Blog Tour: Erstwhile + Giveaway

Judul : Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu
Pengarang : Rio Haminoto
Penerbit: Koloni (imprint M&C!)
Tahun : 2017

Bicara soal artefak, aku teringat sebuah obrolan dengan rekan kerja yang amat suka sejarah. Ia sedang menggandrungi majalah dan koran zaman dahulu. Katanya, ia membeli dari salah satu pelapak daring yang ada di media sosial. Katanya, harga untuk satu koran lawas sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Nilai yang fantastis untuk lembaran yang maksimal hanya empat halaman saja. Ia pun bercerita bagaimana alur barang-barang lama itu sampai ke tangannya. Sebagian besar berasal dari kantor arsip daerah yang sudah mendigitalisasikan majalah dan koran sehingga mereka tidak memerlukan bentuk fisiknya lagi. Ada oknum pengepul yang mengumpulkan barang-barang itu dan dijual dengan harga murah. Kemudian, ada para pedagang yang membeli dan menjualnya kembali dengan nilai yang lumayan merogoh kocek. Hal ini terlihat ironis namun memang begitu realitasnya.

Aku membicarakan barang-barang lawas karena mungkin dalam beberapa puluh bahkan ratus tahun mendatang akan menjadi begitu berharga. Itu mirip seperti artefak yang menjadi incaran para kolektor dan banyak oknum yang meraup keuntungan dari hasil lelang. Satu hal yang pasti: semakin berumur barang-barang itu, semakin mahallah harganya. Ini yang terjadi ketika Raphael Harijono atau biasa dipanggil Rafa yang begitu menggemari artefak. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang masa kejayaan Kerajaan Majapahit melalui artefak-artefak yang dimilikinya.

Sudah dapat ditebak bahwa buku ini adalah fiksi yang menyatukan romansa dengan sejarah. Tak hanya itu, kisah ini pun dibalut dengan sedikit sentuhan fiksi ilmiah yaitu dengan perjalanan waktu. Dibawakan dengan dua sudut pandang berbeda, buku ini memberikan sentuhan berbeda dalam sebuah karya fiksi historis. Sudut pandang pertama dibawakan oleh Picaro Donevante dengan latar zaman tahun 1300-an dari Paris di benua biru sampai tanah nusantara. Picaro menggunakan sudut pandang orang pertama. Sudut pandang kedua dibawakan oleh Rafa dengan latar masa kini dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Perbedaan yang mencolok ini memberikan angin segar pada cerita dan menurutku malah membuatnya tidak membosankan. Itu yang penting bagi sebuah karya fiksi historis yang memerlukan banyak narasi dalam setiap penjelasannya.

Aku membaca versi terbitan awal karena ada kendala dalam pembagian versi terbaru yang diterbitkan oleh Koloni. Namun, sang editor bilang tidak banyak pembaruan dan hanya fokus pada pembetulan saltik. Aku sedikit terganggu akan hal itu pada cetakan awal ini. Bahasa yang dibawakannya pun terlalu dibuat-buat dan tidak mulus. Amat disayangkan bila hal-hal seperti ini terjadi di cetakan terbarunya. Ceritanya pun terasa begitu penuh. Benturan antara sejarah Majapahit yang sedikit diimprovisasi dengan fiksi romansa dicampur dengan latar masa lalu Picaro dengan sejarah Prancis-nya membuat terkesan sedikit membingungkan. Untung saja, alurnya terbilang cepat sehingga setebal apa pun cetakannya pasti akan ingin cepat-cepat dihabiskan. Satu lagi karya fiksi yang mumpuni! Tidak salah bila Koloni ingin menerbitkannya kembali.


Aku sempat melempar gambar cetakan awalnya melalui media sosial dan beberapa teman berpendapat bahwa sampul versi itu masih lebih memukau ketimbang versi terbaru dari Koloni yang hanya menggunakan dua warna saja. Aku mafhum tentang penerbit yang menghilangkan sebagian sketsa yang terdapat pada sampul cetakan awal karena ada simbol-simbol agama tertentu. Tapi mungkin permainan warna pun seharusnya lebih ditonjolkan lagi. Disayangkan bila cerita yang begitu kaya tidak memberikan ketertarikan dari sampulnya. Toh, bagaimanapun juga, masih banyak orang yang menilai buku dari sampulnya. Aku salah satunya.

Akhir kata, buku ini bisa menjadi alternatif bagi para pembaca fiksi yang ingin mengenal lebih lanjut secuplik sejarah tentang Majapahit dan Gajah Mada. Dengan tambahan kisah romansa yang kental, buku ini juga bisa menyasar ke segmen pembaca yang gemar kisah cinta. Oh, ada satu pesan dari si cantik pasangan Picaro, SolĂ©ne de Morency.

"Saya suka orang yang membaca karena mereka bagaikan laut dalam yang harus diselami untuk dapat melihat keindahannya dan tak akan pernah ada batas untuk berhenti. Tidak seperti pantai dangkal yang walau jernih dan indah dengan karang dan ikan-ikan kecil berwarna, segalanya terbatas dalam lingkup yang jelas."


Giveaway!

Bagaimana? Sudah begitu tertarik dengan "Erstwhile" karya Rio Haminoto? Aku bersama penerbit akan membagikan satu kopinya untuk kamu yang beruntung. Caranya mudah sebagai berikut.

1. Ikuti "Ough, My Books!" via Google Friend Connect (GFC). Ikuti akun media sosial penerbit Koloni di fanpage Facebook Koloni dan Instagram @kolonipublishers.
2. Bagikan tautan giveaway ini via akun media sosialmu dengan mention akun di atas.
3. Apa yang kamu ketahui tentang Majapahit? Berikan jawaban serta alasanmu pada kolom komentar dengan menyertakan Akun Twitter, kota domisili, dan tautan share tweet kamu ya!
4. Giveaway ini berakhir pada 23 Juli 2017. Pengumuman pemenang paling lambat 3 hari setelahnya.

Semoga beruntung!

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats