragam abu-abu masuk ke tokonya. Mereka menanyakan buku-buku puisi, dan Lohita sebagai pemilik toko merekomendasikan beberapa puisi terjemahan. Dari Pablo Neruda, Rumi hingga syair-syair Arab. Dia juga memberi gambaran isi puisi Khrisna Pabichara, Taufiq Ismail, W. S. Rendra, Agus R. Sarjono, hingga Sapardi Djoko Damono.

Lewat toko buku miliknya inilah dia bertemu Rey, seorang rantauan ke kotanya, bekerja sebagai pegawai kontrak di suatu bank. Hampir setiap hari Rey mengunjungi toko bukunya. Tidak hanya sekedar mencari buku, tapi juga bercakap-cakap dengan Lohita yang juga didominasi membahas seputaran dunia buku. Meski pegawai bank, ternyata Rey juga mahir menciptakan puisi-puisi. Pantas saja followernya di instagram lumayan banyak, karena dia sering memposting kata-kata yang bikin baper. Sekarang ini, terutama beberapa tahun terakhir, memang lumayan banyak penulis yang menerbitkan buku lahir dari goresan tulisannya di sosmed. Jika dulu twitter menjadi medianya, kini beralih instagram berupa foto dan caption yang quotable sukses bikin baper followers terutama para remaja, hahaha… x))

Ada puisi yang ditulis untuk seseorang saja, tetapi banyak pembaca merasa bahwa itu dirinya. (hlm. 241)

Suka dengan gaya kepenulisan Mbak Shabrina Ws ini. Meski di awal terlihat kesedihan yang dialami tokoh utamanya, bukan berarti kita akan disuguhi hal-hal yang kelam melulu. Jika Rey suka bikin baper dengan perhatian-perhatiannya pada Lohita, Sapta juga sebenarnya memberikan perhatian-perhatian kecil yang tanpa disadari menunjukkan kepedualiannya pada gadis itu. Mengirimkan kacang goreng buatan neneknya saat Lohita dirundung duka meski akhirnya malah dimakan Kartika, hahaha.. x) ) Membawakan makanan bagi Lohita saat seharian nggak keluar rumah. Ada Kartika, teman sebelah ruko Lohita yang suka ngisengin Lohita. Juga ada nenek yang sederhana banget tapi ada beberapa pesan moral hidup yang diselipkan penulis lewat tokoh ini. Salah satunya adalah meski tak lagi muda, bukan berarti tak lagi berkarya. Dulu neneknya tiap hari berjualan di pasar, karena kakinya sudah tidak sanggup lagi berjalan jauh, Septa menyarankannya untuk berjualan goreng di rumah. Kebetulan rumah mereka dekat pantai yang lumayan ramai. Sebenarnya bisa saja Septa menghidupi segala kebutuhan nenek yang telah membesarkannya sedari kecil itu, tapi nenek tidak mau merepotkannya. Selagi masih sehat, nenek tetap melakukan aktivitas, meski sesekali Sapta membantunya menggoreng pisang, singkong dan bahan lainnya.

Penulisnya juga menyelipkan pesan agamis tanpa terkesan menggurui. Misalnya, Lohita sengaja memasang alarm waktu solat dengan suara ayahnya, agar solat bisa tepat waktu. Ayahnya juga pernah bilang, sesedikit apa pun membaca Alquran jangan lupa untuk membaca artinya. Supaya paham maksudnya. Biar kalimat-kalimat indah itu tidak berhenti di bibir saja.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Cinta sejati menjaga dengan caranya sendiri. (hlm. 11)
  2. Sebagian orang perlu waktu panjang, untuk mengerti apa yang sebelumnya sulit dipahami. (hlm. 15)
  3. Nggak perlu takut dan sedih siapa yang lebih dulu meninggalkan dan ditinggalkan. (hlm. 18)
  4. Ide puisi semacam datang tak diundang dan pergi nggak bilang-bilang. Butuh waktu lama untuk mengolahnya, sebelum menuangkan. (hlm. 38)
  5. Doa adalah tempat melabuhkan kekhawatiran-kekhawatiran. (hlm. 49)
  6. Sekali ditinggalkan kau bisa bilang rindu. Dua kali kehilangan, kau hanya mendekap sendirian perasaan pedihmu. (hlm. 55)
  7. Buku beda dengan makanan. Makanan sekali icip habis. Buku akan selalu menjadi buku baru bagi orang-orang yang pertama membacanya, meskipun telah dibaca puluhan orang. (hlm. 65)
  8. Kadang kebahagiaan bukan melulu hal-hal yang kau dapatkan. Tetapi juga tentang keberhasilan orang lain. (hlm. 69)
  9. Sering kenangan datang tak bilang-bilang. (hlm. 79)
  10. Kita merasa diburu pertanyaan-pertanyaan, padahal sering kali itu adalah bentuk perhatian. (hlm. 91)
  11. Besar atau kecil, saat kehilangan sama saja kehilangan. (hlm. 93)
  12. Sebagian yang pergi mungkin meninggalkan ruang kosong, tapi yakinlah Allah akan mempertemukan kita dengan ruang-ruang baru. (hlm. 97)
  13. Kau membangun jarak dengan prasangka hingga tak tahu bagaimana mencari jalan untuk kembali. (hlm. 115)
  14. Barangkali benar, musim tak pernah mengubahmu, carakulah yang berubah dalam memandangmu. (hlm. 131)
  15. Kalau seseorang berbuat baik padamu, kau juga harus berbuat baik padanya, pada keluarganya, menjaga nama baik mereka, dan bersikap baik pada tetangganya. (hlm. 211)
  16. Cinta tak menghitung jarak dan musim. (hlm. 223)
  17. Hal-hal dari masa lalu, sering kali baru kita syukuri di hari ini. (hlm. 233)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kau bukan nggak baik, kita hanya nggak dekat. (hlm. 26)
  2. Sebagian orang memilih memperhatikan diam-diam, sebagian lagi mengatakan terang-terangan. (hlm. 31)
  3. Tak ada yang abadi, selalu ada yang punah dan bertunas dari pergantian musim. (hlm. 109)
  4. Adakah yang lebih menyakitkan, daripada sebait puisi manis yang menyimpan duri? (hlm. 153)
  5. Selalu ada alasan untuk pergi, saat kau menyadari hanya berdiri sendiri di beranda yang rapuh. (hlm. 159)
  6. Yang lebih berat dari menerima adalah menjaga. (hlm. 167)
  7. Kau menuruti hak matamu untuk tidur tapi mengabaikan hak lambung. Itu namanya nggak adil. (hlm 177)
  8. Kadang baik dan buruk itu tak bisa hanya dilihat dari mata kita. Tetapi bagaimana sesuatu itu menjauhkan atau mendekatkan kita pada sang pencipta. (hlm. 179)
  9. Tidak seperti pernikahan, jatuh cinta tak bisa direncanakan. (hlm. 215)
  10. Ada yang lebih sakit daripada terluka, yaitu ketika kau secara sadar telah memberi luka. (hlm. 220)
  11. Hal-hal dari masa lalu, sering kali baru kita syukuri di hari ini. (hlm. 233)
  12. Seharusnya kau pergi saja. Nggak perlu meninggalkan kenangan. Apa namanya kalau buka egois, ingin tetap dikenang tapi pergi bersama orang lain. Kau menanggalkanku tetapi kau ingin ditunggalkan dalam ingatan. (hlm. 254)
  13. Nggak pernah nyambungin apa-apa, mau mutusin apa? (hlm. 255)
  14. Jangan melukai hatimu sendiri, dengan menyimpan bayang-bayang orang yang memilih pergi. (hlm. 259)
  15. Kau bisa menyusup gerimis di matanya, tanpa perlu melukai hatimu sendiri. (hlm. 267)
  16. Perpisahan dengan seseorang kadang menjadi perantara bertemunya dengan orang yang lain. (hlm. 268)
  17. Risau adalah cara jarak menyadarkanmu, bahwa telah ada musim-musim panjang yang kau abaikan. (hlm. 275)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Besali

Penulis                                 : Shabrina Ws

Penyunting                         : Avivah Ve

Penyelaras akhir               : Athena

Tata sampul                        : Amalina Asrari

Tata isi                                  : Vitrya

Pracetak                              : Wardi

Penerbit                              : Laksana

Terbit                                    : 2019

Tebal                                     : 292 hlm.

ISBN                                      : 978-602-407-560-6

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs @shabrinaws_ dan @Laksana_Fiction. Jangan lupa share dengan hestek GA #Besali dan mention via twitter. (jika ada twitter, nggak wajib)

3. Follow akun instagram @lucktygs @shabrina_ws dan @laksana_fiction (jika ada instagram, nggak wajib)

4. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

5. Tidak ada pertanyaan, cukup tinggalkan nama, akun twitter/instagram, dan kota tinggal di kolom komentar. Mudah bukan? 😉

GA #Besali  ini berlangsung 8-14 Juli 2019. Pemenang akan diumumkan tanggal 15 April 2019

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penerbitnya! ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats