[Blog Tour] Review: Rain Sound

Judul: Rain Sound
Penulis: Vachaa
Editor: Prisca Primasari
Proofreader: Rinandi Dinanta
Desainer sampul: Ade Ismiati Hakimah
Penata letak: Ade Ismiati Hakimah
Tebal: 256 halaman
Terbit: Juni 2018
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
ISBN: 978-602-51290-8-7
Harga: Rp 73.000
Keterangan: Novel remaja (13+), romance, wattpad


TAGLINE

Perempuan itu takut akan hujan.
Lelaki itu mencintai hujan.
Bersama takdir, hujan mampu menyatukan dua hati...
Juga memisahkan mereka


B L U R B

Tahukah kamu, hujan turun karena awan tak sanggup lagi
menahan air yang membebaninya?
Begitu juga alasan orang menangis
karena tak sanggup lagi membendung emosi dan luka
yang menyesaki hatinya.

Aku tak mungkin bisa membenci hujan
karena hanya dia yang paling mengerti kesedihanku.
Hujan menemaniku saat menangisi kepergianmu.
Menyembunyikan air mataku di balik derasnya.

Ketika perlahan derainya berubah jadi rintik-rintik gerimis,
aku berjanji akan merelakanmu.
Aku menyangkal diri, tentu saja.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan begitu saja
orang yang pernah membuatku teramat bahagia?


Baca juga: Interview bersama Vachaa

R E V I E W

Ada dua orang yang berhubungan erat dengan hujan. Salah satunya membenci dan yang lainnya menyukai, kedua sifat bertolak belakang itu bertemu, mengisahkan cerita yang bermula kala hujan menyapa.

Gilang bertemu dengan Pelangi saat hujan turun. Ketika itu koridor sudah sepi karena orang-orang sudah pulang dari sekolah. Gilang mendengar suara dari kelas X-3 dan menyadari kalau Pelangi ketakutan mendengar suara hujan. Ia pun meminjamkan meminjamkan headphone miliknya ke adik kelasnya itu lalu perkenalan mereka dimulai.

Pelangi menyukai Gilang yang tak lain adalah kakak kelasnya sekaligus anggota tim basket sekolah. Ia sering mengikuti Gilang diam-diam dan mengetahui tempat persembunyian Gilang. Namun ia tak menyangka bisa berbicara langsung dengan kakak kelasnya itu. Di saat Pelangi merasakan kegembiraan karena ia bisa dekat dengan Gilang, hujan membawa keduanya pada masa lalu yang saling berhubungan.

"Mmm--" Pelangi menunduk. "Makasih ya, Kak."
Gilang tertawa. "Lo kenapa? Aneh banget."
Gadis itu mendongak, menatap Gilang sebal. "Ih, biasanya di film-film kalo cewek dianterin pulang pasti reaksinya gitu, tau!"
"Tapi kita nggak lagi main film, kan?"
"Tau, ah." Pelangi mengibaskan sebelah tangannya. "Pulang sana!"
"Kalo di film-film nggak ada tuh cewek yang ngusir cowoknya pulang," ujar Gilang.
"Tapi Kak Gilang bukan cowok aku."
"Secara teknis, di sini gue berperan sebagai cowok lo."
"Berperan?" Pelangi tertawa. "Tapi kita kan nggak lagi main film."
Gilang ikut tertawa. Pelangi berhasil memutarbalikkan kata-katanya.
(halaman 92-93)
-----


Kebanyakan novel mengisahkan tentang orang-orang yang hanya menyukai hujan karena memang menyukainya begitu saja. Namun tidak untuk kedua tokoh utama dalam novel ini. Hujan bagi mereka adalah 'alasan pasti', entah untuk menunggu atau untuk merasa ketakutan. Adegan penting dalam cerita berkaitan dengan hujan. Saya merasa judul Rain Sound sendiri cocok untuk menggambarkan keseluruhan cerita.

Gaya bahasa yang dipakai penulis di buku ini pun manis dan menyenangkan, saya sampai tidak bisa berhenti membacanya. Sesuai dengan rating buku yang tertulis di sampul belakang buku, adegan di dalam novel ini pun khas remaja sekali. Pelangi yang ceria dan Gilang yang sedikit pendiam. Kisah kedua orang itu diwarnai dengan kejadian-kejadian lucu yang terjadi di sekolah, gosip antar teman-teman dan kegiatan di sekolah, dan banyak hal lainnya.

Konflik utama dalam novel ini sebenarnya sangat umum. Namun epilog yang dipakai membuat novel ini sedikit beda dari yang lain, menjadikan kisah ini jadi memiliki twist yang sedikit berbeda dan menyegarkan.

Overall, novel ini cocok dibaca bagi penyuka cerita ringan yang menyenangkan.





PHOTO CHALLENGE


Pasrah saya fotonya indoor

Setelah postingan ini ada giveaway novel Rain Sound, lho! Ditunggu, ya...

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats