BLOGTOUR INTERVIEW with WINDRY RAMADHINA: Penulisan SONG FOR ALICE dan Detail Menarik Lainnya!


...and now the blogtour is perfect, kalau kata saya~~ Maksudnya, blogtour nya sudah hampir tersempurnakan siklusnya karena tibalah giliran saya menyambut sebagai host juru kunci alias host penutup alias host terakhir dari rangkaian blogtour Song for Alice~~~

HAI, SELAMAT DATANG! Halo buat Anda yang baru pertama mampir ke A Book is a Gift, nama saya Risa, host ke-tujuh Song for Alice. Hai juga buat yang sebelumnya pernah mampir atau nyasar ke A Book is a Gift, semoga kalian semua sehat ya! Gimana kesan kalian yang sudah mengikuti blogtour dari host pertama? Gimana yang udah menang giveaway? Adakah yang masih penasaran sama Song For Alice? Hhee... saya rasa masih banyak sih yang penasaran banget pengen baca Song For Alice, apalagi ngedepetin bukunya gratis. Kalian datang ke blog yang tepat kok untuk itu, karena blog A Book is a Gift juga akan menyajikan setlist manggung, eh ngeblog maksudnya, yang sama dengan host-host sebelumnya. Akan ada interview (disini dan sekarang!), review, dannn GIVEAWAY!

Sabar dulu ya kalau kalian udah gak sabar banget pengin ikut giveaway dan menangin buku Song For Alice karena penasaran banget sama bukunya. Ijinkan saya terlebih dulu membagikan kepada kalian semua hasil sesi wawancara saya langsung dengan sang penulis, kak Windry Ramadhina.

WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; percaya atau tidak, mampu mendengarkan berbagai bentuk rock, yang paling keras sekalipun. Dia menulis fiksi sejak 2007. Buku-bukunya banyak bercerita tentang cinta, kehidupan, impian, dan harapan. Song for Alice adalah bukunya yang kesebelas.

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@gmail.com, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com

Saya kembali beruntung banget mendapat kesempatan untuk bisa ngepoin sosok penulis yang sudah saya kagumi sejak cukup lama ini //////. Menurut saya tulisan Kak Windry lekat dengan kesan elegan dan puitis nan aesthetic, kayaknya apapun yang ditulis Kak Windry jadi ada sihirnya tersendiri gitu deh dan saya bahkan baru baca satu buku beliau yang judulnya London: Angel (padahal Kak Windry sudah menulis sebelas buku termasuk Song For Alice), tapi sudah begitu berkesannya gaya menulis Kak Windry buat saya. Makanya, dipercayai penerbit Roro Raya Sejahtera untuk bisa menjadi host blogtour buku terbaru Kak Windry merupakan kehormatan yang sangat besar buat saya yang notabene hanyalah blogger buku seadanya~~ uwu.

Alhamdulillah banget dengan adanya kesempatan wawancara dengan Kak Windry, saya bisa menyampaikan kekepoan saya mengenai kepenulisan Song For Alice dan hal-hal lainnya. Apa aja sih hasil wawancara saya dengan kak Windry kemarin? Yuk disimak ya!


Interview Session with Kak Windry

"Song For Alice" Blogtour
hosted by K. R. Primawestri


K. R. Primawestri (KRP):
Song for Alice adalah buku ke-sebelas Kak Windry... bagaimana caranya selalu ada aja ide nya sampai bisa bikin sebanyak ini? Adakah hal baru tentang menulis yang bisa Kak Windry dapat dengan lahirnya buku ke -11 ini?

Windry Ramadhina (WR):
Sebenarnya, cerita-cerita saya selalu sederhana. Karena, ide-ide saya banyak datang dari hal-hal yang berada di sekitar saya dan hal-hal yang pernah saya alami atau lihat. Seperti, dunia arsitektur yang pernah saya pelajari, teman-teman dekat saya, kesukaan saya terhadap hujan, kepercayaan-kepercayaan saya, tempat-tempat yang saya datangi, juga dokumenter-dokumenter yang saya saksikan. Yang terpenting adalah menceritakan hal-hal tersebut lewat sudut pandang saya dan tahu bagaimana mengembangkannya menjadi novel.

Ada kalanya, saya juga berdiskusi dengan editor atau teman untuk menemukan ide-ide yang berbeda, yang tidak pernah terpikir sama sekali. Biasanya, dengan begini, akan lahir cerita yang lebih segar. Menulisnya pun akan memberi sensasi yang lain.

Hal baru tentang menulis yang saya temukan lewat Song for Alice, barangkali adalah penggunaan istilah-istilah musik untuk adegan bukan musik. Seperti, menggunakan "largo" untuk mengekspresikan tempo interaksi. Saya juga belajar menuliskan kehangatan musik rock saat ditampilkan di panggung pada bab pertama. Itu salah satu adegan yang memberi pengalaman menyenangkan, bagaimana saya mencoba mendeskripsikan suasana konser memengaruhi perasaan Arsen hingga akhirnya dia membanting gitar.

KRP:
Bagaimana Kak Windry mengembangkan cerita dan atau dua karakter utamanya, Arsen dan Alice saat awal-awal menggagas ide untuk Song For Alice ini? Mohon maaf untuk keawaman saya dalam kepenulisan, tapi kalau boleh tahu bagaimana prosesnya, apakah misalnya Kak Windry sudah menentukan rangkaian alur dan konfliknya setelah memvisikan sosok Arsen dan Alice, atau bagaimana? Seperti apa "arah" dari kisah Song For Alice ini sudah berkembang dari ide awalnya dan apa yang membuat Kak Windry merasa puas dengan itu sampai akhirnya diselesaikan menjadi naskah finalnya?

WR:
Sebelum memulai proses penulisan, saya selalu membuat perencanaan. Hal pertama yang saya tentukan adalah mempertajam ide. Saya menentukan tema besar cerita dan apa pesan yang ingin saya sampaikan lewat cerita itu, lalu seperti apa konfliknya. Baru kemudian saya menyusun plot dan mengembangkan karakter. Dua hal ini berjalan bersamaan karena saya percaya bahwa karakter tertentu hanya bisa dihadirkan untuk plot tertentu. Plot itu sendiri bergerak karena persinggungan antarkarakter, atau karena karakter mengambil suatu keputusan yang mewakili sifatnya. Jadi, seringnya saya melakukan analisis untuk menyusun plot dan mengembangkan karakter. Saya ingin cerita yang dihasilkan terasa nyata dan masuk di akal, sekaligus berhasil menyampaikan pesan cerita.

KRP:
Saya tergelitik untuk tahu kenapa Kak Windry memilih untuk membuat baik Arsen maupun Alice sebagai yatim-piatu, dan menonjolkan sosok Kakek sebagai figur orangtua bagi mereka. Mungkin ada alasan tersendiri untuk pengembangan karakter dan cerita mereka?

WR:
Di proses pengembangan ide, saya ingin menghadirkan dua tokoh yang tumbuh dan menjadi dewasa bersama, lalu jatuh cinta. Tetapi, saya ingin mereka lebih dari sekadar tetangga atau teman sekolah atau semacamnya. Saya ingin mereka hidup di satu rumah, sehingga keduanya memiliki ikatan emosi yang kuat. Karena itu, saya memutuskan mereka diasuh oleh orang yang sama, yaitu kakek Alice. Tentunya, harus ada alasan agar itu terjadi. Keduanya kehilangan orangtua.

Lalu, agar tetap ada ruang di antara mereka untuk memberi kesempatan cinta tumbuh, saya membuat mereka tinggal satu rumah, tetapi beda bangunan. Alice di bangunan utama bersama kakeknya. Arsen di bangunan tambahan di halaman belakang.

Pilihan kakek sebenarnya bisa saja digantikan menjadi paman atau bibi. Tetapi, untuk plot yang melibatkan sekolah musik, wali tunggal, dan warisan, saya melihat kakek adalah pilihan paling pas. Dan, sosok lelaki tua akan lebih nyaman untuk perkembangan psikologi Alice dan Arsen sendiri selama pertumbuhan mereka.

KRP:
Menarik juga melihat mayoritas karakter dalam buku berinteraksi dengan minim gaya bahasa "lo-gue" yang biasanya dianggap lazim di Jakarta, mengingat setting buku yang ada di daerah Jakarta dan sekitarnya. Ada alasan tertentu, mungkin, bagi Kak Windry untuk meminimalkan penggunaan gaya bahasa Jakartans itu?

WR:
Ini pilihan bahasa saja. Pada dasarnya, saya tidak menyukai penggunaan lo-gue dan tidak nyaman menggunakannya. Dalam kehidupan sehari-hari pun, saya jarang sekali (kalau bukan tidak pernah) menggunakan panggilan tersebut. Bagi saya, penggunaan aku-kau lebih umum, terutama untuk usia tokoh di cerita-cerita saya. Dan, pembaca saya tidak hanya dari Jakarta. Saya ingin cerita saya menjangkau lebih luas. Tema cerita dan gaya bertutur di novel saya pun lebih pas dengan penggunaan panggilan aku-kau.

KRP:
Lagu "Lyla", bagaimana akhirnya bisa dipilih untuk difitur dalam novel?

WR:
Pemilihan lagu "Lyla" berkaitan erat dengan pemilihan nama Alice. Hampir semua nama di Song for Alice berhubungan dengan rock. Saat mencari nama belakang Alice, saya teringat pada lagu Oasis tersebut. Saya memutuskan untuk menggunakannya. Di kamus, nama Lila (Lyla) sendiri sebenarnya berhubungan dengan nama pulau. Tetapi, lalu saya berpikir, alangkah manisnya jika kemudian Alice dan Arsen berdebat mengenai arti nama Lila. Arsen pasti akan menghubung-hubungkannya "Lyla" Oasis. Alice, karena dia tidak menyukai rock, akan marah dan bersikeras bukan itu arti dari namanya.



Nah, itulah dia hasil wawancara saya dengan Kak Windry, meski harus saya akui rasanya masih banyakk banget yang pengin dikepoin ke Kak Windry tentang Song For Alice, apalagi setelah nyelesaiin bacanya... huwaa kalian juga harus segera baca banget deh, karena saya merasa Kak Windry berhasil menyampaikan kisah yang penuh muatan berharga. Review saya di posting selanjutnya akan mengungkapkan lebih jelas seperti apa pengalaman membaca saya, dan saya harap bisa memberikan gambaran pengalaman membaca yang lengkap buat kalian. Terima kasih sudah menyimak sampai di sini ya! Sampai ketemu di posting berikutnya!
 


Simak semua posting di rangkaian blogtour Song For Alice ya~~


20 – 22 OKTOBER 2018 2018: ORINTHIA LEE

23 – 25 OKTOBER 2018: LUCKTY GIYAN SUKARNO

26 – 28 OKTOBER 2018: PUTU RINI CIPTA RAHAYU

29 – 31 OKTOBER 2018 : MELANI I. S

1 – 3 NOVEMBER 2018: AINI EKA

4 – 6 NOVEMBER 2018 2018: ILMI FADILLAH

7 – 9 NOVEMBER 2018 2018: KHAIRISA RAMADHANI PRIMAWESTRI

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats